Malam Minggu di rumah keluarga Salman biasanya adalah malam yang tenang, diisi dengan kajian keluarga ringan atau menonton tayangan Islami di televisi. Namun, malam ini, ketenangan itu terusik oleh perdebatan sengit di ruang keluarga. Topiknya bukan soal agama atau pendidikan, melainkan soal—tentu saja—selebriti Indonesia.
Perdebatan bermula saat Aisyah sedang asyik menonton film drama keluarga di salah satu saluran TV nasional. Di layar kaca, aktor favoritnya, Reza Rahadian, sedang berakting dengan sangat apik dalam sebuah adegan emosional.
“Masya Allah, akting Reza Rahadian ini memang juara, ya. Penghayatannya total banget. Setiap peran yang dia mainkan selalu hidup dan menyentuh hati,” komentar Aisyah, matanya terpaku pada layar.
Fikri, yang sedang membaca koran lokal Banjarmasin Post di sofa seberangnya, menurunkan korannya dan menyeringai. “Ah, Umi. Bagus sih bagus, tapi masih kurang ‘berisi’ kalau dibandingkan sama akting seniornya, Tante Christine Hakim. Christine Hakim itu legend! Auranya kuat banget, setiap gesture-nya penuh makna.”
“Ya beda generasi, Yah,” bela Aisyah. “Kalau Reza Rahadian ini kan karismanya lebih modern, lebih bisa masuk ke semua genre film, dari drama sampai komedi Islami. Fleksibel.”
Perdebatan kecil suami istri itu segera menarik perhatian anak-anak. Rizki, Zahra, dan Fahmi yang sedang sibuk sendiri-sendiri, langsung merapat ke ruang keluarga, siap untuk ikut meramaikan suasana. Hanya Mila yang sudah tidur lelap.
Rizki, si mahasiswa kedokteran yang kalem, mengambil posisi netral. “Sebenarnya, mereka berdua itu sama-sama profesional, Umi, Ayah. Etos kerja mereka yang patut kita contoh. Disiplin waktu, totalitas, itu nilai Islami yang bisa kita ambil.”
“Betul, Kakak!” seru Zahra. “Tapi kalau soal gaya, aku tetap pilih Reza Rahadian. Styling-nya selalu on point. Bikin inspirasi look buat acara formal.”
Fikri berdecak. “Fashion lagi, fashion lagi. Dengar, Nak. Aktor itu dinilai dari kualitas akting, bukan bajunya. Sama kayak penyanyi. Coba kalian dengar lagu Chrisye atau Ebiet G. Ade. Liriknya itu dalam, puitis, dan suaranya khas banget. Bikin hati adem.”
“Itu kan selera Ayah yang zaman dulu banget,” Fahmi menyela dengan berani. “Sekarang zamannya konten, Yah! Bang Atta Halilintar itu lebih keren. Dia bisa buat konten dakwah, prank, nyanyi rap, semua ada. Skill multi-talenta!”
Fikri memelototi Fahmi. “Konten prank itu Islami dari mana, Nak?”
“Ya... seru aja, Yah! Menghibur!” Fahmi membela diri.
Aisyah yang melihat perdebatan mulai memanas, segera menengahi dengan bijak. “Sudah, sudah. Semua idola kalian itu ada baiknya. Yang penting kita bisa mengambil pelajaran positif dari mereka. Ketekunan mereka bekerja, semangat mereka untuk terus berkarya, itu yang harus kita tiru. Soal selera film atau musik, itu urusan masing-masing.”
Zahra mengangguk setuju. “Umi benar. Walaupun aku suka style Dian Pelangi, aku juga harus tekun belajar biar bisa sukses kayak dia.”
Rizki menambahkan, “Dan kita tetap harus jaga adab dalam mengidolakan seseorang. Jangan sampai idolatri berlebihan yang melupakan kewajiban kita sebagai Muslim.”
Fikri tersenyum mendengar wejangan Islami dari anak sulungnya. Aisyah berhasil menanamkan nilai-nilai agama di tengah demam selebriti ini.
“Tuh dengerin kata Kakak sama Umi,” kata Fikri, menyudahi perdebatan. “Tapi tetap, suara Chrisye pas lagi ngaji itu paling syahdu di dunia.”
Mereka semua tertawa. Perdebatan ringan soal idola hanyalah bumbu penyedap dalam keharmonisan keluarga Salman. Di rumah itu, di Kota Banjarbaru yang damai, setiap malam minggu selalu berakhir dengan tawa dan kehangatan. Mereka mungkin menyukai artis yang berbeda, tetapi tujuan mereka sama: hidup bahagia dalam bingkai keluarga Islami.
