"Tiga Sekawan" kembali ke peradaban, bukan lagi di Kota Aethel yang ramai, melainkan di Kota Gletser, sebuah kota perdagangan kecil yang dibangun di kaki gunung es Gletser Frostfire. Kota ini berfungsi sebagai pos terdepan untuk para petualang yang menjelajahi dungeon es tersebut.
Kota Gletser memiliki arsitektur yang didominasi kayu dan batu, dengan cerobong asap mengepul di mana-mana untuk menjaga kehangatan. Suasana di sini lebih tenang daripada Aethel, tapi terasa lebih tegang, seolah ada rahasia yang tersembunyi di bawah permukaan es.
Mereka mendaftar di Guild Petualang cabang Gletser. Resepsionis di sini, seorang pria tua bertampang serius bernama Boris, menyambut mereka dengan anggukan kaku.
“Misi Gletser Frostfire selesai?” tanyanya, matanya tertuju pada artefak bola kristal yang masih dibawa Lev. “Artefak itu… dari lantai lima?”
“Ya, kami menemukannya,” jawab Lev, sedikit curiga dengan reaksi Boris.
Boris mengangguk lagi. “Simpan baik-baik. Barang itu langka. Ada yang memburunya.” Dia mengedipkan mata, lalu kembali ke pekerjaannya.
Peringatan Boris membuat Lev, Vania, dan Anastasya saling pandang. Ada intrik di kota kecil ini.
Mereka menyewa kamar di penginapan lokal yang lebih sederhana dari "Naga Menguap". Di sana, Vania langsung ingin menjelajahi kota.
“Kota ini pasti punya pasar gelap! Aku yakin ada informasi rahasia di sana!” seru Vania, matanya berbinar penuh teori konspirasi.
Anastasya menghela napas. “Pasar gelap itu berbahaya. Fokus kita harusnya menjual barang rampasan dan berlatih.”
“Sekali-kali slice of life yang seru, dong!” bujuk Vania.
Akhirnya mereka setuju untuk menjelajahi kota. Mereka menemukan pasar biasa, tempat para pedagang menjual bulu monster, ramuan tahan dingin, dan makanan lokal yang aneh. Tapi Vania tidak puas. Dia mencari sesuatu yang lebih gelap, lebih misterius.
Mereka menemukan sebuah gang sempit dan gelap di belakang pasar utama. Di sana, beberapa pedagang bertopeng menjual barang-barang aneh: peta dungeon ilegal, ramuan yang tampak mencurigakan, dan senjata kuno.
“Ini dia! Pasar gelap sungguhan!” Vania berbisik penuh semangat.
Mereka mendekati salah satu pedagang bertopeng yang menjual peta. “Kami mencari informasi tentang artefak bola kristal panas-dingin,” tanya Lev hati-hati.
Pedagang itu menatap mereka tajam. “Itu barang sensitif, Nak. Informasi itu mahal.”
Anastasya melangkah maju. “Seberapa mahal?”
Tiba-tiba, dua pria bertubuh besar dengan jubah hitam muncul dari kegelapan gang, memblokir jalan keluar mereka. Wajah mereka tertutup, tapi aura permusuhan terasa kuat.
“Serahkan artefak itu, atau masalah menunggumu,” suara serak salah satu pria itu terdengar.
Vania langsung siaga, busurnya terkokang. “Wah, ada preman sungguhan! Seru!”
Anastasya sudah menyiapkan sihir Void Blast-nya. Lev memanggil Sippy dan Chicky. Chicky langsung berkokok nyaring, membuat para preman terkejut.
Pedagang bertopeng itu menghilang begitu saja dalam kebingungan.
“Mereka mengincar artefaknya, Boris benar,” kata Lev.
Para preman itu menyerang. Vania menembakkan panah, tapi pria berjubah hitam itu berhasil menangkisnya dengan mudah. Mereka bukan petualang biasa, tapi mungkin anggota organisasi rahasia.
Anastasya meluncurkan Void Blast, tapi pria kedua berhasil menghindar dengan gesit.
“Mereka cepat dan kuat!” kata Vania.
Lev punya ide. “Chicky, Alarm Call maksimal! Sippy, lendir licin di belakang mereka! Bulby, spora peledak di dekat kaki mereka!”
Ketiga monster unik Lev beraksi. Chicky berkokok sekeras mungkin, suara alarmnya memekakkan telinga. Sippy membuat lantai belakang licin. Bulby menembakkan spora ke kaki para preman.
Para preman itu, yang terganggu oleh suara Chicky dan spora yang menempel, menjadi panik. Salah satunya terpeleset di lendir Sippy dan jatuh ke belakang.
“Detonation!” Lev mengaktifkan ledakan spora Bulby. BOOM! Asap busuk menyelimuti gang.
Dalam kekacauan asap dan bau busuk, Vania dan Anastasya memanfaatkan kesempatan. Vania menembakkan panah ke preman yang tersisa, dan Anastasya meluncurkan Frost Shard ke arah yang jatuh. Kedua preman itu tumbang pingsan, tidak mati.
Bau busuk dari ledakan Bulby menarik perhatian warga dan patroli kota.
“Kabur!” teriak Vania.
Mereka melarikan diri dari pasar gelap, meninggalkan para preman pingsan di tengah asap busuk. Mereka kembali ke penginapan dengan napas terengah-engah.
“Tadi itu… pengalaman pasar gelap yang intens,” kata Lev.
“Intriknya nyata!” Vania bersemangat. “Organisasi rahasia mengejar artefak kita!”
Anastasya mengangguk serius. “Kita harus lebih hati-hati. Kota Gletser ini tidak seaman kelihatannya. Kita harus segera kembali ke Aethel.”
Kehidupan sosial dan intrik pasar gelap Kota Gletser telah mengajarkan mereka pelajaran penting: petualangan RPG fantasi mereka kini melibatkan plot yang lebih besar, organisasi jahat, dan artefak misterius. "Tiga Sekawan" siap menghadapi tantangan itu, tapi untuk sekarang, mereka hanya ingin istirahat dari bau busuk Bulby.
