Minggu pertama Ramadhan 2026 di Banjarmasin sedang berada di puncak suhu yang cukup menyengat. Angin dari Sungai Martapura seolah tak sanggup mendinginkan hawa panas yang menyergap kota. Di tengah suhu yang mencapai 34 derajat celcius, shalat Tarawih di masjid yang penuh sesak menjadi ujian kesabaran tersendiri, terutama bagi Maryam Safiya yang memiliki kulit sensitif.
"Ma, Maryam tidak kuat kalau tarawih pakai mukena yang kemarin. Bahannya terlalu tebal, Maryam merasa seperti dibungkus dalam panci presto," keluh Maryam saat mereka sedang bersantai setelah tadarus pagi.
Anindya Putri, sang maestro belanja online, langsung bangkit dari posisi rebahannya. Matanya berbinar—bukan karena kasihan pada Maryam, tapi karena ia baru saja mendapatkan alasan sah untuk membuka aplikasi belanja kesayangannya.
"Nah! Itu dia tantangannya, Maryam! Mama baru saja melihat iklan mukena berbahan silk-crinkle yang katanya punya teknologi sirkulasi udara ala NASA. Katanya, kalau dipakai di bawah terik matahari pun rasanya seperti ada AC mini di dalamnya!" seru Anindya sambil jarinya menari lincah di layar ponsel.
Aisyah yang sedang sibuk menyusun daftar belanja mingguan di meja makan hanya bisa menghela napas. "Ma, teknologi NASA itu buat ke luar angkasa, bukan buat ke Masjid Jami. Paling itu cuma kain katun rayon biasa yang harganya dinaikkan."
"Tapi Kak Aisyah, kalau Maryam nyaman, ibadahnya jadi lebih khusyuk, kan?" timpal Ghina yang tiba-tiba muncul sambil membawa ring light. "Sekalian saja, Ma! Pesan yang warnanya sage green supaya Maryam kelihatan estetik kalau masuk konten TikTok-ku bertema 'Outfit Tarawih Minimalis'."
Lev Ryley, yang sedari tadi bersembunyi di balik monitor komputer sambil mengerjakan proyek keamanan siber, akhirnya angkat bicara. "Ibu-ibu sekalian... Tolong diingat, kita ini sedang puasa. Salah satu maknanya adalah menahan diri. Termasuk menahan diri dari membeli mukena yang harganya setara dengan satu bulan biaya sekolah Rayyan."
Namun, diplomasi Lev kalah telak. Dalam hitungan menit, Anindya sudah berhasil check-out mukena pesanan Maryam dengan tambahan beberapa item "penting" lainnya: kaos kaki antibakteri dan sebuah topi kecil berbentuk kopiah untuk Muezza.
Dua hari kemudian, sore hari menjelang ngabuburit, suara motor kurir yang sudah sangat akrab terdengar di depan pagar. “Paket! Atas nama Ibu Anindya!”
Rayyan yang sedang asyik bermain dengan Muezza berlari paling depan. "Abang Kurir! Ini ya mukena anti gerahnya?"
Si kurir, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena saking seringnya datang, menyerahkan sebuah paket besar. "Ini sepertinya berat, Dek Rayyan. Bukan cuma mukena, isinya kayak ada mesinnya."
Anindya dan anak-anak berkumpul di ruang tengah. Ghina sudah menyiapkan ponsel untuk merekam aksi unboxing. Dengan penuh semangat, Anindya merobek isolasi kardus tersebut. Namun, saat kotak terbuka, seluruh keluarga terdiam.
Di dalam kotak itu bukan mukena sutra hijau sage, melainkan sebuah alat pemanggang daging otomatis (grill) berukuran besar.
"Lho? Mama pesan panggangan buat jualan sate?" tanya Lev yang ikut mendekat, menahan tawa.
Anindya mengecek label pengiriman. "Aduh! Ini namanya Anindya juga, tapi alamatnya di Jalan Gatot Subroto! Kurirnya salah antar!"
Di saat kekacauan itu terjadi, Muezza si kucing oranye justru merasa paling diuntungkan. Ia langsung melompat masuk ke dalam kardus panggangan yang kosong, menduduki tumpukan bubble wrap dengan wajah penuh kemenangan. Bagi Muezza, paket salah alamat pun tetaplah rumah baru.
"Ini namanya ujian kejujuran di bulan Ramadhan," ujar Aisyah sambil tertawa melihat wajah kecewa Maryam. "Kita harus kembalikan paket ini sekarang juga."
Lev akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan "ekspedisi keluarga". Mereka semua naik ke mobil, membawa paket panggangan tersebut menuju alamat yang benar di Jalan Gatot Subroto. Bagi Rayyan dan Ghina, ini adalah momen ngabuburit dadakan.
Sesampainya di alamat tujuan, pemilik paket—seorang ibu paruh baya—ternyata juga sedang memegang paket milik Anindya. "Ya Allah, Bu! Saya juga bingung, kenapa saya pesan panggangan buat jualan takjil malah datangnya mukena cantik!" seru ibu tersebut.
Mereka pun bertukar paket di pinggir jalan, diiringi gelak tawa. Ternyata, kurirnya sedang kelelahan karena mengejar target pengiriman sebelum lebaran sehingga salah menempelkan label. Sebagai rasa terima kasih karena telah diantarkan, ibu tersebut memberikan dua bungkus besar Wadai Untuk (roti goreng khas Banjar) dan es blewah untuk berbuka.
Malamnya, Maryam akhirnya bisa memakai mukena "anti gerah"-nya untuk shalat Tarawih di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Meskipun tidak benar-benar terasa seperti memakai AC, Maryam merasa sangat bahagia.
"Bagaimana, Maryam? Adem?" tanya Lev saat mereka berjalan pulang di bawah sinar bulan sabit.
"Adem, Bah. Tapi yang bikin lebih adem itu rasa jujur tadi sore," jawab Maryam sambil tersenyum.
Di samping mereka, Ghina sedang sibuk mengedit video. Judulnya: "Tragedi Paket Nyasar: Mukena vs Panggangan Sate". Video itu langsung viral di kalangan warga Banjarmasin malam itu juga, membuktikan bahwa di keluarga Lev Ryley, bahkan kesalahan kurir pun bisa menjadi berkah (dan konten) yang menghibur.
Muezza? Dia tidak ikut tarawih, tapi dia menunggu di depan pintu dengan memakai kopiah kecil yang tadi ikut dipesan Anindya, siap menyambut "pawrent"-nya pulang dengan mengeongan minta camilan malam.
