Berbeda dengan ketegangan birokrasi di kantor Hifni, suasana di kelas yang diajar Rina Rufida terasa lebih hidup dan dinamis. Pagi itu, Rina memiliki jadwal mengajar mata kuliah English for Public Administration di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Puruk Cahu.
Ruangan kelasnya tidak mewah, tapi Rina membuatnya terasa nyaman. Papan tulis putih bersih, proyektor yang menyala, dan mahasiswa-mahasiswa semester empat yang penuh semangat—atau setidaknya, sebagian besar dari mereka—menyambut kehadirannya. Dengan setelan batik ungu lembut dan kerudung senada, Rina berdiri di depan kelas dengan senyum hangat.
"Good morning, everyone. How are you today?" sapanya, memulai kelas sepenuhnya dalam Bahasa Inggris.
"Morning, Miss Rina! We are fine, Alhamdulillah!" jawab para mahasiswa serempak.
Rina memang dikenal sebagai dosen yang disiplin dalam penerapan bahasa di kelasnya, tapi juga sangat inspiratif dan humoris. Dia tahu persis bagaimana membuat mata kuliah yang sering dianggap "momok" ini menjadi menarik, terutama di lingkungan mahasiswa administrasi yang lebih sering berkutat dengan angka dan hukum.
"Alright. Hari ini kita akan latihan role-playing. Anda semua calon-calon PNS hebat di Murung Raya. Saya ingin Anda berlatih bagaimana menerima tamu asing dari donor internasional yang ingin investasi di sini. Let's practice your best hospitality skills," jelas Rina, penuh antusias.
Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Seketika, ruangan menjadi riuh. Rina berkeliling, mendengarkan percakapan, dan memberikan koreksi kecil dengan sabar. Unsur komedi kehidupan bermasyarakat muncul di sini. Ada mahasiswa bernama Joni yang berperan sebagai Kepala Dinas yang kikuk dan malah menawarkan "nasi goreng cumi" alih-alih menjelaskan potensi daerah dalam Bahasa Inggris yang fasih, mengundang tawa seisi kelas.
"Joni, Joni," Rina terkekeh. "Inggrisnya cumi apa? Squid. Bukan cumi-cumi. Dan hospitality kita bukan cuma soal makanan, tapi soal data dan keramahan yang profesional. Good try, though!"
Di tengah keriuhan kelas inspiratifnya, Rina mendapat notifikasi chat dari Hifni.
Hifni: "Doakan Mas ya, Bun. Kantor lagi drama nih soal laporan. Integritas vs senioritas."
Rina membaca pesan itu dengan sedikit kekhawatiran. Dia tahu betul tekanan kerja di Bappedalitbang. Hifni adalah tipe orang yang sangat menjunjung tinggi integritas dan kejujuran, prinsip yang mereka pegang teguh bersama sejak dulu. Prinsip itulah yang membuat mereka memilih bertahan di Puruk Cahu, daerah yang membutuhkan banyak PNS berintegritas.
Rina segera membalas pesan Hifni, memberikan dukungan moral yang tulus, seperti yang sudah diceritakan di Bab 2.
Setelah membalas pesan Hifni, Rina kembali fokus pada kelasnya. Mengajar adalah me time sekaligus ibadahnya. Dia merasa bisa berkontribusi nyata pada daerah ini dengan mencetak generasi muda yang tidak hanya pintar administrasi, tapi juga berwawasan global dan mampu berkomunikasi internasional.
"Ingat, everyone," Rina mengakhiri sesi role-playing satu jam kemudian, "Bahasa Inggris itu cuma alat. Yang paling penting adalah substansi apa yang kita sampaikan, dan integritas kita saat menyampaikannya. Jangan jadi PNS yang cuma bisa bahasa Inggris tapi korup. Jadilah PNS berakhlak yang bisa bahasa Inggris!"
Pernyataan Rina disambut tepuk tangan meriah dari para mahasiswa.
Siang harinya, Rina berganti lokasi tugas. Dia harus mengajar Bahasa Inggris di SMA unggulan tempat dia juga berstatus guru honorer, mengisi jam kosong di sana. Walaupun sudah PNS dosen, jiwa pendidiknya membuatnya tidak bisa menolak permintaan dari Kepala Sekolah yang membutuhkan tenaganya.
Di SMA, suasananya berbeda lagi. Murid-murid kelas 11 lebih energik dan kritis. Di sini, Rina menghadapi tantangan yang lebih milenial: bagaimana membuat bahasa Inggris relevan di tengah gempuran media sosial dan bahasa gaul.
Seorang siswi bernama Amira bertanya, "Miss Rina, menurut Miss, kita perlu banget belajar Bahasa Inggris grammar-nya ribet-ribet gini kalau nanti cuma jadi PNS di Puruk Cahu?"
Rina tersenyum. Pertanyaan ini sering ia dengar.
"Amira, coba buka ponselmu, cek Instagram, TikTok. Semua developer teknologi itu asalnya dari negara asing, bahasanya Inggris. Ilmu baru, riset baru, semua pakai Bahasa Inggris," jawab Rina. "Dan siapa bilang PNS di Puruk Cahu tidak butuh? Suami saya PNS di kantor Bupati, hari ini saja dia lagi sibuk urus laporan dana dari pusat yang berbahasa Inggris. Wawasan kita tidak boleh hanya selebar Sungai Barito di depan sana. Wawasan kita harus seluas dunia."
Mata Amira berbinar. Rina berhasil memberikan perspektif baru.
Rina Rufida, di usianya yang ke-30, telah menemukan makna pengabdiannya. Baik di kampus STIA maupun di SMA, dia bukan hanya mengajar tenses dan vocabulary, tapi juga menanamkan mimpi dan integritas.
Ketika jam mengajarnya selesai dan Rina melajukan sepeda motor maticnya menuju penitipan Khalisa, dia merasa lelah tapi puas. Kehidupan pendidik di daerah terpencil memang penuh tantangan logistik dan fasilitas, tapi kepuasan batin saat melihat murid-muridnya tercerahkan tidak bisa ditukar dengan gaji besar di kota metropolitan.
Rina tahu, saat dia dan Hifni memutuskan menerima penempatan di Puruk Cahu, mereka juga menerima paket lengkap tantangan dan keberkahan ini. Dan sejauh ini, keberkahan itu jauh lebih besar daripada tantangannya.
