Pada hari Sabtu pagi, suasana di apartemen Lev terasa berbeda. Lev sudah terbiasa dengan kesunyian, tapi hari ini terasa lebih ringan. Ia sudah mulai terbiasa dengan udara dingin, dan pandangannya tidak lagi dipenuhi kenangan Vania, melainkan sedikit kegembiraan yang tak terduga. Rencananya pagi ini, Anatasya akan mengajarinya cara berbelanja di pasar lokal, sebuah tugas yang bagi Lev terasa seperti misi penjelajahan.
Ia mengetuk pintu apartemen Anatasya. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anatasya muncul dengan mantel tebal, rambutnya dicepol tinggi, dan wajahnya berseri-seri. "Pagi, Lev! Sudah siap untuk bertarung dengan harga?" candanya.
"Bertarung dengan harga? Aku kira kita cuma mau belanja," jawab Lev polos.
"Di Swedia, semua harga itu musuh," kata Anatasya sambil tertawa. "Ayo, kita naik trem. Pasar yang bagus ada di dekat area Södermalm."
Perjalanan ke pasar kali ini tidak seperti biasanya. Anatasya sudah tahu bagaimana membuat Lev nyaman, sering kali ia menceritakan lelucon-lelucon kecil yang membuat Lev tersenyum. Lev, yang kini lebih terbuka, juga mulai bercerita tentang kebiasaan di Banjarmasin.
"Kalau di sana, pasar itu ribut sekali, Anatasya. Para pedagang akan teriak-teriak menawarkan barang dagangan mereka," cerita Lev.
Anatasya mendengarkan dengan antusias. "Wow, itu pasti seru sekali! Di sini lebih tenang, tapi kamu akan menemukan hal-hal yang tidak terduga juga."
Sesampainya di pasar, Lev terkejut melihat suasana yang jauh berbeda dari yang ia bayangkan. Pasar itu bersih, rapi, dan tidak ada teriakan pedagang. Makanan tertata dengan artistik, dan aroma keju, buah-buahan, serta roti baru dipanggang memenuhi udara. Lev merasa seperti berada di pameran makanan, bukan pasar.
"Nah, coba lihat ini," Anatasya menunjuk sebuah stand keju. "Ini keju khas Swedia, rasanya sangat unik."
Lev mengangguk, tapi ia memandang dengan curiga. "Bagaimana aku tahu ini halal?"
"Tidak semua keju mengandung bahan haram, Lev. Tapi kalau kamu ragu, lebih baik jangan," jawab Anatasya, mengerti kekhawatiran Lev. "Ayo, kita ke bagian sayuran. Di sini aman."
Mereka berjalan ke bagian sayuran. Lev melihat berbagai macam sayuran yang tidak pernah ia lihat di Banjarmasin. Lev yang teliti mulai memilih sayuran satu per satu, mengamati kondisinya. Anatasya yang tidak sabar melihat Lev, mulai protes.
"Lev, kamu ini mau beli sayur atau mau melamar pekerjaan jadi penjual sayur?" canda Anatasya. "Memilih sayur kok sampai segitunya?"
"Aku diajarkan Vania untuk selalu memilih yang terbaik," jawab Lev, suaranya sedikit melunak. "Vania selalu bilang, makanan yang baik akan menghasilkan kebahagiaan."
Mendengar nama Vania, Anatasya terdiam sejenak. Ia melihat kesedihan di mata Lev, meskipun Lev berusaha menyembunyikannya. Anatasya lalu tersenyum hangat. "Vania benar. Tapi, jangan terlalu lama memilih, nanti sayurannya layu."
Mereka melanjutkan perjalanan ke bagian daging. Lev, yang harus memastikan daging itu halal, bertanya kepada salah satu penjual. Penjual itu, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah, menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar. "Ya, kami menjual daging sapi halal. Ada sertifikasinya."
Lev merasa lega. Ia membeli beberapa potong daging sapi. Anatasya juga membeli beberapa potong daging babi. Lev terdiam sejenak, namun ia tidak berkomentar. Ia tahu, mereka berbeda. Dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghormati perbedaan itu.
Setelah selesai berbelanja, mereka duduk di sebuah bangku di dekat pasar. "Aku jadi ingat masakan Vania," kata Lev, suaranya pelan. "Dia selalu memasak dengan penuh cinta."
Anatasya menatap Lev. "Pasti masakan Vania enak sekali. Kamu bisa coba masak untukku kapan-kapan," tawar Anatasya.
Lev tersenyum. "Tentu. Aku akan ajari kamu masakan Banjar."
Anatasya mengangguk. "Deal! Aku akan ajari kamu cara membuat bakso Swedia."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang tulus, yang datang dari hati yang mulai terbuka. Lev merasa bahwa ia tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga membuka hatinya untuk persahabatan baru. Ia tahu, ia tidak akan bisa melupakan Vania. Tapi, dengan adanya Anatasya, ia tidak lagi merasa sendirian.
Saat mereka pulang, Lev membawa kantong belanjaan yang berat, sedangkan Anatasya membawa kantong yang lebih kecil. Lev menawarkan diri untuk membawa kantong belanjaan Anatasya, tapi Anatasya menolak. "Tidak apa-apa, Lev. Aku kuat kok," katanya.
"Aku juga kuat, Anatasya," jawab Lev. "Aku biasa membantu Vania membawa belanjaan."
Anatasya tersenyum. "Baiklah, kalau begitu, kamu bawa saja kantong belanjaanku. Tapi lain kali, aku yang traktir es krim."
Lev tersenyum. "Deal!"
Mereka berjalan beriringan, berbagi cerita, dan tertawa. Lev merasa bahwa Stockholm, kota yang dulu terasa asing, kini mulai terasa seperti rumah. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang, tapi ia siap untuk menghadapinya, bersama Anatasya, sahabat barunya di negeri yang jauh.
