Jika ada satu hal yang lebih melelahkan daripada menghadapi pasien balita yang menolak minum obat di Royal Manchester Children’s Hospital, itu adalah menghadapi Yusuf Al-Fayed.
Sore itu, jam besar di bangsal anak menunjukkan pukul 17:00. Masih ada sekitar tiga jam lagi menuju waktu berbuka. Perut Layla sudah mulai memainkan simfoni keroncongan yang hanya bisa diredam dengan profesionalisme tingkat tinggi. Ia baru saja selesai mengganti perban seorang anak laki-laki bernama Leo yang terus-menerus bertanya apakah Layla kenal dengan Bruno Fernandez.
"Tentu saja aku kenal," jawab Layla sambil mengedipkan mata. "Dia yang mengajariku cara menendang perban ini tepat ke tempat sampah."
Tawa kecil Leo adalah bahan bakar bagi Layla di jam-jam kritis puasanya. Namun, begitu ia melangkah ke ruang istirahat perawat, ponselnya bergetar. Sebuah foto masuk ke grup WhatsApp keluarga. Itu dari Yusuf.
Foto itu menampilkan Yusuf yang sedang tersenyum lebar di depan Etihad Stadium, memegang kantong belanjaan berlogo Manchester City. Keterangannya singkat namun mematikan: “Membeli takjil di tempat yang lebih cerah. Biru itu menenangkan, bukan begitu sepupuku?”
Layla hampir saja melempar ponselnya ke tumpukan kapas steril. Dasar pengkhianat kota! batinnya. Di Manchester, berpindah klub dari Merah ke Biru bukan sekadar selera olahraga; itu adalah pernyataan perang sipil dalam keluarga.
Pukul 19:30, Layla tiba di rumah dengan sisa-sisa tenaga. Bau harum kari domba mulai tercium dari dapur—masakan ayahnya, Malik, yang meskipun ingatannya sering offside, insting memasaknya tetap sekelas koki bintang lima.
Namun, pemandangan di ruang tamu membuatnya berhenti di ambang pintu. Yusuf duduk di sana, bersandar di sofa kesayangan Malik, mengenakan jaket biru muda yang mencolok mata. Ia sedang asyik mengobrol dengan Malik tentang masa depan Erling Haaland.
"Assalamu’alaikum, Layla," sapa Yusuf dengan nada yang sangat menyebalkan. "Kau tampak pucat. Apa karena puasa, atau karena melihat peringkat United di klasemen?"
Layla menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat pelajaran sabar dari ceramah Imam di Manchester Central Mosque tadi subuh. "Wa’alaikumussalam, Yusuf. Aku pucat karena melihat ada polusi warna biru di ruang tamuku. Ayah, kenapa kau izinkan pendukung City ini masuk?"
Malik terkekeh, tangannya sibuk menata kurma di piring. "Biarkan saja, Layla. Di bulan Ramadan, kita harus memberi makan orang-orang yang tersesat. Dan Yusuf adalah orang paling tersesat yang Ayah kenal."
Yusuf tertawa keras. "Tersesat tapi punya banyak trofi belakangan ini, Paman!"
"Cukup!" sela Layla sambil meletakkan tasnya dengan kasar. "Yusuf, jika kau ingin berbuka di sini, lepas jaket itu atau kau buka puasa di teras bersama kucing tetangga. Ini rumah penganut Merah!"
Yusuf, dengan gaya komedinya yang khas, perlahan membuka resleting jaket birunya. Di baliknya, ternyata ia memakai kaos putih polos dengan tulisan kecil di dada: "I’m only here for the Biryani". Layla hanya bisa menggerutu sambil menuju dapur untuk membantu ayahnya.
Momen berbuka puasa akhirnya tiba. Suara azan dari aplikasi ponsel mereka bergema serentak. Di meja makan kayu yang tua itu, tiga orang muslim Manchester berkumpul. Ada keheningan yang syahdu saat mereka meneguk air putih pertama. Sebuah rasa syukur yang luar biasa merambat di tenggorokan yang kering selama 18 jam.
"Alhamdulillah," bisik Layla. Segelas air itu terasa lebih nikmat daripada kemenangan menit terakhir di final piala manapun.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga menit. Sambil mengunyah kurma Medjool yang tebal, Yusuf mulai lagi.
"Kau tahu, Layla," kata Yusuf sambil menyendok nasi Biryani. "Tadi aku bertemu dengan seorang mualaf di Piccadilly Gardens. Dia bingung mencari komunitas. Aku mengajaknya ke masjid dekat Maine Road, tapi dia malah bertanya, 'Di mana tempat fans United shalat?'. Aku bilang padanya, 'Fans United biasanya shalat di gua karena malu'."
"Yusuf!" bentak Layla, meski ia hampir tersedak karena menahan tawa. "Kau ini benar-benar tidak punya rasa hormat pada sejarah."
"Sejarah itu untuk museum, Layla. Sekarang adalah masanya biru," balas Yusuf santai.
Wajah Malik tiba-tiba berubah serius. Ia meletakkan sendoknya. Layla khawatir ayahnya akan marah besar, tapi ternyata sang ayah justru menatap Yusuf dengan pandangan bijak yang dalam.
"Yusuf," suara Malik berat dan tenang. "Puasa itu seperti menjadi fans United. Kau harus belajar menderita, belajar bersabar, dan tetap setia meski keadaan sedang sulit. Menjadi fans City itu gampang—seperti berbuka puasa sebelum azan. Tidak ada tantangannya. Di Merah, kami belajar tentang iman yang diuji."
Yusuf terdiam. Layla tersenyum kemenangan, merasa mendapat pembelaan dari sang legenda hidup.
"Tapi Yah," lanjut Layla pelan, "terkadang ujiannya terasa terlalu berat. Di rumah sakit tadi, aku melihat banyak orang menderita. Kadang aku bertanya, kenapa Allah memberi ujian seberat itu pada anak-anak kecil?"
Suasana di meja makan berubah menjadi sad dan reflektif. Malik memegang tangan putrinya. "Itulah kenapa kita diberi Ramadan, Layla. Untuk melunakkan hati. Agar kita tahu bahwa di balik setiap gol lawan, atau setiap penyakit, ada rencana Allah yang lebih besar dari taktik pelatih mana pun."
Layla menunduk, air mata hampir menetes di atas piringnya. Kelelahan bekerja dan tekanan emosional di rumah sakit mendadak luruh. Di tengah ejekan bola dan aroma kari, ia diingatkan kembali pada hakikat sujudnya.
Malam itu, mereka berangkat ke masjid bersama. Yusuf tetap memakai jaket birunya, tapi kali ini Layla tidak protes. Ia sadar, di hadapan Allah dalam shalat Tarawih nanti, tidak ada warna merah atau biru. Hanya ada hamba yang bersujud di bawah rintik gerimis Manchester yang abadi.
Follow-up: Apakah kamu ingin melanjutkan ke Bab 3, di mana Layla harus menghadapi tantangan shift malam saat malam-malam ganjil (mencari Lailatul Qadar) di rumah sakit sambil dipantau oleh atasan yang super ketat? #GGMU
