Kabar kematian Naufal datang bagai sambaran petir di siang bolong. Dunia Maimunah yang baru saja merangkak kembali ceria, kini kembali runtuh. Bukan karena ia masih mencintai Naufal, tetapi karena rasa bersalah yang menusuk-nusuk hatinya. Ia merasa, ia adalah penyebab kematian Naufal.
"Aku... aku yang salah," gumam Maimunah, air mata membasahi pipinya. "Seharusnya aku nggak bilang kata-kata itu."
Zainab memeluk Maimunah erat-erat. "Bukan salah kamu, Mun. Kamu nggak salah."
"Tapi, Zai," Maimunah terisak, "dia pergi karena aku."
Adam, yang melihat Maimunah begitu terpukul, mencoba menenangkan. "Mun, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini sudah takdir."
Maimunah menggeleng. Ia tidak bisa menerima takdir itu. Ia merasa, ia tidak pantas untuk bahagia.
Beberapa hari setelah kabar duka itu, Maimunah tidak lagi mengikuti kajian, tidak lagi membaca Al-Quran. Ia hanya mengurung diri di kamar, menangis. Zainab dan Adam khawatir. Mereka mencoba menghibur Maimunah, tetapi Maimunah tetap tidak bisa menerima.
Pada suatu malam, saat salju turun dengan lebat, Maimunah keluar dari asrama. Ia berjalan menuju taman, tempat ia terakhir kali bertemu Naufal. Ia duduk di bangku yang sama, di bawah pohon birch yang sama. Ia merasa dingin, bukan karena udara, tetapi karena hatinya yang kosong.
Adam, yang melihat Maimunah pergi, mengikutinya. Ia tidak ingin Maimunah sendirian.
Adam duduk di samping Maimunah. "Mun, kamu nggak sendirian."
"Aku butuh waktu sendiri, Dam," kata Maimunah, suaranya serak.
"Aku nggak akan ganggu," jawab Adam, "aku cuma mau nemenin."
Maimunah terdiam. Ia merasa, ia memang butuh Adam. Ia butuh seseorang untuk menemaninya.
"Kenapa, Dam? Kenapa Naufal harus pergi?" tanya Maimunah.
"Allah punya rencana yang lebih baik, Mun," jawab Adam. "Mungkin Naufal sudah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah."
Maimunah terisak. "Tapi kenapa harus sekarang?"
"Kita nggak pernah tahu, kapan kita akan pergi," kata Adam, "tapi kita bisa tahu, kapan kita harus berubah."
Maimunah menatap Adam. Ia merasa, kata-kata Adam menenangkan hatinya.
"Aku mau hijrah, Dam," kata Maimunah, "tapi aku nggak bisa. Aku merasa, aku nggak pantas."
"Kamu pantas, Mun," kata Adam, "setiap manusia berhak untuk hijrah. Dan Allah selalu menerima taubat hamba-Nya."
Maimunah merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
Mereka berdua kembali ke asrama. Di kamar, Maimunah mengambil buku yang diberikan Naufal. Ia membukanya, dan ia menemukan sebuah tulisan.
Maimunah, kalau kamu baca ini, berarti aku udah nggak ada. Aku minta maaf, aku udah nyakitin kamu. Aku cuma mau kamu tahu, kalau kamu itu wanita yang baik. Aku harap, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu. Dan jangan lupa, selalu hijrah. Karena hijrah itu bukan cuma tentang penampilan, tapi tentang hati. - Naufal.
Maimunah menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ia merasa, Naufal telah memberinya hadiah terindah. Hadiah berupa nasihat yang tulus.
Keesokan harinya, Maimunah kembali mengikuti kajian. Ia membaca Al-Quran. Ia kembali ke jalannya. Ia merasa, ia telah menemukan kebahagiaan.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba Yumi datang. Yumi membawa sebuah surat.
"Maimunah," kata Yumi, "ini surat dari Naufal."
Maimunah mengambil surat itu. Ia membukanya, dan ia terkejut. Di dalam surat itu, Naufal menuliskan permintaan maafnya pada Yumi. Naufal juga menuliskan, kalau ia masih mencintai Maimunah.
"Aku... aku nggak tahu harus gimana," kata Maimunah.
Yumi tersenyum. "Naufal itu memang pria yang baik. Tapi dia juga pria yang pengecut. Dia nggak berani jujur sama perasaannya."
Maimunah terdiam. Ia merasa, Yumi adalah wanita yang kuat.
"Maimunah, aku... aku minta maaf," kata Yumi, "aku tahu, kamu pasti sakit hati."
"Nggak apa-apa," jawab Maimunah, "aku udah ikhlas."
Yumi tersenyum. "Kamu wanita yang kuat, Mun."
Maimunah merasa, ia telah menemukan sahabat baru. Yumi, seorang wanita dari Jepang yang ternyata memiliki kisah yang sama dengan Maimunah. Maimunah merasa, ia tidak sendirian.
To be continued...
