Beberapa hari berlalu setelah kejadian di toko antik. Alex tidak datang. Kedai kopi terasa sepi. Toko antik terasa kosong. Eva mencoba menyibukkan diri. Ia merapikan rak-rak, membersihkan etalase, dan menyeduh teh untuk dirinya sendiri. Tapi kesunyian itu, yang dulu adalah teman setianya, kini terasa seperti beban.
Ia merindukan kehadiran Alex. Merindukan tawa Alex yang lepas, celotehnya tentang seni, dan pertanyaannya yang kadang polos, kadang menusuk. Ia merindukan Alex, dan ia menyadari, ia telah membiarkan Alex masuk ke dalam hatinya lebih dalam dari yang seharusnya.
Sore itu, saat Eva sedang menutup toko, bel pintu berdering. Itu Alex. Ia mengenakan jaket tebal, tangannya menggenggam secangkir kopi dari kedai lain. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya masih dipenuhi dengan kebaikan yang sama.
"Aku... membeli kopi untukmu," kata Alex, menyerahkan cangkir itu.
Eva menerimanya. "Terima kasih."
Mereka berdua berdiri dalam diam untuk sesaat. Alex adalah yang pertama memecah keheningan. "Aku minta maaf," katanya. "Aku tidak seharusnya memaksamu. Itu rahasiamu."
"Tidak," jawab Eva, suaranya pelan. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku... tidak jujur padamu."
"Aku tidak butuh penjelasan," kata Alex. "Aku hanya ingin kau tahu... bahwa aku tidak peduli. Kau adalah Eva. Temanku. Itu saja yang penting."
Mendengar itu, air mata Eva mengalir. Alex tidak panik. Ia membiarkan Eva menangis. Setelah beberapa saat, Alex mengambil sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Eva.
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan," kata Alex.
"Mungkin kau adalah alien, atau vampir, atau... elf. Apa pun itu, itu tidak mengubah siapa dirimu di mataku."
Eva tersenyum pahit. "Kau... selalu membuat hal-hal menjadi lebih mudah."
"Itu tugasku sebagai teman, kan?" kata Alex, mengangkat bahu.
Eva mengangguk. Ia merasakan kehangatan yang kembali menyelimuti hatinya. Bukan kehangatan yang fana, melainkan kehangatan yang nyata, dari seorang teman yang tulus.
Alex kemudian menceritakan bagaimana ia berpikir tentang Eva selama beberapa hari terakhir. Ia pergi ke perpustakaan kota dan membaca buku-buku tentang legenda Alaska. Ia mencari-cari tentang legenda tentang "orang-orang yang tidak menua". Ia menemukan beberapa kisah kuno, cerita-cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ia bahkan menemukan sebuah lukisan tua di sebuah galeri kecil di Anchorage, sebuah lukisan dari abad ke-19 yang menampilkan seorang wanita dengan mata yang mirip dengan Eva.
"Aku sudah mencarinya," kata Alex. "Aku sudah mencoba mencari jawaban. Tapi aku tidak menemukannya. Jadi, aku memutuskan, aku tidak butuh jawaban. Aku butuh temanku kembali."
Eva memandangnya, matanya dipenuhi rasa terima kasih. Alex tidak menganggap rahasianya sebagai sesuatu yang perlu dipecahkan, melainkan sebagai bagian dari dirinya. Alex melihatnya sebagai teman, bukan sebagai teka-teki.
"Jadi... apakah kau seorang alien atau elf?" tanya Alex, tersenyum kecil.
"Rahasia," jawab Eva, mengedipkan matanya.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang tulus, tawa yang membersihkan semua kesedihan yang sempat ada.
Alex kemudian mengajak Eva ke kedai kopi. "Aku akan mentraktirmu kopi, dan kita akan berpura-pura tidak pernah ada kejadian itu. Oke?"
"Oke," jawab Eva.
Mereka kembali ke "Temaram Senja". Di sana, Alex menunjukkan lukisan-lukisan barunya. Lukisan-lukisan itu adalah potret-potret kota Talkeetna, dengan sudut pandang yang unik dan penuh perasaan. Alex juga menunjukkan sebuah sketsa. Sketsa itu adalah sketsa Eva. Wajah Eva tergambar dengan indah, dengan mata yang menyimpan banyak cerita.
"Aku melukis ini, saat kau sedang merapikan rak di toko," kata Alex. "Matamu... menyimpan cerita. Aku tidak tahu ceritanya, tapi aku tahu ceritanya indah. Dan aku tahu, aku ingin menjadi bagian dari cerita itu."
Eva terharu. Ia tahu, persahabatannya dengan Alex akan menjadi salah satu bab terindah dalam bukunya yang panjang. Dan ia akan menghargai setiap detik dari persahabatan itu, meskipun ia tahu, akhirnya akan datang. Untuk saat ini, ia akan menikmati kebersamaan ini, menikmati tawa, dan kopi, dan senyum.
Ia memandang Alex, dan ia tahu, ia telah menemukan sesuatu yang ia cari selama ratusan tahun. Seorang teman sejati, yang tidak hanya menerima dirinya apa adanya, tetapi juga melihat keindahan di dalam kesedihan yang ia sembunyikan. Dan itu, bagi Eva, adalah sebuah hadiah yang tak ternilai harganya.
