Setelah insiden kancing apel pagi yang heroik, Hifni mengantar Rina dan Khalisa ke tujuan masing-masing. Rina bertugas di SMP Negeri 1 Tabalong, sementara Khalisa di TK Aisyiyah yang tak jauh dari sekolah ibunya.
Setibanya di SMP, Rina segera disambut oleh rekan-rekan guru yang sudah mendengar kabar burung soal kancing Hifni via grup WhatsApp PNS se-Tabalong yang sangat up-to-date.
"Bu Rina, suaminya keren banget tadi pagi, acting jadi patung selamat datang di depan tiang bendera," goda Bu Ani, guru IPA yang terkenal paling ceplas-ceplos.
Rina hanya tertawa. "Biasa Bu, cari sensasi biar viral di Tabalong."
Pelajaran pertama Rina hari itu adalah kelas IX B, kelas paling 'hidup' di sekolah tersebut. Sebagai guru Bahasa Inggris, Rina memiliki metode pengajaran yang inovatif dan sedikit nyeleneh, yang membuatnya disukai murid-muridnya.
"Good morning, everyone!" sapa Rina penuh energi saat memasuki kelas.
"Morning, Mam!" jawab murid serentak, sedikit malas khas anak SMP.
"Oke, hari ini kita speaking test. No excuse! Materinya deskripsi tentang keluarga. Siapa yang berani maju duluan, Mam kasih nilai Aplus Plus," tawar Rina sambil melipat tangan di dada.
Seketika kelas hening. Speaking test adalah momok bagi banyak murid. Mereka lebih suka mengerjakan soal pilihan ganda daripada harus berbicara di depan kelas.
Rina berkeliling, mencari 'korban' pertamanya. Matanya tertuju pada Budi, siswa paling pendiam tapi paling pintar di kelas itu.
"Budi, come forward, please."
Budi dengan langkah gontai maju ke depan kelas, wajahnya sudah pucat pasi. Ia memegang secarik kertas contekan yang sudah lecek di sakunya.
"Oke Budi, tell us about your family in English. No cheating!" Rina melirik kertas di saku Budi.
Budi menarik napas dalam-dalam. "Ehm... My family is... em... very very..." Budi kehabisan kata-kata.
"Very apa, Budi? Very rich? Very happy?" Rina memancing.
"Very... banar!" ceplos Budi menggunakan bahasa Banjar yang kental, membuat seisi kelas meledak dalam tawa.
Rina ikut tertawa. "Budi, banar itu true atau real! Bukan very. It's okay, coba lagi, pelan-pelan."
Budi mencoba lagi, kali ini lebih lancar meski banyak gramatika yang terbalik-balik. Rina dengan sabar membimbingnya. Metode humor dan kesabaran Rina inilah yang membuat suasana kelas Bahasa Inggris selalu hidup. Rina percaya, belajar bahasa baru harus menyenangkan, bukan menakutkan.
Sementara Rina sibuk dengan speaking test di sekolah, di TK Aisyiyah, Khalisa juga sedang menjalani 'speaking test' versinya sendiri.
"Anak-anak, hari ini kita belajar mengenal profesi orang tua. Siapa yang tahu Ayahnya kerja apa?" tanya Ustadzah Fatimah, guru TK yang lembut.
Beberapa anak berebut tunjuk tangan. Ada yang bilang ayahnya polisi, petani karet, sampai pemilik toko sembako terbesar di pasar.
"Khalisa, Ayah Khalisa kerja apa sayang?" tanya Ustadzah Fatimah.
Khalisa, dengan polosnya, berdiri tegak. "Ayah saya PNS Ustadzah!" jawabnya bangga.
"Wah, hebat! Ayah PNS di mana?"
"Di Kantor Bupati. Tadi pagi Ayah keren banget, Ustadzah!"
"Keren gimana?" tanya Ustadzah Fatimah penasaran, dan anak-anak lain mulai fokus mendengarkan.
"Ayah tadi apel pagi, terus kancing bajunya hilang! Terus Ayah pura-pura peluk diri sendiri biar nggak kelihatan perutnya," cerita Khalisa dengan ekspresi serius, mengundang tawa dari Ustadzah dan teman-temannya.
Cerita Khalisa menjadi hiburan pagi di TK. Ustadzah Fatimah yang kebetulan kenal dengan Hifni hanya bisa geleng-geleng kepala. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya; kepolosan Khalisa sama persis dengan keluguan ayahnya.
Siang harinya, Hifni menjemput Rina di sekolah. Wajah Hifni sudah tidak semerah pagi tadi, tapi senyum Rina masih mengembang setiap kali mengingat insiden kancing.
"Katanya Budi bilang very banar di kelas tadi?" tanya Hifni, mencoba mengalihkan topik.
Rina mengangguk sambil tertawa. "Iya, Mas. Lucu banget anak itu. Sama lucunya sama Ayahnya Khalisa yang pose melting di apel pagi tadi."
Hifni akhirnya ikut tertawa. Mereka berhenti di lampu merah di pusat kota Tanjung. Di samping mereka, ada truk pengangkut buah sawit melintas pelan, mengingatkan mereka akan denyut ekonomi di Tabalong.
"Mas, jadi beli kancing coklat di pasar Murung Pudak kan?" tanya Khalisa dari kursi belakang, mengulangi permintaannya pagi tadi.
Hifni menoleh ke belakang, mengedipkan mata ke Khalisa. "Siap, Nak. Kita beli kancing yang paling kuat sedunia, biar nggak kabur lagi pas Ayah apel."
Keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, meninggalkan drama pagi di kantor dan sekolah, siap menyambut sore hari yang hangat di tengah keramahan masyarakat Tabalong. Kehidupan mereka memang sederhana, penuh tantangan birokrasi, tapi selalu ada celah tawa dan keimanan yang menguatkan.
