Kehidupan Aisyah Humaira sebagai mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tidak hanya berkutat pada teori mengajar dan praktik lapangan. Sebagai anak sulung dari keluarga yang sangat melek digital, Aisyah sering kali menjadi tempat curhat teman-teman kuliahnya soal dunia maya.
Suatu siang, setelah kelas Metodologi Penelitian, Aisyah duduk di kantin fakultas bersama Sarah dan Rina, dua teman dekatnya. Wajah Sarah tampak murung, sementara Rina tampak kesal.
"Kenapa kalian berdua? Mukanya kusut begitu," tanya Aisyah sambil menyeruput es tehnya.
"Sarah ditipu online, Syah," jawab Rina dengan nada tinggi. "Dia beli buku referensi pendidikan di sebuah toko di e-commerce, harganya murah banget. Pas barangnya sampai, ternyata bukunya bajakan, hasil fotocopyan yang dijilid rapi doang."
Aisyah terkejut. "Astaghfirullah. Seriusan? Tokonya official atau toko biasa?"
"Toko biasa, Syah. Review-nya bagus, rating-nya 4,8. Makanya Sarah percaya," timpal Sarah dengan suara pelan, tampak menyesal. "Uang jajan seminggu habis buat beli buku bajakan."
Aisyah segera mengeluarkan ponselnya. "Coba lihat tokonya. Ada yang aneh nggak dari segi traffic atau deskripsi produknya?"
Setelah mengecek bersama, Aisyah menemukan kejanggalan. "Lihat, followers tokonya cuma lima puluh, tapi yang beli sudah seribu orang. Ini pasti fake traffic atau fake review yang mereka beli. Deskripsi produknya juga cuma tempelan, nggak ada detail ISBN atau penerbit resminya. SEO-nya bagus, tapi isinya nol besar."
Kejadian ini membuat Aisyah berpikir keras. Di satu sisi, keluarganya gila belanja online dan sering menggunakan SEO marketing untuk jualan musala mereka. Di sisi lain, dunia digital juga penuh dengan jebakan etika dan penipuan yang merugikan.
Malam harinya di rumah, Aisyah menceritakan kejadian Sarah kepada ayah dan ibunya. Levℛyley dan Anindya mendengarkan dengan serius.
"Ini yang Ayah takutkan, Aisyah," kata Levℛyley. "Dalam Islam, kita diajarkan untuk berdagang dengan jujur. Menipu pembeli dengan fake review atau menjual barang palsu itu haram. Walaupun kita pakai teknik SEO yang canggih, etika bisnis Islami harus tetap di atas segalanya."
Anindya mengangguk. "Betul kata Ayah. Toko online musala kita itu kan niatnya cari dana jariyah. Kalau kita nipu pembeli, bukan pahala yang didapat, malah dosa. Makanya Ibu selalu tekankan ke Ghina kalau foto produk kue kita harus sesuai aslinya, rasanya juga harus terjamin."
Dari diskusi itu, muncul ide baru. Aisyah mengusulkan agar BEM FKIP ULM mengadakan seminar kecil tentang "Etika Berbelanja dan Berjualan Online dalam Perspektif Islam". Tujuannya untuk mengedukasi mahasiswa dan masyarakat Banjarmasin, terutama ibu-ibu majelis taklim, agar lebih melek digital yang bertanggung jawab.
Anindya langsung antusias. "Wah, keren banget idenya, Kak! Nanti Ibu bisa jadi narasumber bagian marketing dan SEO yang jujur dan halal. Pasti traffic seminarnya tinggi kalau promosinya bagus!"
Levℛyley tersenyum. "Ayah bisa bantu dari sisi keamanan siber dan hukum ITE-nya. Kolaborasi keluarga yang bagus."
Keesokan harinya, Aisyah mengajukan proposal seminar ke dosen pembimbing BEM. Dosennya menyambut baik ide tersebut, mengingat maraknya kasus penipuan online di kalangan mahasiswa.
Di waktu yang sama, Maryam dan Ghina sedang berdiskusi soal endorsement. Ghina, yang sudah mulai dikenal sebagai reviewer produk cilik, didekati oleh sebuah toko pakaian muslimah dari Bandung untuk endorse produk mereka.
"Menurut Kak Maryam, bajunya bagus nggak? Bahannya adem nggak? Aku takut kalau bajunya nggak sesuai, nanti followers aku kecewa," tanya Ghina polos.
Maryam mengecek sampel bajunya. "Jahitannya rapi, bahannya katun, adem kok. Tapi kamu harus bilang jujur kalau ini endorse ya, Ghina. Jangan ditutup-tutupi."
Ghina mengangguk mantap. "Siap, Kak! Kejujuran nomor satu, kata Ibu dan Ayah."
Keluarga Levℛyley terus belajar. Di tengah arus digital yang kencang, mereka mencoba menjadi mercusuar etika dan integritas. Mereka membuktikan bahwa di Banjarmasin yang kaya tradisi, prinsip-prinsip Islami tetap relevan di era live shopping dan ecommerce yang serba cepat.
