Suasana Subuh di Amuntai, Kalimantan Selatan, memiliki magis tersendiri. Udara dingin yang membawa uap air dari rawa-rawa Hulu Sungai Utara seolah merasuk hingga ke tulang, memaksa siapa pun untuk mengeratkan sarung atau mukenanya. Namun, bagi dr. Eva dan dr. Dina, azan yang berkumandang dari Masjid Raya At-Taqwa bukan sekadar penanda waktu shalat, melainkan garis start bagi maraton kehidupan domestik mereka yang kontras.
Dr. Eva Nurhaliza sudah terjaga sejak pukul tiga dini hari. Baginya, sepertiga malam terakhir adalah waktu terbaik untuk melakukan "detoksifikasi spiritual". Setelah menuntaskan tahajud dan tilawah, ia tidak langsung menuju ke dapur, melainkan ke halaman samping rumahnya. Di sana, di bawah sorotan lampu taman yang temaram, dr. Eva memeriksa instalasi hidroponiknya. Dengan telaten, ia mengecek kadar pH air dan nutrisi untuk tanaman kangkung dan pakcoy-nya. Bagi Eva, memanen sayuran sendiri bukan sekadar hobi, melainkan upaya memastikan bahwa apa yang masuk ke perut keluarganya benar-benar thayyib (baik) dan bebas pestisida kimia.
"Mas Firman, jangan lupa air hangatnya dihabiskan dulu," bisik Eva lembut saat melihat suaminya berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Di atas meja makan, Eva sudah menyiapkan "amunisi" pagi: potongan buah naga yang ditaburi bubuk kayu manis dan segelas besar air rendaman kurma (nabeez) yang telah ia siapkan sejak semalam, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Namun, ketenangan pagi dr. Eva mulai terusik saat ia mendengar suara gerbang sebelah rumah berderit. Itu adalah suara gerbang rumah dr. Dina.
Di rumah nomor 13, dr. Dina Anjani baru saja menyelesaikan zikir paginya dengan kecepatan tinggi. Ia memiliki tantangan yang jauh lebih besar pagi ini: menyiapkan bekal untuk tiga orang anak yang selera makannya sebuas macan lapar. Jika di rumah Eva suasananya hening seperti di perpustakaan, di rumah Dina suasananya seperti di belakang panggung konser rock.
"Pak Lukman! Itu kompornya dikecilkan, jangan sampai cempedaknya gosong!" teriak Dina dari dalam kamar sambil membetulkan jilbabnya.
Pak Lukman, suami Dina yang penyabar, sedang bertugas di dapur. Pagi ini, mereka mendapat kiriman buah cempedak ranum dari kerabat di daerah Alabio. Bukannya dikukus atau dimakan segar, Dina memilih untuk menggorengnya dengan tepung terigu, gula pasir, dan sedikit garam agar menjadi sanggar cempedak yang krispi dan berminyak. Aroma manis dan gurih dari cempedak goreng itu langsung menguar, terbang melewati pagar, dan masuk tanpa izin ke lubang hidung dr. Eva yang sedang asyik memanen selada.
Eva tertegun di antara barisan pipanya. Ia memejamkan mata, mencoba menahan godaan aroma yang sangat "berbahaya" bagi kadar kolesterol itu. Namun, secara biologis, hidungnya tidak bisa berbohong—cempedak goreng itu aromanya luar biasa nikmat.
Tak lama kemudian, kedua dokter itu bertemu di depan pagar saat hendak berangkat ke rumah sakit. Dr. Eva membawa tas bekal berisi salad wrap dan botol air mineral, sementara dr. Dina membawa bungkusan kertas cokelat yang masih panas dan mengeluarkan uap minyak.
"Assalamu’alaikum, Eva! Wah, segar sekali ya wajahnya, pasti karena efek sayuran tadi malam," goda Dina sambil menawarkan bungkusan cokelatnya. "Ini, ambil satu cempedak gorengnya. Masih hangat, lho. Lemak jenuhnya sedang ramah pagi ini."
Eva tertawa kecil sambil menggeleng halus. "Wa’alaikumussalam, Dina. Aduh, aromanya memang menggoda iman, tapi maaf ya, pagi ini jadwalku adalah serat tinggi. Kamu tidak takut asam urat atau gula darah naik pagi-pagi begini?"
Dina terkekeh sambil menggigit satu cempedak goreng yang renyah. "Eva sayang, hidup ini singkat. Di rumah sakit kita sudah melihat banyak orang menderita. Jadi, selama kita masih bisa merasakan nikmatnya cempedak goreng di Amuntai, itu adalah bentuk syukurku kepada Allah atas indera perasa yang masih berfungsi."
"Syukur itu juga dengan menjaga organ dalam, Din," balas Eva dengan nada sedikit menceramah namun tetap ramah. "Ingat hadits, 'Perut adalah rumah penyakit'. Kita ini dokter, harusnya jadi contoh."
Dina berhenti sejenak, lalu tersenyum nakal. "Aku memberi contoh tentang 'kebahagiaan psikologis', Va. Pasien anak-anakku lebih suka dokter yang ceria karena makan enak daripada dokter yang lemas karena hanya makan rebusan. Tapi oke, besok aku janji akan makan satu buah apel sebelum gorengan, deal?"
Percakapan subuh itu berakhir dengan tawa kedua sahabat itu. Mereka berangkat dengan kendaraan masing-masing menuju RSUD Amuntai. Di sepanjang perjalanan, Eva merenungkan tentang ketegasan prinsipnya, sementara Dina merenungkan tentang saran kesehatan Eva. Meski berbeda cara, keduanya sama-sama pejuang kemanusiaan yang memulai hari dengan asma Allah di tengah hiruk-pikuk kuliner Amuntai yang penuh godaan.
Catatan & Tips Hidup Sehat 2025:
Dalam kehidupan bertetangga, perbedaan gaya hidup adalah hal yang lumrah. Menurut panduan kesehatan terbaru tahun 2025, keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental sangat penting. Jika Anda ingin mencoba gaya hidup sehat dr. Eva, mulailah dengan menanam sayuran sendiri atau cek panduan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dari Kementerian Kesehatan. Namun, jika Anda seperti dr. Dina yang menyukai kuliner lokal, pastikan Anda rutin melakukan cek kesehatan berkala di Laboratorium Klinik terdekat untuk memantau kadar kolesterol dan gula darah agar tetap dalam batas aman.
