Novel ini berlatar di sekitar aliran Sungai Barito dan dataran rendah rawa di masa kini Kalimantan Selatan, pada zaman Mesolitikum (sekitar 8000 SM). Pada masa ini, manusia masih hidup dalam kelompok pemburu-pengumpul, mulai mengembangkan alat-alat batu yang lebih halus, dan belum mengenal pertanian skala besar atau peradaban kota. Cerita ini murni fiksi spekulatif yang didasarkan pada asumsi kondisi alamiah saat itu.
Sinopsis Novel "Nadi Barito": Kronik 8000 SM di Jantung Kalimantan Selatan
"Nadi Barito" adalah sebuah epik fiksi sejarah yang membawa pembaca kembali ke masa yang hampir terlupakan, tepatnya 10.000 tahun yang lalu di Kalimantan Selatan 8000 SM, sebuah era prasejarah Indonesia di mana peradaban manusia masih dalam tahap paling primitif: Mesolitikum. Novel ini menggali kehidupan keras dan penuh tantangan dari manusia purba yang berjuang untuk bertahan hidup di lanskap Borneo yang liar dan belum terjamah.
Cerita ini berpusat pada Liku, seorang pemburu muda yang terampil dari Suku Aru, komunitas nomaden penghuni gua di hulu Sungai Barito. Kehidupan mereka yang damai—meski penuh perjuangan melawan alam dan megafauna misterius—tiba-tiba terhenti oleh bencana alam dahsyat. Banjir bandang memaksa Suku Aru untuk meninggalkan satu-satunya rumah yang mereka kenal dan memulai migrasi berbahaya menuju hilir sungai, memasuki wilayah rawa gambut yang asing dan penuh misteri.
Perjalanan ini membuka lembaran baru dalam perjuangan eksistensi mereka. Di tanah basah muara Barito, mereka bertemu dengan Suku Randu, masyarakat lokal yang telah beradaptasi dengan kehidupan di atas air menggunakan perahu cadik sederhana. Awalnya diliputi kecurigaan dan bentrokan budaya, kedua suku ini dipaksa untuk membentuk aliansi yang rapuh di bawah ancaman bersama—baik dari makhluk purba yang mengikuti jejak migrasi mereka maupun intrik internal yang dipicu oleh Bano, rival cemburu Liku.
Melalui kepemimpinan Liku dan Dara, pemimpin wanita Suku Randu yang berani, aliansi ini tidak hanya belajar cara hidup baru di perahu, tetapi juga mengembangkan teknologi batu yang lebih maju dan taktik perang sungai. Ketegangan memuncak ketika ancaman sebenarnya terungkap: bukan monster tunggal, melainkan suku penyerang dari utara yang ingin menguasai wilayah sungai vital tersebut.
Klimaks novel ini adalah pertempuran sungai yang menentukan nasib. Kemenangan pahit dari suku gabungan tersebut mengarah pada visi baru: pembangunan pemukiman permanen pertama di wilayah tersebut, menandai transisi penting menuju kehidupan Neolitikum dan pertanian awal. "Nadi Barito" adalah kisah tentang ketahanan, inovasi, dan bagaimana perjuangan manusia purba di jantung Borneo membentuk nadi kehidupan yang terus mengalir hingga peradaban modern di Kalimantan Selatan saat ini. Novel ini merupakan bacaan wajib bagi penggemar cerita fiksi sejarah yang mencari petualangan mendalam dan edukatif.
