Musim dingin Chelyabinsk berlanjut, tetapi bagi Kolya, waktu terasa semakin singkat. Kesehatannya menurun drastis, dan ia kini menghabiskan sebagian besar waktunya di ranjang. Kafe Ksenia menjadi lebih sepi, dan Andriy merasakan kesunyian yang sama seperti saat ribuan tahun lalu, ketika ia menjadi satu-satunya elf yang tersisa.
Pagi itu, Ksenia datang ke toko Andriy dengan mata sembap. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyerahkan secangkir teh chamomile. Andriy tahu apa artinya.
"Kolya... dia memanggilmu," bisik Ksenia, suaranya parau. "Dia bilang, dia ingin melihatmu untuk terakhir kalinya."
Andriy mengangguk. Ia tidak merasa kaget, hanya sedih. Ia telah menyaksikan hal ini terjadi ribuan kali. Kelahiran, kehidupan, dan kematian. Ia tidak pernah bisa terbiasa.
Andriy berjalan ke rumah Kolya. Langkahnya terasa berat, setiap langkah adalah pengingat akan perpisahan yang akan datang. Ia melihat pohon rindang di halaman rumah Kolya, dan ia melihat Ogon tidur di bawahnya, seolah-olah Ogon sedang menjaganya.
Ia masuk ke dalam rumah Kolya, dan melihat Kolya terbaring di ranjang. Ia terlihat sangat lemah, tetapi saat melihat Andriy, senyum muncul di wajahnya.
"Andriy," Kolya berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.
Andriy duduk di samping ranjang Kolya, memegang tangannya yang dingin. "Aku di sini, Kolya."
"Kau tahu... aku sudah hidup dengan baik," kata Kolya. "Aku punya keluarga, aku punya kafe, dan aku punya... teh chamomile."
Andriy tersenyum tipis. "Ya, kau punya itu."
"Aku punya satu permohonan terakhir, Andriy," kata Kolya, suaranya semakin pelan. "Aku ingin kau... berjanji padaku. Berjanjilah kau akan terus hidup, dan kau akan terus mencari kebahagiaan. Jangan biarkan kesepian membunuhmu."
Andriy menatap Kolya, dan air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku tidak bisa berjanji, Kolya. Aku lelah. Aku lelah dengan perpisahan."
"Jangan, Andriy," kata Kolya, mencoba untuk berbicara dengan lebih tegas. "Kau punya Ksenia. Kau punya Vera. Kau punya Ogon. Kau punya... keluarga. Jangan biarkan mereka pergi. Jangan biarkan mereka... menghilang."
Andriy menangis. Ia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ia memeluk Kolya, dan ia merasa seperti memeluk seorang ayah, seorang teman, seorang Pyotr.
"Aku akan mencoba, Kolya," bisik Andriy. "Aku akan mencoba."
Kolya tersenyum, senyum yang tulus. Ia mengambil kalung perak dari saku bajunya, dan menyerahkannya kepada Andriy. Kalung itu sama dengan yang diberikan Vera kepada Andriy.
"Ini... ini dari kakekku," kata Kolya. "Dia bilang, jika kau datang, berikan padanya. Itu adalah simbol persahabatan kami."
Andriy menerima kalung itu, dan ia menyatukannya dengan kalung yang diberikan Vera. Dua kalung itu menyatu, dan Andriy merasakan energi sihir yang kuat mengalir dari kalung itu. Ia melihat dua kalung itu, dan ia menyadari, mereka adalah satu.
"Aku tahu... kau akan sendirian lagi, Andriy," kata Kolya. "Tapi jangan pernah lupakan kami. Kami akan selalu ada di hatimu."
Kolya tersenyum, dan matanya terpejam. Napasnya berhenti. Andriy memeluknya, dan ia menangis. Ia menangis karena perpisahan yang tak terelakkan, ia menangis karena kenangan yang akan ia simpan, dan ia menangis karena ia akan sendirian lagi.
Ksenia dan Vera masuk ke dalam, dan melihat Kolya yang sudah tiada. Ksenia menangis, Vera menangis, dan Andriy, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak menyembunyikan tangisannya.
Mereka bertiga duduk di samping ranjang Kolya, memegang tangannya yang dingin. Di luar, salju terus turun, menutupi Chelyabinsk dengan selimut putih. Udara terasa dingin, namun di dalam, hati mereka terasa hangat.
Perpisahan itu menyakitkan, namun mereka tidak sendirian. Mereka punya satu sama lain. Mereka punya kenangan. Dan mereka punya janji, janji untuk terus hidup, dan untuk terus mencari kebahagiaan.
Babak baru dalam kehidupan Andriy, yang penuh dengan kesedihan, kenangan, dan harapan, telah dimulai. Ia akan terus hidup, dan ia akan terus mencari kebahagiaan, seperti yang dijanjikannya kepada Kolya.
