Pertemuan tak terduga dengan Naufal dan Yumi membuat suasana di kafe menjadi canggung. Setelah Naufal pergi, Maimunah membolak-balik buku yang ia berikan. Buku tentang hijrah itu ternyata berisi catatan-catatan kecil di sela-sela halamannya. Maimunah mulai membacanya, dan ia menemukan tulisan tangan Naufal.
Untuk Maimunah, gadis yang selalu ada di hatiku. Aku tahu, aku salah. Tapi aku juga tahu, aku nggak bisa lupain kamu. Aku harap, buku ini bisa jadi jembatan kita. - Naufal.
Maimunah terdiam. Ia merasa, hatinya kembali remuk. Ia menatap Zainab dan Adam. Keduanya hanya mengamati dari kejauhan.
"Mun, kenapa?" tanya Zainab.
Maimunah menunjukkan catatan itu. Zainab dan Adam membaca, lalu menghela napas.
"Naufal memang nggak pernah berubah," kata Zainab.
"Dia harusnya nggak kayak gini," tambah Adam, "hijrah itu bukan buat main-main."
Maimunah merasa, ia harus mengambil keputusan. Ia tidak bisa lagi lari dari masa lalunya.
"Aku harus ngobrol sama dia," kata Maimunah.
Zainab dan Adam khawatir. "Kamu yakin, Mun?"
"Yakin," jawab Maimunah, "aku nggak mau kayak gini terus. Aku harus selesaikan semuanya."
Keesokan harinya, Maimunah bertemu dengan Naufal di sebuah kafe. Kali ini, mereka berdua saja. Maimunah terlihat lebih tenang, tetapi matanya tetap memancarkan kesedihan.
"Naufal, kenapa kamu ngelakuin ini?" tanya Maimunah.
"Aku nggak bisa bohong, Mun," jawab Naufal, "aku masih cinta sama kamu."
Maimunah terdiam. "Nggak, Naufal. Kamu nggak cinta sama aku. Kamu cuma cinta sama bayangan Maimunah yang dulu."
Naufal terkejut. "Maksud kamu?"
"Aku udah berubah, Naufal," kata Maimunah, "aku udah nggak kayak dulu lagi. Aku sekarang udah hijrah. Aku nggak mau lagi larut dalam urusan cinta yang nggak jelas."
Naufal terdiam. Ia menatap Maimunah dengan tatapan sendu. "Aku... aku juga mau hijrah, Mun. Aku mau jadi lebih baik."
"Kalau kamu mau hijrah, kamu hijrah aja," kata Maimunah, "kamu nggak perlu bawa-bawa aku. Aku udah punya jalan sendiri."
Naufal merasa, ia telah kehilangan Maimunah. Ia merasa, ia telah membuat kesalahan besar.
"Maimunah," kata Naufal, "maaf. Aku... aku salah."
Maimunah tersenyum. "Nggak apa-apa, Naufal. Semoga kamu bisa nemuin jalanmu."
Setelah itu, Naufal pergi. Maimunah menatap kepergian Naufal, lalu tersenyum. Ia merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
Maimunah kembali ke asrama dengan hati yang lebih tenang. Ia merasa, ia telah membebaskan dirinya dari masa lalu. Ia merasa, ia bisa memulai lembaran baru.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba Zainab dan Adam datang. Wajah mereka terlihat khawatir.
"Mun, ada kabar buruk," kata Zainab.
"Ada apa?" tanya Maimunah.
"Naufal... dia kecelakaan," kata Adam. "Dia... meninggal."
Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Adam, lalu Zainab. Ia merasa, dunia seakan runtuh.
To be continued...
