Setelah menempuh belasan jam perjalanan udara yang melelahkan namun penuh debar rindu, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Aroma udara gurun yang khas—campuran antara panas yang kering dan wangi sisa air mawar—mulai menyusup masuk melalui pintu pesawat yang terbuka.
Di garbarata, Muhammad Hifni menggendong Khalisah yang masih setengah mengantuk. Rina Rufida berjalan di sampingnya, tetap terlihat segar meskipun jilbabnya sedikit kusut. Sebagai guru Bahasa Inggris, Rina dengan sigap membaca setiap papan petunjuk arah. "Ayah, kita ke arah Immigration Check dulu, jangan sampai terpisah dari rombongan," ucapnya tenang.
Namun, ketenangan itu seketika pecah saat mereka mencapai area pengambilan bagasi (baggage claim). Di sana, seorang pria berkacamata dengan kaos bertuliskan "IT Support till I Die" tampak sedang berdebat seru dengan petugas bandara. Dialah Lev ℛyley.
"Sir, listen to me... ini koper isinya cuma kain dan sedikit... oke, banyak mukena. Not for sale! Ini untuk dipakai sendiri!" seru Lev dengan bahasa Inggris yang agak berantakan, sementara tangannya sibuk memperagakan gerakan memakai baju.
Di belakangnya, Anindya Putri tampak sibuk dengan ponselnya, melakukan live streaming darurat. "Halo semuanya, ini kita lagi di Jeddah. Drama banget, koper Mamah Anin ditahan karena dikira mau jualan di pasar seng. Doain ya biar lolos!"
Aisyah Humaira hanya bisa menutupi wajahnya dengan paspor. "Ma, sudah Aisyah bilang, jangan bawa stok skincare satu etalase," bisiknya sambil mencoba menenangkan petugas dengan senyum ramah khas mahasiswi PGSD ULM yang terbiasa menghadapi murid nakal.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil memecah ketegangan.
"Ibu, lihat! Ada kucing pakai baju!" seru Khalisah.
Rupanya, Khalisah melihat seekor kucing bandara yang kebetulan lewat di dekat tumpukan koper keluarga Lev. Kucing itu tampak gagah, bulunya kuning keemasan, persis seperti kucing yang sering Khalisah lihat di video YouTube. Khalisah berlari kecil mendekati kucing itu, yang kebetulan sedang mengendus salah satu koper pink milik Anindya Putri yang terbuka sedikit ritsletingnya.
"Eh, Dek! Hati-hati, itu koper isinya barang pecah belah semua!" seru Lev kaget melihat bocah kecil tiba-tiba muncul di tengah 'medan perangnya'.
Hifni segera menyusul anaknya. "Maaf, Pak. Anak saya memang sangat suka kucing. Khalisah, ayo sini, jangan ganggu koper orang," ujar Hifni sopan sambil menyalami Lev.
Melihat Hifni yang tenang dan berwibawa, Lev seketika melunak. "Oh, orang Banjar jua kah, Pak? Ulun dari Banjarmasin," sapa Lev dengan dialek lokal yang kental, seketika melupakan perdebatan dengan petugas bandara.
"Inggih, ulun dari Barabai," jawab Hifni tersenyum.
Di saat para ayah mulai akrab karena ikatan primordial, anak-anak mereka pun mulai berinteraksi. Ghina Qalbi langsung mengarahkan kameranya ke arah Khalisah. "Wah, ada guest star baru nih! Halo Dek, namanya siapa? Kamu suka kucing ya? Sama dong, kita mau cari kucing paling aesthetic di Mekah!"
Maryam Safiya yang sedari tadi diam, perlahan mengeluarkan buku sketsanya dan menggambar sketsa cepat Khalisah yang sedang mencoba mengelus kucing bandara tersebut. Sementara Rayyan Zuhayr menawarkan biskuit yang ia bawa dari tasnya kepada Khalisah. "Ini buat kamu, kata buku yang aku baca, berbagi itu pintu surga."
Drama koper yang semula menegangkan berubah menjadi ajang silaturahmi dadakan di tanah Arab. Petugas bandara yang melihat kehangatan dua keluarga ini akhirnya hanya menggelengkan kepala dan membiarkan Lev membawa koper-kopernya setelah Aisyah membantu menjelaskan dalam bahasa yang lebih diplomatis.
"Alhamdulillah," ucap Rina Rufida. "Sepertinya kita akan sering bertemu di bus nanti, Pak Lev."
"Wah, harus itu! Biar ada yang ngerem istri ulun kalau sudah lihat tulisan 'sale' di mall depan Masjidil Haram nanti," canda Lev yang disambut tawa oleh semua orang.
Dengan semangat yang baru, kedua keluarga ini melangkah menuju bus yang akan membawa mereka ke Mekah. Di dalam bus, Khalisah duduk di jendela, matanya berbinar menatap hamparan padang pasir. Dalam hatinya, ia berjanji akan menemukan kucing paling hebat di Mekah untuk diceritakan pada teman-temannya di Barabai nanti.
Bagaimana menurutmu? Apakah ingin lanjut ke Bab 3 yang menceritakan malam pertama mereka di Mekah dan tantangan salat Tarawih pertama di Masjidil Haram?
