Setelah terungkapnya masa lalu Lev, suasana perpustakaan kembali hening, tetapi kali ini diselimuti oleh aura pengertian yang baru bagi Anatasya. Ia tidak lagi melihat Lev sebagai misteri, melainkan sebagai sebuah buku terbuka yang butuh dibaca dengan hati-hati. Meskipun Lev kembali menyepi ke sudutnya, Anatasya merasakan adanya hubungan yang lebih dalam di antara mereka.
Keesokan harinya, Anatasya datang lebih awal. Ia membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat, dua potong kue jahe, dan sebuah buku. Buku itu adalah salah satu koleksi terbarunya, sebuah novel fiksi ilmiah yang sedang naik daun. Anatasya tahu, genre ini mungkin tidak akan menarik bagi Lev yang lebih menyukai filsafat, tetapi ia ingin mencoba.
Ia berjalan ke arah Lev, dan meletakkan nampan itu di meja kecil di sampingnya. "Aku harap kau tidak keberatan," kata Anatasya, dengan nada yang sedikit malu.
Lev mendongak dari bukunya. Ia melihat nampan itu, lalu menatap Anatasya. "Terima kasih," katanya, dengan nada yang lebih hangat dari biasanya.
Mereka berdua menikmati teh dan kue jahe dalam keheningan yang nyaman. Anatasya tidak merasa canggung lagi. Ia merasa ini adalah kencan yang paling menyenangkan, meskipun mereka tidak berbicara.
Setelah mereka selesai, Anatasya menyerahkan buku fiksi ilmiah itu kepada Lev. "Aku tahu ini bukan genre favoritmu," kata Anatasya, "tapi aku pikir kau mungkin akan menyukainya. Ini tentang seorang ilmuwan yang menemukan cara untuk kembali ke masa lalu."
Lev mengambil buku itu. Ia melihat sampulnya, lalu menatap Anatasya. "Aku akan membacanya," katanya, dengan nada yang tulus.
Anatasya tersenyum. "Terima kasih."
Mereka berdua kembali terdiam. Anatasya merasa ada koneksi yang terjalin di antara mereka, koneksi yang lebih dari sekadar tumpahan kopi atau petunjuk aneh. Koneksi yang berasal dari pertukaran pikiran dan selera buku.
Hari-hari berikutnya, mereka berdua mulai bertukar buku. Lev memberikan Anatasya buku filsafat yang sulit dipahami, dan Anatasya memberikan Lev novel-novel ringan yang penuh dengan humor. Mereka tidak banyak berbicara, tetapi setiap pertukaran buku adalah sebuah percakapan.
Suatu hari, Lev memberikan Anatasya sebuah buku tebal berjudul "The Myth of Sisyphus" karya Albert Camus. "Aku pikir kau akan menyukainya," kata Lev. "Ini tentang absurditas hidup."
Anatasya mengambil buku itu, dan melihat sampulnya. "Absurditas hidup? Kenapa kau memberiku buku tentang itu?"
Lev tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang penuh arti. "Karena kau adalah orang yang paling tidak absurd yang pernah aku temui."
Anatasya merasa hatinya berdebar. Ia merasa Lev telah melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang tidak hanya ceroboh dan konyol, tetapi juga jujur dan tulus.
Ia membaca buku itu, dan ia menyukainya. Ia menyukai cara Camus menjelaskan absurditas hidup dengan cara yang indah. Ia merasa ia mengerti mengapa Lev menyukai buku-buku filsafat.
Setelah selesai membaca, Anatasya kembali ke meja Lev, dengan buku itu di tangannya. "Aku menyukainya," kata Anatasya. "Aku mengerti mengapa kau menyukainya."
Lev tersenyum. "Aku tahu kau akan menyukainya."
Mereka berdua mulai membicarakan buku itu. Anatasya merasa ini adalah percakapan yang paling menarik yang pernah ia alami. Mereka membicarakan tentang arti hidup, tentang kebahagiaan, dan tentang kesedihan.
Anatasya merasa ia telah menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar cinta. Ia telah menemukan seorang teman. Dan ia merasa ini adalah hal yang paling berharga.
Ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan ia merasa... siap.
