Setelah pertempuran sengit di puncak gunung, Lev, Vania, dan Anatasya bersatu kembali, kelelahan tetapi lega. Salju yang tadinya diselimuti oleh aura kegelapan kini terasa dingin dan murni. Mereka menatap kristal es yang terjatuh, memancarkan cahaya biru yang redup. Ini adalah kunci untuk membebaskan Elara dan mengalahkan Sombra.
"Kita berhasil," bisik Vania, napasnya terlihat seperti awan.
"Ya," timpal Anatasya. "Tapi kita masih punya satu hal lagi yang harus dilakukan."
Mereka tahu bahwa kristal es itu harus digunakan untuk membebaskan Elara, yang masih terjebak dalam gulungan kuno di Arcanum. Tetapi, mereka juga tahu bahwa ini adalah misi yang berbahaya. Sombra pasti akan mencoba untuk menghentikan mereka.
Saat mereka bersiap untuk turun, mereka merasakan gempa. Bukan gempa bumi biasa, tetapi gempa yang berasal dari dalam gunung. Retakan-retakan besar muncul di salju, dan mereka melihat gunung es mulai runtuh.
"Apa yang terjadi?" teriak Vania.
"Gunung ini tidak stabil," kata Anatasya. "Sombra pasti melakukan sesuatu."
Lev, yang paling mengerti tentang elemen bumi, merasakan bahwa gunung itu akan meledak. Mereka harus pergi, tetapi mereka juga tidak bisa meninggalkan kristal es itu.
"Kita harus cepat," kata Lev. "Gunung ini akan meledak."
Mereka mulai turun, berusaha menghindari retakan-retakan yang semakin besar. Mereka harus cepat, tetapi mereka juga harus berhati-hati.
Saat mereka hampir sampai di kaki gunung, mereka melihat Sombra kembali. Kali ini, Sombra tidak lagi menyamar sebagai Luna. Ia muncul dalam wujud aslinya, kabut hitam yang pekat, dengan dua mata merah yang menyala-nyala.
"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Sombra. "Kristal itu adalah milikku."
Sombra menyerang mereka. Kali ini, ia tidak menggunakan kekuatan es. Ia menggunakan kekuatan kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan yang menyerang mereka.
Lev, Vania, dan Anatasya bersatu. Vania menggunakan apinya untuk membakar bayangan-bayangan itu, Anatasya menggunakan airnya untuk melumpuhkan Sombra, dan Lev menggunakan elemen buminya untuk menciptakan perisai yang melindungi mereka.
Tetapi, Sombra terlalu kuat. Ia berhasil menembus pertahanan mereka, dan ia menyerang Vania. Vania terluka, dan ia jatuh ke tanah.
"Vania!" teriak Lev dan Anatasya.
Sombra kemudian menyerang Anatasya. Anatasya juga terluka, dan ia jatuh ke tanah.
"Anatasya!" teriak Lev.
Lev sendirian. Ia merasa takut, ia merasa tidak berdaya. Tetapi, ia juga tahu bahwa ia harus bertarung. Ia harus melindungi teman-temannya.
Sombra menyerang Lev, dan Lev jatuh ke tanah. Sombra mengambil kristal es itu, dan ia bersiap untuk menghancurkannya.
"Tidak!" teriak Lev.
Lev, dengan sisa-sisa kekuatannya, menyentuh tanah. Ia merasakan energi gunung es yang akan meledak. Ia tahu bahwa ia harus mengorbankan dirinya. Ia harus menggunakan kekuatannya untuk menstabilkan gunung itu.
Dengan tekad yang kuat, ia menghentakkan kakinya ke tanah. Seluruh gunung bergetar, dan gempa berhenti. Kristal es itu terlempar dari tangan Sombra, dan Sombra, yang terkejut, menghilang dalam kepulan asap hitam.
Gunung es itu kini stabil, tetapi Lev terluka parah. Vania dan Anatasya, yang sudah pulih, berlari ke arahnya.
"Lev!" teriak Vania.
"Kau baik-baik saja?" tanya Anatasya.
Lev tersenyum. "Ya," katanya. "Aku baik-baik saja."
Mereka mengambil kristal es itu, dan mereka kembali ke Arcanum. Mereka tahu bahwa mereka telah membayar harga yang mahal, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka telah menang.
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, dan Anatasya kembali ke Arcanum, membawa kristal es. Mereka tahu bahwa mereka harus menyembuhkan diri, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus segera membebaskan Elara dan mengalahkan Sombra selamanya.
