Sakit kepala Lev berangsur mereda, digantikan oleh kebingungan eksistensial yang luar biasa. Dia bukan lagi Muhammad Lev Ryley di Banjarmasin; dia adalah seorang kadet tak dikenal di Balamb Garden, sebuah akademi militer swasta elit di dunia Final Fantasy VIII.
"Namaku... namaku Lev Ryley. Asal... dari Banjarmasin," jawab Lev terbata-bata, masih mencoba mencubit tangannya yang terasa kaku dan berpoligon rendah. Ternyata ini bukan mimpi.
Quistis Trepe, instruktur muda yang usianya hanya beberapa tahun di atas Lev, menatapnya dengan alis bertaut. "Banjarmasin? Wilayah mana itu? Aku belum pernah dengar ada kota bernama itu di Galbadia atau Esthar."
Squall Leonhart, sang protagonis dengan ekspresi permanen 'mager' (malas gerak), hanya mendengus pelan. "Mungkin dia dari desa terpencil. Whatever."
"Aku dari Indonesia! Di bumi!" Lev mencoba menjelaskan, tapi sadar usahanya sia-sia. Mereka ini karakter game, mana mungkin paham geografi dunia nyata.
Quistis beralih ke ekspresi instruktur profesional. "Baiklah, Lev. Kau kadet baru. Kau pingsan tepat sebelum Ujian SeeD dimulai. Kau beruntung kami menemukanmu. Cepat ganti bajumu dan menuju Assembly Room. Briefing akan segera dimulai."
Lev melihat seragam militer Garden yang disodorkan padanya. Dia menelan ludah. Seragamnya terbuka di bagian dada—sedikit kurang sopan menurut standar Banjarmasin.
"Ehm, instruktur Quistis," kata Lev hati-hati, "maaf, apa... apa tidak ada seragam yang lebih tertutup? Aurat saya terbuka ini."
Quistis menatapnya bingung. "Aurat? Apa itu? Ini seragam standar Garden. Didesain untuk mobilitas maksimum saat bertempur."
"Tapi ini bagian dadanya terlalu rendah," rengek Lev, merasa risih. "Di agama saya, kami harus menutup tubuh dengan rapi."
Squall, yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. "Kalau kau banyak protes, kau akan dikeluarkan sebelum ujian dimulai. Cepat pakai seragamnya, atau tinggal di infirmary selamanya."
Lev menghela napas pasrah. Dia berada di dunia game. Standar etika berpakaian jelas berbeda. "Baiklah, bismillah, darurat," gumamnya sambil menerima seragam itu. Dia memakainya dengan cepat, merasa canggung dengan bahan seragam yang terasa aneh di kulitnya.
Di Assembly Room, suasana tegang. Ratusan kadet berkumpul, mendengarkan arahan dari Headmaster Cid Kramer. Lev berdiri di barisan belakang, mencoba menyerap informasi tentang Ujian SeeD yang akan mereka jalani di kota Dollet. Pikirannya masih melayang antara misi ini dan lontong sayur buatan ibunya.
Setelah briefing, semua kadet menuju kantin untuk makan siang terakhir sebelum berangkat. Di sinilah dilema terbesar Lev muncul: makanan.
Kantin Balamb Garden adalah fasilitas modern dengan berbagai pilihan hidangan yang terlihat lezat—daging panggang, pasta, dan berbagai minuman bersoda berwarna-warni. Namun, sebagai seorang Muslim yang taat (setidaknya saat di dunia nyata), Lev dihadapkan pada pertanyaan krusial: Halal atau Haram?
Dia melihat menu daging yang mengepul. "Permisi, pelayan," panggil Lev pada seorang NPC (Non-Playable Character) pelayan kantin.
"Ya, kadet? Mau pesan apa?"
"Daging ini... disembelih sesuai syariat Islam, nggak?" tanya Lev dengan wajah serius.
Pelayan NPC itu menatap Lev dengan mata kosong khas karakter game. "Ini adalah daging monster Galbadian pilihan, diolah dengan teknologi modern. Sangat bergizi."
Lev mengucek matanya. Tentu saja NPC tidak akan tahu soal syariat. Dia beralih ke opsi lain. "Kalau minuman ini? Ada alkoholnya?"
"Minuman energi Garden. Nol persen alkohol, 100 persen stamina," jawab pelayan itu.
"Alhamdulillah," Lev merasa sedikit lega. Setidaknya minuman aman.
Akhirnya, Lev hanya memesan sepiring pasta tanpa daging dan minuman energi. Dia duduk di meja sendirian, mengamati interaksi antara Squall dan teman-temannya. Di dunia nyata, Lev adalah jomblo akut. Di dunia game, dia dikelilingi karakter-karakter keren, tapi dia tetap merasa terasing.
"Hei, kau Lev kan? Yang dari 'Banjarmasin' itu?" Rinoa Heartilly, gadis ceria dan lincah yang bukan kadet Garden (dia anggota faksi perlawanan Forest Owls), mendekati meja Lev. Entah dari mana dia tahu nama Lev.
Lev tersedak minumannya. "Iya, aku Lev."
"Kau terlihat tegang. Ujian SeeD memang menakutkan, tapi kau pasti bisa! Aku Rinoa," katanya sambil mengulurkan tangan.
Lev menjabat tangan Rinoa dengan sedikit canggung, berusaha menjaga pandangannya. "Makasih, Rinoa. Insyaallah."
Interaksi singkat itu sedikit mencairkan suasana hati Lev. Mungkin dunia game ini tidak seburuk itu. Setidaknya orangnya ramah, tidak seperti Squall yang irit bicara.
Tak lama kemudian, sirene berbunyi. Tanda keberangkatan menuju Dollet. Lev meneguk habis minumannya, mengencangkan sabuk seragamnya yang masih terasa aneh, dan berjalan menuju tempat berkumpul.
Di Banjarmasin, keluarganya sedang menggelar pengajian untuk kepulangannya. Di dunia FF8, Lev Ryley, sang gamer Muslim dari Indonesia, bersiap untuk Ujian SeeD pertamanya. Dia tidak tahu apakah dia akan bertemu Lailatul Qadar di dunia ini, tapi dia tahu dia harus bertahan hidup dengan iman di dunia fantasi yang penuh sihir dan monster.
