Jika Old Trafford disebut sebagai Theatre of Dreams, maka Royal Manchester Children’s Hospital di malam hari adalah Theatre of Reality. Tidak ada sorak sorai penonton, yang ada hanya bunyi ritmis dari mesin monitor jantung dan langkah kaki perawat yang terburu-buru di atas lantai linoleum yang dingin.
Malam itu adalah malam ke-21 Ramadan. Malam ganjil pertama di sepuluh hari terakhir. Layla tiba di rumah sakit pukul 20.00, tepat setelah menelan tiga butir kurma dan segelas besar susu di kursi kemudi mobilnya. Tidak ada waktu untuk makan besar. Sebagai perawat senior di bangsal onkologi, tanggung jawabnya meningkat dua kali lipat saat rekan-rekannya mengambil cuti Paskah.
"Layla, kau terlihat seperti orang yang baru saja melihat United kalah 5-0," tegur Sarah, rekan sesama perawat yang sedang bersiap pulang.
Layla memaksakan senyum sambil merapikan hijab instannya. "Lebih buruk, Sarah. Aku baru saja menghabiskan dua jam mendengarkan Yusuf berpidato tentang betapa hebatnya taktik Pep Guardiola. Rasanya lebih haus daripada tidak minum seharian."
Sarah tertawa kecil, menepuk bahu Layla. "Semoga shift malammu tenang. Oh, dan hati-hati, pasien baru di Kamar 402 agak... sulit."
Kamar 402 dihuni oleh Toby, seorang bocah berusia sembilan tahun dengan wajah pucat dan topi rajut yang menutupi kepalanya yang tanpa rambut. Begitu Layla masuk untuk memeriksa suhu tubuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah poster besar Erling Haaland yang tertempel di dinding dekat ranjang.
Layla terhenti. Ia menarik napas panjang. Sabar, Layla. Ini ujian Lailatul Qadar, batinnya.
"Halo, Toby. Aku Layla. Waktunya memeriksa suhu tubuhmu," sapa Layla ramah.
Toby menatap Layla dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu matanya tertuju pada pin kecil di hijab Layla—sebuah logo kecil Manchester United yang ia selipkan secara sembunyi-sembunyi.
"Kau pendukung setan merah?" tanya Toby dengan suara serak.
"Aku pendukung tim terbaik di Manchester, ya," jawab Layla diplomatis.
Toby mendengus. "Ayahku bilang fans United itu hidup di masa lalu. Seperti dinosaurus."
Layla terkekeh sambil mencatat suhu tubuh Toby. "Mungkin saja. Tapi setidaknya dinosaurus punya sejarah yang besar, bukan sekadar sejarah yang dibeli dengan uang minyak."
Toby terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Itulah pertama kalinya ia tersenyum sejak masuk rumah sakit dua hari lalu. "Tapi mereka menang terus, Layla. Aku ingin sembuh secepat mereka mencetak gol."
Kalimat itu menghujam jantung Layla. Sisi komedi dalam dirinya lenyap seketika, digantikan oleh rasa sesak yang sering ia rasakan sebagai perawat. Di sini, di kota yang terbelah oleh warna bola, penyakit tidak memilih apakah kau merah atau biru.
Pukul 02:00 pagi. Waktu sahur hampir tiba. Layla duduk di ruang istirahat yang sepi, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke arah pusat kota. Lampu-lampu Beetham Tower tampak seperti berlian di tengah kegelapan.
Ia membuka bekal sahurnya: nasi putih dingin dan sisa kari domba buatan ayahnya. Saat ia hendak menyuap, ia teringat Toby. Ia teringat ayahnya yang mungkin sedang terbangun sendirian di rumah, mengira ini tahun 1999 dan sedang bersiap menonton final di Barcelona.
Layla meletakkan sendoknya. Ia membentangkan sajadah kecil di sudut ruangan yang tersembunyi. Di malam ganjil ini, di tengah shift yang melelahkan, ia bersujud.
“Ya Allah,” bisiknya dalam keheningan yang hanya dipecah oleh dengung kulkas di pojok ruangan. “Aku tidak meminta United menang setiap minggu—meski itu akan sangat membantu mentalku. Aku hanya meminta kesembuhan untuk Toby. Aku meminta ingatan Ayah tetap terjaga, setidaknya agar ia selalu ingat namaku dan nama-Mu.”
Air mata Layla jatuh, membasahi kain sajadahnya. Menjadi muslim di Manchester berarti menjadi bagian dari minoritas yang berjuang, tapi menjadi fans United berarti belajar bahwa kejayaan selalu diawali dengan penderitaan.
Tiba-tiba, alarm darurat berbunyi dari arah koridor. Layla langsung melompat, melipat sajadahnya dalam hitungan detik, dan berlari. Itu dari Kamar 402.
Layla menemukan Toby sesak napas. Tim dokter segera berdatangan. Di tengah kepanikan itu, Layla memegang tangan Toby yang dingin. Ia membisikkan kata-kata penenang, bukan tentang bola, tapi tentang kekuatan.
"Tunggu sebentar, Toby. Jangan menyerah sekarang. Pertandingan belum usai," bisik Layla di telinga bocah itu.
Setelah tiga puluh menit yang mencekam, kondisi Toby stabil. Ia tertidur karena pengaruh obat. Layla berdiri di samping tempat tidur, kelelahan secara fisik dan mental. Ia melirik jam. Waktu sahur sudah habis. Ia bahkan belum sempat meminum air putihnya.
"Layla? Kau tidak apa-apa?" tanya seorang dokter muda bernama David.
"Hanya... sedikit haus, Doc," jawab Layla dengan suara parau.
"Kau masih berpuasa di tengah tekanan seperti ini? Luar biasa. Jika aku jadi kau, aku sudah menyerah sejak jam dua tadi."
Layla tersenyum bangga. "Kami fans United, Doc. Kami tidak tahu cara menyerah sebelum peluit panjang berbunyi."
Layla berjalan kembali ke pos perawat. Meski perutnya perih dan tenggorokannya kering, ada rasa damai yang aneh mengalir di dadanya. Ia mungkin melewatkan makan sahurnya, tapi ia merasa baru saja memenangkan pertandingan paling penting dalam hidupnya di bawah langit malam Manchester yang merah.
