Layla pulang dari rumah sakit dengan mata yang terasa seperti ditempel selotip. Shift malam tanpa sahur yang layak benar-benar menguras tenaganya. Jalanan Oxford Road masih sepi saat ia memacu mobilnya, hanya beberapa bus panggung yang membawa pekerja pagi. Begitu sampai di depan rumahnya di kawasan Salford, ia melihat mobil rongsokan milik Yusuf terparkir di depan.
"Ya Allah, apalagi sekarang?" gumam Layla. Ia belum siap mental untuk debat taktik sepak bola di jam tujuh pagi.
Namun, saat ia membuka pintu depan pelan-pelan, suasana rumah tidak berisik seperti biasanya. Tidak ada suara TV yang menyiarkan cuplikan gol atau tawa keras Yusuf. Yang terdengar justru suara rendah ayahnya, Malik, yang sedang tertawa kecil—sebuah tawa yang sudah jarang Layla dengar belakangan ini.
Layla melangkah ke arah ruang tengah dan terpaku di balik dinding.
Yusuf ada di sana, masih mengenakan jaket birunya, tapi ia sedang duduk di lantai di depan sebuah kotak kardus besar bertuliskan "MUFC MEMORIES". Di tangannya ada sebuah syal rajut tua bermotif kotak-kotak merah hitam. Yusuf tidak sedang memprovokasi; ia sedang mendengarkan Malik bercerita.
"Tahun 1968, Yusuf," suara Malik terdengar bersemangat. "George Best mencetak gol di Wembley. Ayahmu dan aku hampir pingsan karena berteriak. Kami pulang ke Manchester dengan kereta api dan tidak berhenti menyanyi sampai pagi."
Yusuf mengangguk-angguk khidmat. "Lalu, Paman, apakah benar Sir Bobby Charlton itu sehebat yang orang bilang? Di YouTube dia terlihat seperti penyihir."
"YouTube tidak bisa menangkap auranya, Nak," jawab Malik lembut. "Dia adalah definisi kelas. Dia adalah roh Manchester."
Layla merasakan matanya memanas. Selama ini ia menganggap Yusuf hanya pengganggu yang terobsesi dengan kesuksesan instan Manchester City. Namun, melihat Yusuf menghabiskan waktu paginya—yang seharusnya ia gunakan untuk tidur setelah sahur—hanya untuk memancing memori Malik agar tidak hilang, membuat pertahanan Layla runtuh.
Setelah Malik tertidur di kursi goyangnya, Layla menghampiri Yusuf di dapur. Yusuf sedang menuangkan sereal ke dalam mangkuk, tampak sangat mengantuk.
"Terima kasih, Yusuf," bisik Layla.
Yusuf tersentak, hampir menjatuhkan kotaknya. "Oh, kau sudah pulang, Suster Galak. Jangan berpikir aku melakukan ini karena aku suka United. Aku hanya sedang melakukan riset tentang 'sejarah kuno'."
Layla tersenyum, kali ini tulus. "Kau tidak perlu berbohong. Aku melihat bagaimana kau menatap syal itu. Kau menghargai sejarah kami, kan?"
Yusuf menghela napas, bahunya merosot. "Paman Malik... dia mulai lupa banyak hal, Layla. Tadi dia sempat memanggilku dengan nama ayahku. Tapi saat aku mengeluarkan syal itu, matanya langsung hidup lagi. Dia ingat setiap detail gol di Paris, Barcelona, hingga Moscow. Aku hanya ingin dia merasa 'hidup' sebentar lagi."
Layla menyandar di konter dapur. "Itulah masalahnya dengan penyakit ini. Perlahan-lahan dia akan melupakan aku, Yusuf. Tapi dia tidak akan pernah melupakan United. Kadang aku cemburu pada sebuah klub sepak bola."
"Jangan cemburu pada United," goda Yusuf, kembali ke mode aslinya. "Cemburulah pada City. Kami punya masa depan, kalian hanya punya sejarah."
"Keluar dari dapurku, Yusuf!" tawa Layla pecah, meski air mata terselip di sudut matanya.
Siang itu, Layla mencoba tidur sebentar sebelum waktu ashar. Namun, pikirannya melayang pada Toby, pasien kecilnya di rumah sakit. Ia teringat bagaimana wajah Toby berbinar saat membahas bola, sama seperti ayahnya.
Di Manchester, sepak bola bukan sekadar olahraga. Bagi sebagian orang, itu adalah bahasa cinta. Bagi yang lain, itu adalah jangkar yang menahan mereka agar tidak hanyut dalam lautan kepikunan. Dan bagi Layla, di bulan Ramadan ini, sepak bola adalah pengingat tentang kesetiaan—bahwa kita tidak meninggalkan tim kita saat mereka kalah, sama seperti kita tidak meninggalkan Tuhan kita saat doa-doa kita belum terjawab.
Layla bangun saat azan ashar berkumandang dari Manchester Islamic Centre. Ia mengambil air wudhu, merasakan dinginnya air Manchester membasuh wajahnya. Saat bersujud, ia menyelipkan satu doa tambahan: agar di hari raya nanti, ayahnya masih bisa merayakan kemenangan—bukan sekadar kemenangan di lapangan hijau, tapi kemenangan atas ingatannya sendiri.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari perawat junior di rumah sakit: "Layla, Toby bertanya padamu. Dia bilang dia punya tantangan untukmu di waktu buka puasa nanti. Dia bilang... 'Katakan pada perawat United itu, aku punya rahasia tentang Erling Haaland yang akan membuatnya pindah klub!'"
Layla tersenyum lebar. "Anak itu benar-benar tidak tahu siapa yang dia tantang," bisiknya.
Proactive Follow-up: Mau lanjut ke Bab 5, di mana Layla kembali ke rumah sakit untuk menghadapi tantangan Toby dan tanpa sengaja bertemu dengan legenda Manchester United yang sedang melakukan kunjungan rahasia? #GGMU
