Pertarungan di puncak Gunung Es Abadi telah memisahkan Lev, Vania, dan Anatasya. Sombra, dalam wujud Luna, memanfaatkan kelemahan mereka dengan kejam. Ia tahu bahwa kekuatan mereka terletak pada persatuan, dan memisahkan mereka adalah kunci kemenangannya.
Lev terdampar di sisi tebing yang lain, sendirian. Suara Sombra terus berbisik, memprovokasi keraguan yang selama ini Lev pendam. "Lihatlah, Lev. Teman-temanmu berjuang sendiri. Mereka tidak membutuhkanmu. Mereka lebih kuat darimu. Jika kau punya kekuatan es, kau bisa menyelamatkan mereka."
Lev menutup telinganya, tetapi suara itu terus menggema. Ia tahu bahwa itu adalah ilusi, tetapi ketakutan itu nyata. Ia teringat akan gambaran-gambaran dalam mimpinya, di mana Vania dan Anatasya terluka parah. Ia merasa takut, ia merasa tidak berdaya.
Namun, ia juga teringat akan kata-kata Kael. "Kekuatanmu adalah fondasi. Ia adalah stabilitas. Ia adalah ketenangan. Ia adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi ia adalah yang paling kuat."
Lev menghela napas, menenangkan dirinya. Ia menyentuh tanah di bawahnya, merasakan energi dingin yang mengalir. Ia tidak lagi mencoba untuk memanipulasi tanah, tetapi ia mencoba untuk menjadi bagian dari itu. Ia memvisualisasikan dirinya sebagai pohon yang kokoh, akarnya tertanam kuat di tanah, tidak bisa digoyahkan oleh badai es Sombra.
Di tempat lain, Vania juga berjuang sendirian. Sombra menciptakan ilusi yang menunjukkan semua orang yang ia cintai terbakar oleh apinya sendiri. Vania terkejut, dan apinya hampir padam. Tetapi ia teringat akan kata-kata Lev dan Anatasya. "Kita akan menghadapi mereka bersama."
Vania kembali mengendalikan apinya. Ia tidak lagi menggunakan api untuk menyerang, tetapi untuk melindungi dirinya. Ia menciptakan perisai api yang membakar ilusi Sombra, dan ia meluncurkan bola-bola api yang memusnahkan bayangan-bayangan yang menyerangnya.
Anatasya juga berjuang sendirian. Sombra menciptakan ilusi yang menunjukkan dirinya tenggelam di dalam air yang ia kendalikan. Anatasya hampir menyerah, tetapi ia teringat akan kata-kata Lev dan Vania. "Ingat, kita saling melindungi."
Anatasya mengendalikan airnya. Ia tidak lagi menggunakan air untuk menyerang, tetapi untuk melindungi dirinya. Ia menciptakan pusaran air yang kuat, yang membersihkan ilusi Sombra, dan ia menciptakan dinding-dinding air yang menangkis serangan Sombra.
Lev, yang kini lebih mengendalikan dirinya, merasakan bahwa Vania dan Anatasya sedang berjuang. Ia tahu bahwa ia harus membantu mereka. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan gempa kecil. Getaran itu mencapai Vania dan Anatasya, memberi mereka sinyal.
Vania dan Anatasya, yang mengerti sinyal Lev, mulai bergerak. Vania menggunakan apinya untuk menciptakan panas, Anatasya menggunakan airnya untuk menciptakan uap, dan Lev menggunakan elemen buminya untuk menciptakan gempa. Serangan-serangan mereka bersatu, menciptakan badai uap panas yang menyerang Sombra.
Sombra, yang terkejut, tidak bisa menghindar. Wujud Luna-nya mulai pecah, menunjukkan kabut hitam yang sebenarnya.
"Kalian... bagaimana?" bisik Sombra.
"Kami adalah satu," jawab Lev, suaranya dipenuhi tekad. "Kami saling percaya."
Sombra mundur, menghilang dalam kepulan asap hitam. Tetapi, ia meninggalkan jejak. Kristal es, yang tadinya ia pegang, terjatuh ke tanah.
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, dan Anatasya bersatu kembali, kelelahan tetapi lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil melewati ujian terbesar mereka. Mereka berhasil mengalahkan Sombra. Namun, mereka tahu bahwa pertempuran ini hanyalah permulaan. Mereka tahu bahwa Sombra akan kembali, dan mereka harus bersiap. Di tangan mereka, ada kristal es, artefak yang bisa membebaskan Elara dan mengalahkan Sombra selamanya.
