Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.
Matahari mulai meninggi di atas langit Murakata, memantulkan cahaya pada atap-atap rumah di Barabai yang masih menyisakan sisa embun. Di ruang tengah, Hifni baru saja menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.15 WITA. Sebagai PNS yang bekerja di kantor pemerintahan, ia tahu betul bahwa sistem absen sidik jari tidak akan mentoleransi drama keluarga, seberapa pun melankolisnya itu.
"Bah, jangan lupa the plan," bisik Rina sambil merapikan jilbabnya di depan cermin. "Khalisah itu tipe auditory. Dia cepat menangkap suara. Mulai dari yang pendek-pendek dulu."
Hifni mengangguk mantap. Ia menghampiri Khalisah yang sedang asyik memberikan potongan kecil ikan sarden dari piringnya kepada Mochi. Mochi, si kucing oren yang memiliki prinsip hidup "makan banyak tidur nyenyak", tampak sangat menikmati gratifikasi ilegal tersebut.
"Khalisah, listen to Abah," puji Hifni sambil berjongkok menyamai tinggi putrinya. "Abah punya tantangan. A big challenge."
Khalisah mendongak, matanya yang bulat berbinar. "Tantangan apa, Bah? Is it about puzzles?"
"Lebih seru dari puzzle. Mulai sore ini, setiap pulang kantor, Abah mau dengar Khalisah baca Surah An-Nas sampai Al-Ikhlas. Kalau Khalisah lancar dan hafal dalam tiga hari, reward-nya adalah..." Hifni menggantung kalimatnya untuk efek dramatis.
"What? What is it?" Khalisah melompat-lompat kecil.
"Kita ke Pasar Barabai. Beli es krim potong, lalu kita naik odong-odong keliling lapangan dwi warna sepuluh putaran!"
Khalisah memekik senang. "Deal! It’s a deal, Abah!" Ia menyodorkan kelingking mungilnya, yang segera disambut oleh kelingking Hifni.
Rina yang menyaksikan itu hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia teringat masa-masa SMA mereka di tahun 2013 dulu. Hifni memang selalu punya cara "negosiasi" yang unik. Dulu, saat mereka belajar kelompok untuk ujian nasional, Hifni sering menyuap teman-temannya dengan pentol kuah agar mau mengajarinya matematika. Sifat "diplomat pentol" itu rupanya menurun dalam cara ia mendidik anak.
Siang harinya, kesibukan di kantor pemerintahan sedang mencapai puncaknya. Hifni berkutat dengan tumpukan berkas laporan realisasi anggaran, sementara di tempat lain, Rina sibuk memberikan materi Past Tense kepada murid-muridnya. Namun, pikiran mereka sesekali tertuju pada rumah.
Di rumah, Khalisah ternyata benar-benar serius. Ia memegang buku saku Juz Amma berwarna merah muda. Lucunya, ia memperlakukan Mochi seolah-olah kucing itu adalah setoran hafalannya.
"Mochi, listen. Qul a'udzu birabbin-naas..." Khalisah memulai dengan suara lantang.
Mochi hanya menguap lebar, memperlihatkan taringnya yang kecil, lalu merebahkan diri di atas hamparan sajadah. Bagi Mochi, suara merdu Khalisah adalah nina bobo terbaik.
"Ih, Mochi! Don't sleep! Kamu harus simak, nanti kalau Khalisah salah, kamu harus 'meong', oke?"
Mochi hanya mengibaskan ekornya sekali, mengenai hidung Khalisah. Khalisah tertawa geli, lalu melanjutkan hafalannya dengan penuh semangat. Ia tidak merasa ini sebagai beban. Baginya, menghafal Al-Qur'an adalah tiket menuju es krim potong dan kebahagiaan bersama Abah dan Mama.
Sore harinya, saat Hifni pulang dengan wajah lelah, ia disambut oleh pemandangan yang menghangatkan hati. Di teras rumah, Khalisah sedang duduk bersila, masih dengan mukena kecilnya, sementara Rina membimbingnya perlahan.
"Gimana, jagoan Abah? Sudah siap setoran?" tanya Hifni sambil melepas sepatu.
"Sudah! Tapi Abah, tadi Mochi nakal. Dia tidur pas Khalisah baca Al-Falaq," adu Khalisah dengan bibir mengerucut.
Hifni tertawa lepas. Lelahnya menguap seketika. "Ya sudah, Mochi dikurangi jatah snack-nya nanti. Sekarang, ayo Abah dengar."
Dengan bimbingan sabar dari Rina yang sesekali membetulkan makhraj (pelafalan) yang masih terpengaruh logat Inggrisnya, Khalisah berhasil menyelesaikan tiga surah pendek sore itu. Tidak ada tangisan, tidak ada paksaan. Yang ada hanyalah tawa ketika Khalisah mencoba melafalkan huruf 'ain tapi malah terdengar seperti suara orang tersedak, membuat Mochi kaget dan melompat ke atas pagar.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Rina menerima sebuah pesan WhatsApp dari grup guru. Ada rapat koordinasi mendadak yang akan berlangsung selama tiga hari ke depan hingga malam. Di sisi lain, Hifni juga baru ingat ada kunjungan kerja dari provinsi besok pagi.
"Bah," puji Rina pelan setelah Khalisah masuk ke dalam rumah untuk mengambil mainan. "Besok kita berdua sibuk sekali. Siapa yang jemput Khalisah dari PAUD? Siapa yang jagain dia sore hari? Dia nggak mungkin cuma sama Mochi di rumah."
Hifni terdiam. Ini adalah dilema klasik pasangan PNS. Pekerjaan menuntut loyalitas, tapi anak adalah prioritas utama.
"Mungkin ini saatnya kita cari TK Islami yang lebih lengkap jadwalnya, Rin. Yang sekolahnya sampai siang atau sore, jadi dia tetap belajar hal baik sementara kita di kantor," usul Hifni.
"Aku setuju. Aku dengar ada TK Islami baru yang bagus di dekat pusat kota. Besok kita coba survei, ya? Semoga sempat sebelum absen pagi," jawab Rina.
Tanpa mereka sadari, keputusan untuk mencari sekolah baru ini akan membawa mereka kembali pada kenangan tahun 2013 yang selama ini tersimpan rapat. Di balik gerbang sekolah itu nantinya, ada sosok dari masa lalu yang siap memberikan kejutan, lengkap dengan seorang anak perempuan yang akan menjadi saingan sekaligus sahabat terbaik Khalisah.
Tapi untuk malam ini, misi tercapai. Khalisah tertidur pulas sambil memeluk boneka dan—tentu saja—ekor Mochi, bermimpi tentang es krim potong dan surga yang sedang ia bangun ayat demi ayat.
