Bab 4 novel islami Khalisah dan Rabiatun membawa Anda ke Monolithi, Yunani. Temukan pantai terpanjang dan teraman di Eropa, tips perjalanan, serta kehangatan komunitas muslim di destinasi wisata ramah keluarga ini.
Bab 4: Ketenangan di Pantai Monolithi, Yunani
Setelah petualangan penuh warna di Spanyol dan Italia, Khalisah serta Rabiatun terbang menuju daratan Yunani, tepatnya ke kawasan Preveza. Tujuan mereka adalah Pantai Monolithi, sebuah pantai yang membentang lebih dari 30 kilometer, menjadikannya salah satu pantai terpanjang—sekaligus diklaim teraman—di Eropa karena dasarnya yang landai dan fasilitasnya yang terorganisir dengan baik.
"Dari Ibiza yang eksotis, sekarang ke Monolithi yang megah," ujar Khalisah saat mereka melaju dengan mobil sewaan di sepanjang garis pantai yang panjang itu. Pemandangannya berbeda dari pantai-pantai sebelumnya; di sini lebih terbuka, dengan hamparan pasir yang luas dan pepohonan pinus di latar belakang.
"Kelihatannya tenang banget, Khal. Cocok buat istirahat sejenak setelah perjalanan maraton kita," timpal Rabiatun, meregangkan tubuhnya.
Setibanya di area pantai yang telah dilengkapi fasilitas, mereka terkesan dengan keteraturan tempat ini. Ada area parkir yang luas, kafe-kafe pantai yang rapi, dan fasilitas kamar mandi/ganti yang bersih, sangat memudahkan mereka untuk menjaga aurat dan kebersihan.
Mereka memilih tempat yang sedikit jauh dari keramaian kafe, di bawah rindangnya pohon pinus. Suasana di sana sangat damai. Beberapa keluarga terlihat asyik bermain pasir, sementara pasangan lansia berjalan santai di tepi air. Karakteristik pantai yang landai membuatnya terasa sangat aman, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak.
Khalisah dan Rabiatun membentangkan tikar mereka dan mengeluarkan bekal makan siang: roti pita berisi sayuran segar, keju feta, dan saus tzatziki (tanpa bawang putih, sesuai selera mereka) yang mereka beli dari pasar lokal.
Saat mereka sedang asyik makan siang, mereka mendengar percakapan dalam bahasa yang sedikit familiar. Ternyata, beberapa meter dari mereka, ada sebuah keluarga besar yang sedang piknik juga. Mereka terlihat seperti keluarga Muslim Albania yang sedang berlibur di Yunani.
Rabiatun, yang memang supel, berani memulai percakapan. " Assalamu'alaikum," sapanya ramah.
Keluarga itu menoleh, terkejut namun senang. "Wa'alaikumussalam. Dari mana, Mbak?" tanya salah satu ibu, dengan aksen khas Balkan.
Terjadilah obrolan hangat di bawah naungan pohon pinus. Keluarga itu, bernama keluarga Hoxha, berasal dari Tirana, Albania, dan sering berlibur ke Monolithi setiap musim panas karena lokasinya yang dekat dan ramah keluarga. Mereka bertukar cerita tentang pengalaman hidup sebagai Muslim di Eropa, tantangan mencari makanan halal, dan keindahan alam di negara masing-masing.
"Di sini lumayan banyak komunitas Muslim, karena dekat dengan perbatasan Albania dan ada minoritas Muslim di daerah Thrace," jelas Bapak Hoxha. "Setiap musim panas, pantai ini jadi ajang silaturahmi kecil bagi kami."
Khalisah dan Rabiatun merasa terhubung secara instan. Kehidupan bermasyarakat di sini menunjukkan sisi lain dari Eropa, di mana komunitas Muslim hidup berdampingan secara damai dan bahkan menciptakan ruang sosial mereka sendiri di destinasi wisata populer.
"Masya Allah, dunia ini sempit ya, Khal. Di sini kita ketemu saudara seiman dari negara lain," bisik Rabiatun pada Khalisah.
Setelah makan siang dan shalat Dhuhr di bilik ganti yang tersedia, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai yang panjang itu. Pasirnya lembut dan airnya hangat. Mereka menemukan banyak kerang unik dan formasi kayu apung yang menarik.
Momen komedi ringan terjadi ketika Rabiatun, yang sedang asyik berlari mengejar ombak kecil, tanpa sengaja menginjak bola pantai milik seorang anak kecil Yunani. Bola itu kempes seketika. Wajah Rabiatun kembali memerah malu. Namun, orang tua anak itu hanya tertawa dan mengatakan tidak masalah, bahkan mereka memberikan bola cadangan kepada Rabiatun untuk dimainkan bersama.
"Alhamdulillah, orang-orangnya baik banget di sini," kata Rabiatun lega.
Menjelang sore, mereka kembali ke area utama pantai untuk menikmati segelas jus jeruk segar di salah satu kafe. Khalisah mencatat dalam buku agendanya:
Tips & Review Monolithi Beach:
*Pantai terpanjang dan sangat aman di Eropa.
*Fasilitas lengkap (kamar mandi, area ganti, kafe).
*Ramah keluarga dan komunitas Muslimah.
*Suasana tenang dan damai, cocok untuk relaksasi.
*Interaksi dengan lokal sangat mudah dan hangat.
Hari di Monolithi Beach memberikan mereka ketenangan pikiran dan energi baru. Mereka bersyukur atas pertemuan tak terduga dengan keluarga Hoxha dan keramahan penduduk lokal Yunani. Pengalaman ini mengajarkan mereka bahwa ukhuwah Islamiyah itu bisa ditemukan di mana saja, bahkan di pantai yang jauh dari rumah.
Dengan hati yang damai dan semangat baru, mereka bersiap untuk petualangan selanjutnya: menikmati pesona tebing dan kota warna-warni di Pantai Amalfi, Italia.
