Sementara Hifni bergulat dengan birokrasi dan drama email di kantor dinas, Rina Rufida menghadapi medan perangnya sendiri: ruang kelas VIII-B di SMP Negeri 2 Barabai. Rina dikenal di kalangan murid-muridnya sebagai guru Bahasa Inggris yang "killer"—kombinasi antara disiplin tinggi, tuntutan speaking bahasa Inggris di kelas, dan nilai tugas yang tidak bisa ditawar-tawar.
Pagi itu, Rina masuk ke kelas VIII-B dengan langkah tegap, map biru di tangan kanannya, dan senyum profesional yang sedikit kaku.
"Good morning, class," sapanya ramah, namun penuh otoritas.
"Good morning, Ma'am Rina!" jawab murid-murid serempak, beberapa terlihat tegang.
Pelajaran hari ini adalah Present Continuous Tense. Rina memulai pelajaran dengan metode komunikatif, meminta siswa membuat kalimat aktif tentang kegiatan yang sedang berlangsung saat itu.
"Oke, who wants to try first? Raise your hand," Rina mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.
Hening. Tidak ada yang berani angkat tangan. Mereka semua menunduk, sibuk melihat buku catatan atau ujung sepatu mereka. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi beberapa siswa. Inilah momen paling menegangkan di kelas Rina: sesi praktik bicara.
Rina menghela napas. Dia tahu betul, di daerah seperti Barabai, menemukan siswa yang percaya diri berbicara bahasa Inggris adalah pekerjaan rumah terbesar bagi guru bahasa. Mayoritas siswa masih malu dan takut salah tata bahasa.
"Baiklah, kalau tidak ada yang mau sukarela, saya tunjuk," kata Rina dengan nada tenang. "Fahri, please stand up."
Fahri, siswa paling jago sepak bola di kelas tapi paling lemah di Bahasa Inggris, berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Ma'am, saya... saya..." Fahri tergagap.
"In English, Fahri. What are you doing now?" tanya Rina, sabar tapi tegas.
"I... I am bediri, Ma'am," jawab Fahri polos, mencampuradukkan bahasa Indonesia dan Inggris. Tawa kecil pun pecah dari teman-temannya.
Rina tidak ikut tertawa. Ia tahu Fahri sudah berusaha. "Oke, bediri is standing. Repeat after me: I am standing now."
Fahri mengulanginya dengan terbata-bata. Rina memperbaikinya, sedikit demi sedikit, sampai Fahri bisa mengucapkan satu kalimat sempurna.
"Good job, Fahri. You can sit down now," puji Rina. Fahri duduk dengan wajah lega luar biasa, seolah baru saja memenangkan pertandingan final.
Metode mengajar Rina memang keras, tapi tujuannya jelas: dia ingin anak-anak didiknya di Barabai tidak minder bersaing dengan anak-anak di kota besar. Dia ingin mereka menguasai bahasa global, tanpa melupakan identitas lokal mereka.
Di balik julukan "guru killer" itu, Rina sebenarnya sangat peduli. Dia sering menyediakan waktu tambahan di luar jam pelajaran untuk membantu siswa yang kesulitan, atau bahkan membelikan kamus baru untuk siswa yang kurang mampu.
Namun, dilema Rina bukan hanya soal mengajar tata bahasa. Sebagai guru PNS di sekolah negeri, ia juga menghadapi tuntutan administrasi yang kadang terasa tumpang tindih dengan tugas mengajar yang sesungguhnya. Siang itu, saat jam istirahat, Rina dipanggil ke ruang guru untuk rapat mendadak soal persiapan akreditasi sekolah.
Rapat itu membahas hal-hal teknis yang sangat birokratis: format laporan, jumlah print out, dan dokumen pendukung yang harus disiapkan. Rina mendengarkan dengan sabar, tapi dalam hati ia bertanya-tanya, apakah semua kertas kerja ini lebih penting daripada memastikan Fahri bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Inggris?
"Bu Rina, tolong nanti data nilai ekstrakurikuler Bahasa Inggris diinput di folder D ya," pinta Bu Siti, guru senior yang ditunjuk sebagai koordinator akreditasi.
"Siap, Bu," jawab Rina.
Saat ia kembali ke kelas untuk mengajar jam terakhir, semangatnya sedikit memudar. Beban administrasi seringkali menguras energi para guru PNS.
Sore harinya, setelah menjemput Khalisa di penitipan anak Muslimah, Rina mampir ke pasar tradisional Barabai untuk membeli beberapa bumbu dapur segar. Di sana, ia bertemu dengan Wali Murid Fahri.
"Assalamualaikum, Bu Rina," sapa Ibu Fahri ramah, seorang pedagang sayur di pasar itu.
"Wa'alaikumussalam, Bu," Rina tersenyum.
"Bu, saya mau bilang terima kasih. Fahri sekarang di rumah jadi sering latihan bahasa Inggris sendiri," kata Ibu Fahri dengan mata berbinar. "Katanya Ma'am Rina galak, tapi adil. Dia jadi semangat belajar."
Hati Rina menghangat mendengar pengakuan itu. Julukan "killer" ternyata tidak sepenuhnya negatif di mata orang tua murid. Itu adalah bukti bahwa ketegasannya membuahkan hasil.
Malam harinya, saat makan malam bersama Hifni dan Khalisa, Rina menceritakan pertemuannya dengan Ibu Fahri dan dilemanya soal akreditasi.
"Jadi, Ummi galak ya di sekolah?" tanya Hifni sambil menyendok sayur sop.
"Bukan galak, Abi. Tegas," koreksi Rina. "Tapi senang rasanya tahu kalau ketegasan itu dihargai. Kadang lelah dengan birokrasi kantor, tapi melihat anak didik termotivasi, lelahnya hilang."
"Itulah indahnya jadi guru, Ummi," kata Hifni, mengusap lembut kepala istrinya yang berkerudung. "Sama seperti Abi, kadang pusing soal IMB dan rapat yang bertele-tele. Tapi kalau lihat kota kita tertata rapi, rasanya puas."
Khalisa yang sedari tadi diam, tiba-tiba nyeletuk. "Abi, Ummi, nanti kalau Khalisa besar, Khalisa mau jadi guru yang galak tapi baik!"
Lagi-lagi, Hifni dan Rina tertawa mendengar kepolosan putri mereka.
Kehidupan mereka sebagai PNS mungkin jauh dari gemerlap, gaji pas-pasan, dan rutinitas yang kadang membosankan. Tapi di setiap interaksi—baik di kantor Hifni yang penuh drama email, maupun di kelas Rina yang penuh perjuangan bahasa—mereka menemukan makna dari pengabdian dan kebahagiaan yang hakiki, yang bersumber dari rasa syukur dan tawa keluarga di rumah sederhana mereka di Barabai.
