Matahari di Murung Pudak mulai meninggi, memantulkan cahaya pada aspal basah sisa hujan semalam. Hifni sudah berangkat ke kantor Pemkab di Tanjung menggunakan motor dinasnya, sementara Rina sedang sibuk menyiapkan kuis Bahasa Inggris untuk murid-muridnya di SMA lewat laptop. Di teras, Khalisah masih asyik dengan dunianya sendiri. Si Jagau, si kucing oren "preman" itu, kini sedang tertidur pulas di atas sandal karet milik Hifni, seolah-olah sandal itu adalah bantal sutra dari Turki.
"Khalisah, get ready! Kita mau ke apotek sebentar, lalu mampir ke swalayan beli stok susu kamu," seru Rina dari dalam rumah.
"Boleh bawa Jagau, Bunda?" teriak Khalisah penuh harap.
"No, Honey. Jagau stays here. Dia harus menjaga rumah dari serangan cicak," canda Rina sambil keluar rumah membawa kunci mobil.
Perjalanan dari Murung Pudak menuju pusat kota Tanjung tidak memakan waktu lama. Namun, saat melewati sebuah kompleks perumahan baru yang pagarnya serba putih dan tampak elit, mobil Rina melambat. Di depan salah satu rumah paling megah, tampak seorang bocah perempuan bergaun merah muda sedang berdiri di taman. Di pelukannya, terdapat sesosok makhluk putih sangat gemuk yang terlihat seperti gumpalan awan.
"Bunda, berhenti! Lihat! Ada kucing kapas!" Khalisah menunjuk-nunjuk dengan semangat.
Rina, yang dasarnya juga mudah penasaran, menepikan mobilnya. Kebetulan, di depan rumah itu ada seorang wanita cantik mengenakan jas putih dokter yang sedang merapikan tanaman. Wanita itu menoleh, tersenyum ramah, dan membuka masker medisnya.
Rina tertegun sejenak. "Dokter Dina? Dokter Gigi Dina Yulianti?"
Wanita itu mengangguk, matanya berbinar. "Iya, benar. Maaf, ini Ibu Rina yang mengajar di SMA itu, kan? Yang suaminya Pak Hifni?"
Percakapan orang dewasa itu segera tenggelam oleh antusiasme dua bocah di bawah mereka. Khalisah sudah turun dari mobil dan berdiri di depan pagar, menatap kucing putih itu dengan mata membulat.
"Namanya siapa?" tanya Khalisah tanpa malu-malu.
Bocah bergaun pink itu tersenyum lebar. "Namanya Snowee. Dia kucing British Shorthair. Dia punya sertifikat, lho. Kamu siapa?"
"Aku Khalisah Salsabilla," jawab Khalisah tegas.
Bocah itu tampak terkejut. "Lho? Namaku juga Naura Salsabilla. Kenapa nama kita sama?"
Di belakang mereka, Dina dan Rina saling pandang. Rina tersenyum kaku, sementara Dina memberikan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara ramah dan sesuatu yang bersifat nostalgia.
"Snowee tidak suka ikan asin," lanjut Naura sambil mengelus bulu kucingnya yang sangat halus. "Dia makanannya harus yang kaleng rasa salmon premium. Kalau tidak, dia bisa mogok makan dan stres."
Khalisah mengerutkan kening. "Kucing bisa stres? Si Jagau di rumahku cuma stres kalau tidak ada tulang ayam. Dan Jagau itu kuat, dia bisa melompat sampai ke atas genteng sekolah!"
"Snowee tidak bisa melompat tinggi," sahut Naura bangga. "Dia kan Princess. Dia cuma jalan-jalan di atas karpet bulu di dalam kamar pakai AC."
Khalisah merasa dunianya sedikit terguncang. Ia baru tahu ada kucing yang hidupnya lebih mewah daripada dirinya yang sering harus berbagi kipas angin dengan Abah saat mati lampu di Murung Pudak. Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa saingnya.
"Boleh aku pegang?" tanya Khalisah ragu.
"Boleh, tapi pelan-pelan ya. Snowee tidak suka orang yang tangannya bau bawang," ucap Naura dengan nada polos yang tanpa sengaja agak sombong.
Khalisah mengendus tangannya sendiri—bau sabun cuci tangan sisa tadi pagi. Aman. Saat tangannya menyentuh bulu Snowee, ia terkesiap. "Wah, seperti pegang awan di langit!"
Dina menghampiri mereka sambil membawa dua kotak susu kotak. "Wah, sepertinya dua Salsabilla ini bakal jadi teman baik. Naura memang jarang punya teman bermain sejak kami pindah ke Tabalong bulan lalu."
Rina mengangguk, mencoba mencerna situasi. "Iya, Dokter. Dunia memang sempit ya. Suami saya, Hifni, sering cerita kalau ada dokter gigi baru yang sangat kompeten di Tanjung. Tak sangka ternyata kita bertetangga dekat."
"Kirim salam untuk Pak Hifni, ya," ucap Dina dengan nada yang sangat sopan, namun ada jeda satu detik sebelum ia menyebut nama Hifni yang membuat insting guru Bahasa Inggris Rina bekerja lebih tajam dari biasanya.
Sambil melambaikan tangan saat mobil mulai melaju, Khalisah berkata pelan, "Bunda, aku mau ajak Naura ke rumah. Aku mau tunjukkan kalau Jagau bisa menangkap tikus. Snowee pasti takut sama tikus, kan?"
Rina hanya tertawa, namun pikirannya mulai melayang pada sebuah pertanyaan besar: Kenapa suami saya tidak pernah cerita kalau dia mengenal dokter gigi secantik Dina? Dan kenapa nama anak mereka bisa benar-benar sama?
Sepertinya, urusan kucing ini hanyalah pembuka dari babak baru kehidupan keluarga mereka di Tabalong.
Tips Untuk Pembaca:
Seperti Naura, jika Anda memiliki kucing ras seperti British Shorthair atau Persia, perawatan bulu adalah kunci utama. Anda bisa mendapatkan berbagai jenis sisir kucing dan vitamin bulu di Shopee Indonesia atau Tokopedia. Jangan lupa untuk selalu mengonsultasikan kesehatan anabul Anda ke dokter hewan terdekat di Layanan Kesehatan Hewan Kalsel untuk memastikan mereka bebas dari kutu dan jamur!
