Pagi itu di Pelaihari, sinar matahari mulai membasuh atap-atap rumah di Gang Hikmah, memberikan energi bagi warga untuk memulai rutinitas. Melysa baru saja menyelesaikan rutinitas paginya—membersihkan sisa-sisa ampas jahe dan kunyit di dapur—ketika ia teringat bahwa ia memiliki janji untuk berbagi rahasia kesehatan dengan Agustina Rahmi. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Melysa merasa perlu memberikan "bantuan" ekstra bagi tetangganya itu: kebiasaan Nina (panggilan akrab Agustina) yang menurut Melysa terlalu "bersandar pada kimia pabrik."
Melysa melangkah ke teras rumahnya sambil membawa sebuah bungkusan kertas cokelat berisi potongan-potongan kayu kering. Itu adalah kayu bajakah, tanaman hutan Kalimantan yang melegenda, yang baru saja dikirimkan oleh kerabatnya dari daerah pedalaman Tanah Laut. Di kepalanya, Melysa sudah menyusun kalimat-kalimat persuasif yang halus namun mengandung sedikit nada komedi untuk membujuk Nina.
"Assalamu’alaikum, Jeng Nina! Sedang sibuk apa?" seru Melysa dari balik pagar kayu yang memisahkan halaman rumah mereka.
Agustina, yang sedang menyemprotkan cairan pembersih kaca ke jendela depannya dengan gerakan yang sangat simetris, menoleh dan tersenyum. "Wa’alaikumussalam, Jeng Mel. Ini, sedang memastikan kuman-kuman tidak punya tempat untuk 'pengajian' di kaca rumah saya. Ada apa, Jeng? Aromanya kok beda lagi pagi ini? Bukan jahe ya?"
Melysa tertawa kecil, suara tawa yang khas dan menenangkan. "Ini bau hutan, Jeng! Ini kayu bajakah asli. Tahu kan, Jeng? Yang sempat heboh di berita itu. Ini bagus sekali untuk daya tahan tubuh. Saya bawakan sedikit buat Jeng Nina, supaya tidak perlu terus-menerus minum suplemen botolan yang isinya zat sintetis itu."
Agustina menghentikan aktivitasnya, meletakkan botol pembersih, dan mendekati pagar. Ia memandang potongan kayu kering itu dengan dahi berkerut, seolah sedang menganalisis spesifikasi laboratorium di balik serat kayu tersebut.
"Waduh, Jeng Mel... Bajakah ya?" Nina ragu. "Saya pernah baca, tanaman ini memang punya antioksidan tinggi, tapi dosisnya bagaimana? Kalau di apotek, kan jelas, satu tablet isinya 500mg. Kalau kayu begini, bagaimana saya tahu kalau saya tidak kelebihan dosis? Nanti ginjal saya kaget kalau tiba-tiba kena dosis 'hutan liar'."
Melysa hampir tersedak tawa mendengar istilah 'dosis hutan liar'. Ia memang sudah menduga reaksi skeptis tetangganya yang satu ini. "Jeng Nina, ini alam yang bicara. Allah menciptakan tanaman ini dengan takaran-Nya sendiri. Cukup direbus dua potong sampai airnya kemerahan. Rasanya tawar, tidak seperti puyer obat yang pahitnya bisa teringat sampai besok pagi."
Dialog antara keduanya terus berlanjut di bawah keteduhan pohon mangga yang dahan-dahannya saling menyeberang pagar. Di satu sisi, Melysa berbicara tentang kearifan lokal masyarakat Banjar—tentang tradisi batamba (berobat) yang menggunakan bahan-bahan pemberian bumi. Ia bercerita bagaimana kakek-nenek mereka di Pelaihari tetap kuat mencangkul sawah hingga usia senja berkat ramuan herbal.
Di sisi lain, Agustina dengan cerdas memberikan perspektif medis modern. Ia menjelaskan tentang pentingnya sterilitas dan bagaimana industri farmasi sebenarnya mengekstraksi kebaikan alam menjadi bentuk yang lebih stabil dan aman dikonsumsi.
"Jeng Mel tahu tidak?" ujar Nina dengan gaya seperti seorang apoteker profesional. "Banyak obat hebat di rumah sakit itu asalnya dari tanaman juga. Tapi sudah 'disekolahkan' dulu di laboratorium supaya kita tahu mana yang benar-benar obat dan mana yang hanya ampas."
"Berarti tanaman saya ini 'masih PAUD' ya, Jeng? Belum sarjana?" canda Melysa, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak di tengah teriknya matahari yang mulai naik.
Meskipun perdebatan tentang "Herbal vs Kimia" ini seolah tidak pernah menemukan titik temu, ada sebuah benang merah islami yang menyatukan mereka. Dalam candaan itu, mereka menyadari bahwa baik ramuan kayu bajakah Melysa maupun tablet vitamin Agustina hanyalah wasilah atau perantara. Keduanya sepakat bahwa kesembuhan adalah mutlak hak prerogatif Allah SWT.
"Ya sudah, Jeng. Kayu bajakah ini saya terima sebagai tanda cinta tetangga," kata Agustina akhirnya, menerima bungkusan itu dengan tangan terbuka. "Tapi jangan marah ya kalau nanti saya minumnya tetap didampingi segelas air mineral yang sudah difilter tiga kali."
"Silakan, Jeng Nina. Yang penting niatnya satu: menjaga tubuh agar kuat untuk beribadah. Daripada debat terus, mending sore nanti kita ke Taman Permana di Telaga? Katanya pemandangannya sedang bagus untuk refreshing mata. Kan mata yang lelah juga butuh obat, kan?" ajak Melysa.
Agustina mengangguk setuju. "Ide bagus! Mata segar itu obat alami yang tidak ada di apotek manapun."
Pertemuan di pagar itu berakhir dengan salam dan senyuman. Gang Hikmah kembali tenang, menyisakan dua wanita yang kembali ke rumah masing-masing dengan rasa syukur. Di Pelaihari yang damai ini, perbedaan pendapat bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan yang membuat hubungan mereka semakin kokoh dalam ukhuwah Islamiyah.
Catatan Edukasi untuk Pembaca:
Bab ini menyoroti pentingnya toleransi dalam perbedaan pandangan kesehatan. Kayu Bajakah memang dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi (flavonoid dan tanin), namun penggunaan medis modern melalui obat kimia yang terstandarisasi tetap krusial untuk penanganan penyakit yang spesifik. Di Kalimantan Selatan, perpaduan kearifan lokal dan medis modern menciptakan masyarakat yang sehat secara fisik dan harmonis secara sosial.
Untuk Anda yang tertarik mendalami manfaat tanaman herbal, Anda dapat mengunjungi Laman Budidaya Tanaman Obat Kemenkes atau berkonsultasi mengenai keamanan obat di Situs Resmi BPOM RI.
