Langit di atas Sofia, Bulgaria, tidak pernah terlihat sekelabu sore ini. Awan-awan rendah menggantung berat, seolah-olah mereka adalah beban dosa yang enggan diangkat oleh bumi. Di bawahnya, Katedral Alexander Nevsky berdiri dengan megah—kubah emasnya yang biasanya berkilau menantang matahari, kini tampak kusam tertutup lapisan es tipis dan kabur oleh kabut musim dingin yang menggigit.
Elena berdiri di sudut trotoar, sekitar seratus meter dari pintu utama katedral. Ia mengenakan mantel wol tua berwarna cokelat tua yang sudah mulai menipis di bagian siku. Syal panjang melilit lehernya, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya dibandingkan setahun yang lalu. Di balik syal dan mantel itu, Elena menyembunyikan sebuah identitas yang bagi mayoritas penduduk di sini adalah sebuah anomali: sebuah hijab sederhana yang ia lilitkan dengan tangan gemetar sebelum keluar rumah.
"Dingin sekali," bisiknya. Suaranya hilang ditelan deru angin yang membawa kristal-kristal salju.
Elena memandangi orang-orang yang berjalan terburu-buru melewatinya. Ada sepasang kekasih yang tertawa sambil saling mendekap, ada seorang ibu yang menarik tangan anaknya agar cepat masuk ke dalam mobil, dan ada sekelompok turis yang sibuk berfoto. Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh padanya. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa wanita muda dengan mata biru yang redup itu sedang membawa beban dunia di pundaknya.
Ia meraba saku mantelnya, menemukan sebuah tasbih kayu kecil yang butirannya mulai halus karena sering disentuh. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Zikir itu adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki di tengah suhu minus lima derajat ini.
Setahun yang lalu, Elena adalah bagian dari keriuhan itu. Ia adalah arsitek muda berbakat yang masa depannya diprediksi akan secemerlang kubah katedral itu. Namun, sebuah perjalanan spiritual yang tak terduga—yang dimulai dari sebuah buku tua di perpustakaan kota tentang sejarah Andalusia—membawanya pada sebuah pintu yang tak pernah ia sangka: Islam.
Ketika ia melangkah masuk ke pintu itu, pintu-pintu lain di hidupnya tertutup dengan dentum yang keras.
"Pengkhianat," itulah kata terakhir yang diucapkan ayahnya sebelum mengemas semua barang Elena ke dalam kardus dan meletakkannya di depan pintu rumah. ibunya hanya menangis di balik pintu, tak berani membela. Teman-teman kantornya mulai berbisik di belakang punggungnya, menyebutnya telah "dicuci otak" oleh radikalisme. Dalam waktu singkat, Elena menjadi orang asing di tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Salju mulai turun lebih lebat. Elena menunduk, menatap sepatu botnya yang sudah mulai merembes air es. Ia merasa seperti debu. Jika salju ini menimbunnya hingga ia tak lagi terlihat, apakah akan ada yang mencarinya?
Ia teringat percakapannya dengan seorang imam di masjid kecil di pinggiran Sofia beberapa bulan lalu.
"Elena," kata imam itu dengan suara lembut, "Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu."
"Tapi, Imam," suara Elena bergetar dalam ingatannya, "menjadi asing itu sangat sakit. Terkadang aku merasa jika aku mati besok, dunia tidak akan kehilangan apa-apa. Aku hanya angka yang akan dihapus dari catatan sipil tanpa ada yang meneteskan air mata."
Imam itu hanya tersenyum sedih. "Mata manusia terbatas, Elena. Tapi Allah melihat setiap tetes air mata yang jatuh di atas sajadahmu."
Kini, di depan katedral yang menjadi simbol kejayaan masa lalunya, Elena merasakan sesak di dadanya. Rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk ulu hatinya—rasa sakit fisik yang akhir-akhir ini sering muncul dan membuatnya terbangun di tengah malam. Ia meremas tasbihnya lebih kuat.
Ia melihat bayangannya sendiri di kaca sebuah kafe pinggir jalan. Sosok wanita yang tampak rapuh, layu, dan tak berarti. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Jika aku mati di kota ini, apakah Sofia akan tetap cantik? Apakah burung-burung merpati di alun-alun tetap akan terbang dengan riang?
Jawabannya adalah: Ya. Dunia akan terus berjalan. Matahari akan terbit di ufuk timur Sofia, toko roti akan menyebarkan aroma banitsa yang sedap, dan orang-orang akan tetap mengeluh tentang politik tanpa pernah tahu bahwa ada seorang hamba Allah bernama Elena yang pernah berjuang menjaga imannya di sini.
"Aku hanyalah debu," lirihnya lagi.
Air mata yang hangat mengalir di pipinya, namun segera membeku menjadi kristal es kecil karena udara yang sangat dingin. Elena memutar tubuhnya, meninggalkan pemandangan katedral yang megah itu. Ia melangkah menuju apartemen sempitnya yang sunyi, membawa serta kesendiriannya yang kian berat. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, pertanyaan-pertanyaannya tentang keberartian diri akan dijawab oleh takdir dengan cara yang paling menyakitkan, sekaligus paling indah.
Sore itu, salju terakhir di Sofia seolah ingin mengubur semua jejak kaki Elena, seakan mengonfirmasi ketakutannya: bahwa kehadirannya memang tak pernah dianggap ada.
Optimasi SEO untuk Pembaca:
Jika Anda tersentuh dengan bab pertama ini, bagikan kisah Elena kepada mereka yang sedang merasa kehilangan arah. Untuk referensi sejarah Sofia atau kehidupan Muslim di Bulgaria, Anda bisa menelusuri artikel di Wikipedia - Islam in Bulgaria atau melihat keindahan arsitektur Sofia di Visit Sofia.
