Pagi di Palangkaraya selalu dimulai dengan aroma udara yang segar, sisa-sisa hujan semalam yang menguap dari tanah gambut. Namun bagi Zaki, pagi ini tidak diawali dengan ketenangan. Saat ia baru saja selesai mengenakan kemeja batiknya untuk berangkat kerja, ia mendapati Siti Nurhaliza sedang termenung di meja makan dengan mata sembab.
"Siti, kamu kenapa? Ada keluarga yang sakit di kampung?" tanya Zaki panik sambil meletakkan tas kerjanya.
Siti mendongak, matanya merah. "Bukan, Mas. Ini lebih parah. Semalam di episode terakhir, si Second Lead (pemeran pendukung pria) itu mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan si wanita, padahal dia yang selalu ada saat wanita itu susah. Kenapa dunia tidak adil, Mas? Kenapa yang tulus selalu tersisih?"
Zaki menarik napas panjang, berusaha mencari frekuensi yang sama dengan logika istrinya. "Sayang, itu kan skenario. Kalau semuanya bahagia, episodenya tidak akan sampai tiga puluh. Sudah, ayo sarapan dulu."
"Mas tidak mengerti!" Siti menyeka air matanya dengan ujung hijabnya. "Mulai hari ini, aku ingin Mas Zaki belajar dari tokoh itu. Mas harus lebih perhatian, lebih puitis, dan kalau bisa... Mas coba pakai potongan rambut comma hair yang sedang tren itu."
Zaki melirik cermin di ruang tamu. Rambutnya tipis khas pria Kalimantan yang praktis. Membayangkan dirinya dengan poni melengkung ala aktor Seoul membuatnya ingin tertawa sekaligus menangis.
"Siti, aku ini arsitek lapangan, bukan aktor agensi. Kalau aku pakai poni begitu di proyek, bisa-bisa tukang bangunan saya pikir saya kena angin duduk," protes Zaki halus.
Sementara itu, di rumah sebelah, suasana tak kalah "internasional". Fahri sedang terjepit di antara dua pilihan sulit. Istrinya, Krisdayanti, sedang terobsesi dengan pola makan organic-vegan ala selebritas Hollywood yang baru saja ia tonton di kanal gaya hidup Amerika.
"Fahri, honey, mulai hari ini no more Nasi Kuning pagi-pagi. It’s too much carbs! Kita ganti dengan smoothie bowl dari bayam, pisang, dan biji-bijian yang aku pesan dari Jakarta," ujar Krisdayanti sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi cairan hijau kental yang tampak mencurigakan.
Fahri menatap mangkuk itu dengan tatapan rindu pada warung "Mama Lela" di ujung jalan yang menjual nasi kuning haruan masak habang. "Daya (panggilan sayang untuk Krisdayanti), kalau aku cuma minum rumput blender begini, tenagaku tidak cukup untuk negosiasi kayu di pelabuhan. Bisa-bisa aku pingsan di depan klien."
"Oh come on, Fahri! Health is wealth! Lihat itu Tom Cruise, umurnya sudah kepala enam tapi masih bisa lari-lari di atas pesawat karena makannya benar!" balas Krisdayanti dengan logat yang dipaksakan kebarat-baratan.
Fahri hanya bisa menunduk, menyeruput cairan hijau itu sambil membayangkan rasa gurih santan dan pedasnya sambal habang yang kini terasa seperti mimpi yang jauh.
Di ujung deretan rumah, Imran mengalami masalah yang berbeda namun setara beratnya. Hermione sedang dalam fase "Sinetron Dramatis". Sejak bangun tidur, Hermione selalu bicara dengan nada bicara yang ditekan-tekan, penuh jeda, dan sering menatap kosong ke arah jendela—persis seperti aktris utama yang sedang merencanakan pembalasan dendam.
"Mas Imran," puji Hermione pelan, namun nadanya sangat misterius.
"Ya, Sayang?" sahut Imran sambil mengikat tali sepatu.
"Apakah ada sesuatu yang Mas sembunyikan dariku? Tadi malam, Mas menerima pesan singkat, tapi Mas tidak langsung memperlihatkannya padaku. Apakah itu dari... wanita itu?"
Imran melongo. "Wanita siapa, Hermione? Itu pesan dari grup WA kantor, soal jadwal rapat koordinasi di Kantor Gubernur!"
"Begitu ya? Itu yang selalu dikatakan oleh suami-suami di sinetron sebelum akhirnya mereka ketahuan punya keluarga kedua di Bekasi," Hermione menyipitkan mata, lalu berbalik dengan gerakan lambat (slow motion) yang dramatis, meninggalkan Imran yang mematung.
Pukul 10 pagi, saat para istri sedang asyik dengan dunia layar kaca mereka masing-masing, ketiga suami itu bertemu "secara tidak sengaja" di sebuah kedai kopi kecil di dekat Bundaran Besar Palangkaraya. Ini adalah markas rahasia mereka, wilayah bebas drama.
"Zaki, aku diminta potong rambut ala Korea," keluh Zaki sambil memesan kopi hitam pekat.
"Itu mending," sahut Fahri lesu. "Aku disuruh sarapan jus rumput. Perutku berbunyi kencang sejak tadi, rasanya mau meledak."
Imran menggelengkan kepala. "Aku dituduh punya selingkuhan di Bekasi. Padahal seumur hidup, ke Jawa saja aku cuma pernah ke Surabaya, itu pun buat urusan dinas. Dia terlalu banyak nonton sinetron ‘Suamiku Adalah Ujian Sabarku’."
Ketiganya terdiam, menyesap kopi masing-masing dalam keheningan yang penuh solidaritas.
"Kita harus melakukan sesuatu," ujar Zaki memecah keheningan. "Kalau dibiarkan, identitas kita sebagai pria asli Kalimantan bisa luntur. Aku tidak mau nanti saat acara Maulid Nabi di masjid, kalian pakai tuxedo atau kaos turtle neck."
"Tapi kita tidak bisa melawan secara frontal," bisik Fahri waspada. "Kalian tahu sendiri, kalau mereka sudah merajuk, satu rumah bisa mendung berminggu-minggu."
"Kita pakai diplomasi," usul Imran, sang PNS yang ahli dalam negosiasi. "Diplomasi Nasi Kuning dan Ikan Bakar. Kita ajak mereka makan keluar besok malam ke tepian Sungai Kahayan. Kita ingatkan mereka bahwa hidup yang nyata itu ada di sini, di Palangkaraya, bukan di Seoul, LA, atau Jakarta."
Rencana pun disusun. Namun, mereka lupa satu hal: besok malam adalah jadwal penayangan serentak Grand Final acara pencarian bakat internasional yang sangat dinantikan ketiga istri mereka.
Zaki, Fahri, dan Imran pulang dengan harapan baru, tanpa menyadari bahwa sebuah "perang dunia" memperebutkan remot TV sedang mengintai di balik pintu rumah mereka masing-masing.
Rekomendasi untuk Pembaca:
Apakah Diplomasi Nasi Kuning berhasil atau justru berakhir dengan aksi mogok masak massal? Ikuti terus di Bab 3: Krisdayanti dan Misi Mengubah Fahri Menjadi Tom Cruise Versi Syariah!
