Ikuti petualangan seru keluarga Muhammad Hifni (Barabai) & Lev ℛyley (Banjarmasin) saat Ramadan di Mekah. Dari misi cari kucing gurun hingga drama belanja online!
Pukul 03:30 waktu Mekah. Seharusnya, suasana kamar hotel tempat keluarga Lev ℛyley menginap sudah riuh dengan denting sendok dan piring. Namun, yang terdengar hanyalah dengkur halus Lev dan suara kipas angin yang berputar statis.
Sebagai orang IT, Lev terlalu percaya pada teknologi. Semalam, ia bersikeras mengatur alarm melalui sistem smart home yang ia hubungkan ke Wi-Fi hotel agar seluruh keluarga bangun serentak dengan suara adzan Madinah yang merdu. Sialnya, Wi-Fi hotel mengalami down tepat pada pukul 02:00 dini hari. Akibatnya? Alarm tersebut membisu total.
"Pa... Papa... bangun... ini kok di luar sudah banyak suara orang lari-lari?" suara Anindya Putri terdengar serak, setengah sadar.
Lev membuka satu matanya, lalu melirik jam dinding. Matanya seketika melotot lebih lebar dari layar monitor 27 inci miliknya. "Astagfirullah! Anin! Aisyah! Bangun! Imsak sepuluh menit lagi!"
Seketika, kamar 701 berubah menjadi simulasi bencana alam. Aisyah Humaira yang biasanya tenang, langsung melompat dari tempat tidur dan berlari menuju dapur kecil di pojok kamar. "Ma! Kenapa nggak ada yang bangunin Aisyah? Ini kita belum manasin nasi kotak!"
Ghina Qalbi yang masih mengantuk berat mencoba mencari ponselnya untuk membuat konten 'Sahur Panic Attack', tapi tangannya malah menyenggol gelas plastik berisi air zamzam. Sementara Rayyan Zuhayr hanya duduk termenung di pinggir kasur sambil memeluk buku cerita Islaminya, bingung melihat ayahnya yang sedang sibuk mencari colokan listrik untuk pemanas air.
Di tengah kekacauan itu, pintu kamar diketuk dengan sopan. Tok! Tok! Tok!
Lev membuka pintu dengan rambut acak-acak. Di depan pintu, berdiri Muhammad Hifni yang sudah rapi mengenakan baju koko putih, lengkap dengan aroma minyak kayu putih yang menenangkan khas PNS Barabai. Di sampingnya, Rina Rufida membawa sebuah nampan berisi roti tamis hangat dan sepiring nasi kebuli.
"Pak Lev, tadi saya lewat depan kamar dengar suara orang lari maraton. Saya tebak, pasti alarmnya mati ya?" tanya Hifni dengan senyum teduhnya.
"Aduh, Pak Hifni... penyelamat ulun!" seru Lev nyaris menangis haru. "Ini gara-gara Wi-Fi hotel, Pak. Teknologi memang tidak bisa dipercaya seratus persen!"
Khalisah mengintip dari balik kaki ibunya, matanya berbinar melihat Rayyan yang masih bengong. "Rayyan, ayo makan! Nanti kalau lemas, nggak bisa kejar kucing bareng Khalisah di Masjidil Haram loh!"
Maka, sahur darurat itu pun terjadi. Dua keluarga itu berkumpul di karpet kamar Lev. Karena waktu yang sangat mepet, tidak ada lagi protokol makan formal. Mereka makan dalam diam yang fungsional—cepat, efisien, dan penuh syukur.
"Ini roti tamisnya enak banget, Bu Rina," puji Anindya sambil mengunyah cepat. "Duh, kalau di Banjarmasin ada yang jual beginian lewat GrabFood, tiap sahur aku pesan deh."
Aisyah Humaira mulai mengatur strategi pasca-sahur. "Nanti setelah Subuh, kita langsung ke pelataran ya. Jangan ada yang balik tidur, biar nggak ketinggalan momen sunrise di Ka'bah."
Saat adzan Subuh berkumandang dengan megahnya dari menara Masjidil Haram, mereka semua sudah berada di dalam lift. Lev tampak lebih tenang, meskipun ia berjanji dalam hati akan kembali menggunakan alarm jam weker manual berbentuk ayam yang biasa ia remehkan.
Di dalam lift, Khalisah berbisik kepada Maryam, "Kak Maryam, tadi di lorong ada kucing hitam besar. Dia kayaknya nungguin kita sahur ya?"
Maryam Safiya tersenyum tipis, lalu mengelus kepala Khalisah. "Mungkin dia malaikat yang menyamar jadi kucing buat ngetok pintu hati kita supaya nggak bangun kesiangan lagi, Khalisah."
Pagi itu, di bawah langit Mekah yang mulai membiru, mereka melangkah menuju Masjidil Haram dengan perut kenyang dan hati yang lebih erat terpaut. Pelajaran pertama puasa tahun ini: teknologi bisa gagal, tapi tetangga dari Barabai adalah anugerah yang tak ternilai.
Mau lanjut ke Bab 5? Kita akan menceritakan bagaimana mereka menghabiskan waktu siang hari yang terik di Mekah sambil menjaga Khalisah yang mulai 'ngidam' melihat kucing di tengah rasa lapar puasa.
