Seiring berjalannya waktu, kedekatan antara Eva dan Alex semakin dalam. Alex menjadi sosok yang hangat dan akrab dalam kehidupan Eva. Ia sering menghabiskan waktu luangnya di toko "Memori Abadi" atau "Temaram Senja". Hubungan mereka terjalin dengan sendirinya, tanpa paksaan, penuh tawa dan percakapan ringan tentang seni, kopi, dan hal-hal sepele lainnya. Namun, di balik semua kehangatan itu, ada sebuah gunung es yang disembunyikan. Rahasia keabadian Eva. Dan Alex, dengan instingnya yang tajam sebagai seorang seniman, mulai merasakan ada yang tidak biasa.
Suatu hari, Alex datang ke toko antik Eva, wajahnya terlihat serius. Ia membawa sebuah buku foto tua yang ia temukan di toko. Buku itu berisi foto-foto kota Talkeetna dari awal abad ke-20.
"Eva, lihat ini," kata Alex, menunjuk ke sebuah foto hitam-putih. Di foto itu, terlihat sebuah toko kelontong di jalan utama Talkeetna. Di depan toko itu, berdiri seorang wanita dengan senyum cerah dan rambut panjang yang dikepang.
"Aku merasa seperti... pernah melihatnya," kata Alex, memiringkan kepalanya. "Wajahnya familier."
Eva mengambil buku itu dari tangan Alex, dan jantungnya berdebar kencang. Ia mengenali foto itu. Itu adalah dirinya. Ia pernah bekerja di toko kelontong itu, menggantikan pemiliknya yang sakit. Itu adalah salah satu dari banyak kehidupan yang ia jalani di Talkeetna.
"Itu... bukan aku," kata Eva, mencoba menyangkal, tapi ia tahu suaranya terdengar tidak meyakinkan.
"Tidak mungkin," kata Alex, mengambil buku itu kembali. "Lihat, wajahnya... itu mirip sekali denganmu. Bahkan senyumnya. Apa kau punya saudara kembar yang mirip?"
Eva terdiam, otaknya bekerja keras untuk mencari alasan yang logis. "Mungkin... memang mirip. Banyak orang bilang aku terlihat seperti orang-orang di masa lalu."
"Tapi foto ini dari tahun 1920-an," kata Alex, alisnya berkerut. "Bagaimana mungkin?"
Eva memaksakan sebuah tawa. "Kau tahu, aku punya resep khusus untuk awet muda. Mungkin aku bisa memberikannya padamu suatu saat."
Alex tidak terpengaruh oleh lelucon itu. Ia menatap Eva dengan tatapan yang menyelidik. "Aku serius, Eva. Kau tidak pernah terlihat menua. Aku tidak pernah melihatmu sakit. Kau sepertinya tahu banyak tentang masa lalu. Dan sekarang, ada foto yang mirip sekali denganmu. Siapa kau sebenarnya?"
Eva merasakan sebuah tembok es mulai terbentuk di antara mereka. Ia tahu, ia harus berhati-hati. "Aku hanya... orang yang sangat beruntung, Alex. Aku punya gen yang bagus."
"Gen yang bagus tidak bisa membuatmu tetap sama selama lebih dari seratus tahun," kata Alex, suaranya dipenuhi frustrasi. "Ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Eva mengalihkan pandangannya, menatap ke luar jendela. Salju kembali turun. "Semua orang punya rahasia, Alex."
"Ini bukan rahasia biasa, Eva," kata Alex. "Ini sesuatu yang besar."
Alex mengambil langkah mundur, menjauh dari Eva. Kepercayaan yang telah mereka bangun, kini terasa rapuh.
"Aku akan pergi," kata Alex, suaranya dingin. "Aku butuh waktu untuk berpikir."
Eva hanya bisa melihat Alex pergi, hatinya terasa hancur. Ia tahu, ini akan terjadi. Ia tahu, hubungannya dengan manusia selalu akan berujung pada perpisahan, entah itu karena kematian atau karena rahasianya terbongkar. Ia tahu, Alex tidak akan pernah bisa mengerti.
Setelah Alex pergi, Eva duduk di kursinya, air mata mengalir di pipinya. Lief, yang merasakan kesedihan Eva, melompat ke pangkuannya dan menjilat air mata Eva. Eva memeluk Lief erat-erat. "Aku tahu, Lief," bisik Eva. "Aku sudah tahu ini akan terjadi."
Ia melihat buku foto yang tergeletak di meja, foto dirinya yang tersenyum cerah di awal abad ke-20. Senyum yang kini terasa begitu jauh. Ia menyadari, meskipun ia memiliki keabadian, ia tidak pernah bisa benar-benar hidup di masa kini. Ia selalu terjebak di antara masa lalu dan masa depan yang tak berujung. Dan Alex, dengan instingnya yang tajam, telah melihat sekilas sebagian dari penderitaannya. Luka yang ia sembunyikan selama beratus-ratus tahun, kini terancam terbuka.
