Suasana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, siang itu cukup padat. Bau khas antiseptik memenuhi lorong-lorong putih, beradu dengan suara derap langkah perawat yang tergesa-gesa. Di ruang praktiknya, Dokter Raisa baru saja menyelesaikan pemeriksaan terhadap pasien anak ke-15 hari itu. Wajahnya tampak sedikit lelah di balik masker medis, namun matanya tetap memancarkan ketenangan seorang profesional.
Setelah pasien keluar, Raisa menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Secara refleks, tangan kanannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, tepat di samping stetoskopnya yang melingkar rapi. Namun, ia tidak membuka jurnal medis atau membalas pesan grup rumah sakit. Jari jempolnya, dengan kecepatan yang terlatih secara alami, menekan ikon aplikasi berwarna oranye yang sangat ia kenal.
"Astagfirullah, baru ditinggal periksa pasien sebentar, Flash Sale jam 12 siang sudah hampir habis!" gumamnya pelan, hampir berupa bisikan agar tidak terdengar oleh asisten perawat di luar.
Di layar ponselnya, terpampang deretan barang yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan, namun harganya sangat menggoda iman: satu set panci anti lengket berwarna pastel, mukena sutra dengan bordir khas Kalimantan, hingga pembersih wajah merek Korea yang diskonnya mencapai 60 persen. Raisa adalah penganut paham bahwa "belanja online adalah bentuk meditasi setelah operasi". Baginya, melihat kurir datang membawa paket adalah dopamine hit yang setara dengan melihat pasien sembuh.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Raisa dengan sigap membalikkan ponselnya ke posisi tengkurap.
"Masuk," katanya dengan nada suara yang kembali berwibawa.
Ternyata yang masuk adalah suaminya, Dokter Hamzah, seorang dokter spesialis bedah yang baru saja menyelesaikan jadwal operasinya. Hamzah tersenyum melihat istrinya, namun matanya langsung tertuju pada layar ponsel Raisa yang sempat menyala sejenak memamerkan notifikasi: "Pesanan Anda sedang dikemas!"
"Baru selesai periksa pasien atau baru selesai checkout?" sindir Hamzah sambil tertawa kecil. Ia menarik kursi di depan meja Raisa.
Raisa tersipu, pipinya memerah di balik masker. "Hanya melihat-lihat, Mas. Tadi ada promo sabun cuci tangan untuk stok di rumah. Kan kita harus selalu higienis, Dokter Bedah harusnya paham itu," Raisa berusaha mencari pembenaran medis atas hobi belanjanya.
Hamzah menggeleng-gelengkan kepala. "Kemarin ada tiga paket datang, isinya semuanya rak sepatu lipat. Padahal sepatu kita cuma berapa pasang, Raisa? Kalau terus-terusan begini, rumah kita di Cluster Ar-Raudhah itu bukan jadi tempat tinggal, tapi jadi gudang logistik ekspedisi."
Dialog antara suami istri ini menggambarkan dinamika rumah tangga modern di mana kemudahan teknologi sering kali menjadi ujian bagi pengelolaan keuangan. Dalam Islam, hal ini sering dikaitkan dengan konsep Israf atau berlebih-lebihan. Namun, dalam novel ini, Raisa tidak melakukannya untuk pamer, melainkan karena ia merasa "menang" jika berhasil mendapatkan harga paling murah di internet.
"Tapi Mas, aku belinya pakai uang hasil kerja sendiri, dan sebagian besar aku sumbangkan kalau memang tidak terpakai," Raisa membela diri dengan alasan kedermawanan. Memang benar, Raisa sering kali membeli barang dalam jumlah banyak untuk kemudian dibagikan secara diam-diam kepada staf kebersihan di rumah sakit. Itulah sisi "Shopee-holic" Raisa yang tetap religius.
Transisi Kehidupan Tetangga: Rossa dan Strategi Mall-nya
Sementara itu, di sisi lain Kota Samarinda, tepatnya di koridor megah Big Mall Samarinda, Ibu Rossa sedang melakukan apa yang ia sebut sebagai "inspeksi lapangan". Sebagai seorang PNS, ia baru saja menyelesaikan tugas luar kantor dan memutuskan untuk mampir sejenak sebelum jam pulang.
Rossa berjalan dengan langkah mantap, bunyi hak sepatunya bergema di atas lantai marmer yang mengkilap. Baginya, belanja di mall adalah sebuah ritual penghormatan terhadap diri sendiri. Ia tidak suka membeli kucing dalam karung seperti Raisa. Ia harus menyentuh kainnya, mencoba ukurannya, dan melihat pantulan dirinya di cermin besar toko bermerek.
"Mbak, yang ini ada ukuran L? Warna cokelat susunya harus yang pas dengan warna jilbab seragam dinas saya," kata Rossa kepada pelayan toko.
Di tangannya sudah ada dua tas kertas besar. Meskipun ia sering mengeluh soal gaji PNS yang "pas-pasan", Rossa adalah ahli dalam memanfaatkan point reward dan kartu member. Ia merasa bahwa dengan belanja di mall, ia sedang mendukung perputaran ekonomi kota. Baginya, mall adalah tempat di mana peradaban dan estetika bertemu.
Namun, di tengah asyiknya memilih baju, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp "Tetangga Syariah":
Mahalini: "Bu Rossa, Bu Dokter, jangan lupa sore ini kita ada jadwal setor hafalan surat pendek di rumah Bu RT. Jangan sampai khilaf di mall atau asyik scrol HP sampai lupa waktu Maghrib!"
Rossa mendesah pelan, namun ia tersenyum. Pesan dari Mahalini selalu menjadi pengingat atau "rem" darurat bagi gaya hidupnya yang glamor.
Edukasi dan Insight SEO: Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Kisah di bab ini menyoroti fenomena sosial yang terjadi di kota-kota besar seperti Samarinda, di mana pusat perbelanjaan modern dan kemudahan digital mulai mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Namun, melalui karakter Raisa, Rossa, dan Mahalini, pembaca diajak untuk tetap memiliki "jangkar" spiritual.
Dalam ajaran Islam, berbelanja bukanlah hal yang dilarang. Namun, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 31: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Bagi pembaca yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana Islam memandang manajemen keuangan, sangat disarankan untuk membaca artikel mengenai Fiqh Muamalah yang menjelaskan batasan antara kebutuhan (dharuriyat) dan keinginan (tahsiniyat). Selain itu, untuk Anda yang berada di Samarinda dan ingin mencari tempat belanja yang menggabungkan konsep modern dan tradisional, Anda bisa mengunjungi kawasan Citra Niaga yang merupakan ikon kebanggaan warga Samarinda yang pernah mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award.
Kesimpulan Bab 2:
Kehidupan Raisa dan Rossa menunjukkan bahwa godaan duniawi selalu ada di sekitar kita, baik itu melalui layar ponsel maupun gemerlap lampu mall. Namun, persahabatan mereka dengan Mahalini yang sederhana menjadi penyeimbang yang manis. Di bab selanjutnya, kita akan melihat bagaimana Mahalini "berperang" di pasar tradisional demi mendapatkan harga cabai termurah, namun justru berakhir dengan sebuah petualangan yang tak terduga.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Raisa akan berhasil menyembunyikan paket rak sepatunya yang keempat dari suaminya? Nantikan di Bab 3!
