Pertemuan kembali Vania dan Lev di ruang guru, kini dalam kapasitas profesional, memicu gelombang kecanggungan yang tak dapat disembunyikan Vania. Ia berusaha keras menjaga sikap formal, tapi setiap kali Lev tersenyum, atau pandangan mata mereka bertemu, Vania merasa semua usahanya sia-sia. Mia dan Sarah, tentu saja, memanfaatkan situasi ini sebagai hiburan pribadi mereka.
"Lihat tuh, Van. Senyumnya Lev. Kayak lagi senyumin pacar, ya?" bisik Mia, saat Lev sedang berbicara dengan kepala sekolah di koridor.
"Itu senyum profesional, Mia. Jangan mengada-ada," jawab Vania, meskipun dalam hati ia merasa deg-degan.
"Profesi apa yang butuh lesung pipi senyum begitu?" Sarah menimpali. "Dia kayaknya beneran suka sama kamu, Van. Tinggal tunggu dia melamar kamu di depan kelas 3B."
"Ya Allah, Sarah!" Vania merasa ingin menjitak kepala kedua sahabatnya.
Sementara itu, di sebuah kantor yang elegan dengan pemandangan kota Banjarmasin dari lantai atas, Lev Ryley sedang berbicara dengan asistennya. Asistennya, seorang wanita muda bernama Diana, tampak kebingungan.
"Jadi, Pak Lev benar-benar akan tinggal di Banjarmasin selama beberapa bulan? Bagaimana dengan proyek di Jakarta?" tanya Diana.
"Proyek di Jakarta bisa saya tangani dari sini. Kebetulan, saya ada proyek pengembangan sekolah di sini," jawab Lev. "Lagipula, anak saya Naufal juga sudah mulai sekolah di sini."
"Oh, begitu," Diana mengangguk, masih merasa aneh. Lev, seorang pengusaha sukses yang biasanya sibuk keliling dunia, kini rela tinggal di Banjarmasin hanya karena proyek sekolah dan anaknya.
"Ada lagi, Pak Lev?"
"Iya," Lev tersenyum tipis. "Carikan saya informasi tentang seorang guru di sana. Namanya Vania Larasati. Dia guru teladan."
"Guru teladan? Ada apa, Pak Lev?" Diana bingung.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang rekan kerja saya," jawab Lev, yang sebenarnya tidak ingin Diana tahu alasan sebenarnya.
Diana hanya mengangguk patuh. Ia tahu, jika Lev sudah punya keinginan, tidak ada yang bisa menghalanginya. Ia pun mulai mencari informasi tentang Vania.
Lev kembali ke sekolah. Ia melihat Vania sedang duduk sendirian di taman sekolah, membaca buku. Lev menghampirinya.
"Sendirian, Bu Vania?" tanya Lev.
Vania terkejut. "Pak Lev? Eh, iya. Saya sedang menunggu jam pulang."
"Boleh saya temani?" Lev duduk di bangku di samping Vania, menjaga jarak agar Vania tidak merasa tidak nyaman.
"Tentu," Vania tersenyum. "Anda sudah selesai dengan urusan Anda?"
"Sudah," Lev mengangguk. "Bagaimana dengan Anda? Sudah siap untuk mengajar besok?"
"Insya Allah," jawab Vania.
"Saya lihat Anda sangat dekat dengan murid-murid Anda," Lev memulai pembicaraan. "Saya lihat Naufal sangat senang di kelas Anda."
"Naufal memang anak yang baik. Cuma agak usil saja," Vania tertawa.
"Iya, saya tahu. Dia memang usil," Lev ikut tertawa. "Tapi, dia memang anak yang cerdas."
"Anak Anda, ya?" Vania bertanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Lev.
"Iya. Naufal itu anak angkat saya," Lev berkata, suaranya melembut.
Vania terkejut. "Anak angkat?"
"Iya. Dulu saya temukan dia di panti asuhan. Ayahnya meninggal, dan ibunya tidak sanggup merawatnya. Jadi, saya adopsi dia," Lev menjelaskan. "Saya sudah anggap dia seperti anak kandung saya sendiri."
Vania merasa terharu. Ia menatap Lev dengan pandangan berbeda. Pria yang ia kira hanya pengusaha mapan yang sombong, ternyata memiliki hati yang tulus.
"Anda pria yang baik, Pak Lev," kata Vania.
Lev tersenyum. "Tidak juga. Saya cuma mencoba menjadi orang tua yang baik untuk Naufal."
"Tunggu, tadi katanya Anda konsultan, tapi kok sekarang jadi pengusaha? Yang mana yang benar?" tanya Vania.
"Saya punya perusahaan sendiri. Konsultan itu salah satu pekerjaan saya," Lev menjelaskan. "Jadi, saya punya kehidupan ganda. Satu sebagai pengusaha, satu lagi sebagai ayah."
Vania hanya mengangguk. Ia merasa semakin tertarik dengan Lev. Ia tidak menyangka pria di depannya ini memiliki banyak sisi yang menarik.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Lev. Sampai ketemu besok," Vania bangkit dari bangkunya.
"Sampai jumpa, Bu Vania," Lev tersenyum.
Vania berjalan pulang dengan perasaan berdebar. Ia merasa Lev bukan hanya pria misterius, tapi juga pria yang baik hati dan penyayang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa bersikap profesional di depan Lev, dan semoga ia tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu Lev Ryley.
