Setting: Sebuah warung kopi tradisional di Banda Aceh, dan perjalanan menuju Takengon, Aceh Tengah.
Pagi di Banda Aceh disambut dengan gerimis halus. Rencana mereka hari ini adalah perjalanan darat menuju dataran tinggi Gayo di Aceh Tengah, surganya kopi arabika terbaik dunia. Namun, sebelum menempuh perjalanan jauh, Faris bersikeras untuk mencoba kopi Aceh otentik yang terkenal itu.
Mereka mampir ke sebuah warung kopi legendaris yang sudah buka sejak subuh. Suasananya ramai, dipenuhi bapak-bapak lokal yang asyik berdiskusi sambil menikmati cangkir kecil berisi cairan hitam pekat.
"Nah, ini dia surga dunia," kata Faris, matanya berbinar.
"Katanya, ngopi di Aceh itu bukan cuma soal kafein, tapi soal silaturahmi dan budaya."
Aisyah, yang bukan peminum kopi, memilih memesan teh tarik. "Silaturahmi sih iya, tapi aku tetap pilih teh manis hangat."
Lev dan Faris memesan Kopi Sanger, minuman khas Aceh yang merupakan campuran kopi, susu, dan gula dengan takaran pas. Zahra, yang sok tahu, memesan kopi hitam biasa.
Mereka duduk di meja kayu panjang, mencoba membaur dengan warga lokal. Lev memulai percakapan dengan seorang bapak paruh baya yang ramah. Obrolan mereka mengalir santai, dari cuaca, kondisi perkebunan kopi, hingga kehidupan bermasyarakat di sana yang masih sangat menjaga nilai-nilai kegotongroyongan.
"Di sini, Pak, kalau ada hajatan, semua warga turun tangan. Nggak peduli siapa yang punya hajat. Itu yang kami rindukan di kota besar," cerita Lev.
Bapak itu tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang sudah sedikit aus karena sering mengunyah sirih. "Itu sudah jadi darah daging kami, Nak. Hidup ini harus saling bantu. Agama kami mengajarkan itu."
Di tengah obrolan hangat mereka, insiden kecil terjadi di meja sebelah. Zahra, yang kopinya baru saja datang, terlihat bingung.
"Ini gimana minumnya?" bisik Zahra ke Aisyah. "Gelasnya kecil banget, terus kopinya pekat begini."
"Ya diminum aja, Ra. Pelan-pelan," jawab Aisyah.
Zahra mencoba menyeruput, dan ekspresinya langsung berubah masam. "Pahit banget! Kok Faris sama Lev kayaknya enak-enak aja minum Sanger mereka?"
Faris dan Lev menahan tawa. "Itu kopi hitam murni, Ra. Punya kita kan ada susunya," jelas Faris.
"Kok nggak dikasih tahu!" rengek Zahra. "Aku kira semua kopi Aceh sama rasanya."
Aisyah menggelengkan kepala. "Makanya, lain kali tanya dulu sebelum pesan. Jangan asal tunjuk di menu."
Zahra akhirnya pasrah dan mencoba memesan teh tarik seperti Aisyah, tapi pelayan warung sudah terlanjur sibuk. Momen komedi pagi itu berhasil mencairkan suasana dan menjadi bahan ledekan Faris sepanjang hari.
Setelah sarapan dan insiden kopi pahit Zahra, mereka melanjutkan perjalanan menuju Takengon. Perjalanan memakan waktu beberapa jam, melintasi jalanan berliku dengan pemandangan pegunungan hijau yang menakjubkan.
Udara semakin sejuk saat mereka naik. Perkebunan kopi terhampar luas di kanan-kiri jalan.
"Subhanallah, indah banget ya ciptaan Allah," kata Lev, yang duduk di depan. "Pantesan kopinya enak, tanahnya sesubur ini."
Mereka berhenti di sebuah rest area dengan pemandangan langsung ke Danau Laut Tawar, ikon utama Takengon. Air danaunya yang biru jernih dikelilingi perbukitan hijau.
Zahra langsung sigap mengambil tripodnya. "Oke, guys, saatnya bikin konten traveling islami yang estetik!"
Selama setengah jam, Zahra sibuk bergaya, sementara Faris dan Lev sibam mengambil foto dan video. Aisyah hanya duduk di pinggir danau, menikmati ketenangan dan mengabadikan momen dengan kameranya yang lebih sederhana.
Interaksi mereka dengan warga lokal di sini juga tak kalah hangat. Para petani kopi yang sedang istirahat menyapa mereka dengan ramah, menawari mereka biji kopi segar.
"Mau coba petik sendiri, Nak?" tawar seorang ibu paruh baya dengan senyum ramah.
Lev menerima tawaran itu dengan senang hati. Mereka berempat, termasuk Aisyah yang awalnya ragu, akhirnya ikut merasakan pengalaman memetik kopi langsung dari pohonnya. Momen slice of life yang sederhana, tetapi sangat berkesan.
"Ternyata nggak gampang ya jadi petani kopi," kata Lev sambil mengusap keringat di dahinya. "Ini baru sebagian kecil prosesnya. Kita sering minum kopi instan tanpa tahu jerih payah di baliknya."
Perjalanan di Aceh mengajarkan mereka banyak hal dalam waktu singkat: ketabahan dalam musibah, disiplin dalam beribadah, keramahan dalam bermasyarakat, dan rasa syukur atas setiap nikmat kecil, termasuk secangkir kopi.
Malam harinya, di penginapan di Takengon, Aisyah mencatat semua pengeluaran hari itu dengan rapi. "Total biaya hari ini lumayan, tapi worth it dengan pengalamannya."
Mereka berdiskusi tentang rencana besok, yang akan melanjutkan perjalanan ke Medan, Sumatera Utara, untuk mengeksplorasi Danau Toba.
"Siap-siap pemandangan yang lebih gokil lagi besok," kata Faris, penuh semangat.
Lev tersenyum. Perjalanan ini memang baru dimulai, tapi hatinya sudah merasa lebih hidup. Rasa jenuh yang ia rasakan di Banjarmasin seolah lenyap digantikan oleh semangat baru. Aceh telah memberikan pelajaran pertamanya: bahwa kehidupan bermasyarakat yang Islami dan harmonis adalah kunci kedamaian.
