Di antara hiruk pikuk diet protein Ayahnya dan krisis mode Kakaknya, Tariq, remaja 16 tahun, memiliki satu fokus utama dalam hidupnya: sepak bola, dan secara spesifik, Lionel Messi. Bagi Tariq, Messi bukan sekadar pemain; dia adalah manifestasi dari kesempurnaan teknik, etos kerja, dan—ironisnya—seorang panutan kedisiplinan yang setara dengan The Rock versi Ayahnya.
Tariq bermimpi menjadi agen olahraga syariah pertama di dunia, yang memastikan setiap transfer pemain berjalan adil, bebas riba, dan memastikan atlet Muslim top memiliki fasilitas ibadah yang layak di setiap stadion besar Eropa. Ini adalah tujuan yang mulia, tetapi jalannya penuh dengan rintangan logistik, terutama jadwal pertandingan Liga Champions Eropa yang seringkali bentrok dengan waktu shalat atau tidur malam.
Malam itu adalah puncaknya. Ada pertandingan big match antara PSG (klub lokal Paris yang dicintainya) melawan tim rival berat di Liga Champions, dan Messi diperkirakan akan bermain penuh. Kick-off dijadwalkan tepat pukul 21.00 waktu Paris.
Masalahnya: waktu shalat Isya masuk sekitar pukul 20.45, dan pertandingan akan berlangsung hingga sekitar pukul 23.00, tepat di tengah-tengah waktu tidur yang sudah ditetapkan ketat oleh Aisha untuk anak remajanya.
"Ayah, Ibu," Tariq memulai negosiasi di meja makan malam itu, menggunakan nada suara yang paling serius dan diplomatis yang bisa ia kumpulkan, meniru agen olahraga yang ia tonton di YouTube. "Saya ingin mengajukan proposal amandemen jadwal malam ini."
Imran, yang masih sedikit trauma dengan brokoli rebus dari Bab 2, menatap putranya curiga. "Proposal apa, Tariq? Apakah ini ada hubungannya dengan 'disiplin The Rock'?"
"Tidak, Yah. Ini tentang disiplin sepak bola," jawab Tariq. "Ada pertandingan PSG malam ini. Sangat krusial. Saya butuh dispensasi untuk menonton penuh hingga selesai, dan mungkin after-match analysis singkat."
Aisha mengangkat alisnya. "Sampai pukul berapa? Kamu harus sekolah besok pagi, Tariq."
"Sekitar pukul 23.30, Bu. Paling lambat tengah malam. Saya jamin saya bangun untuk Subuh tepat waktu," janjinya sungguh-sungguh.
Imran dan Aisha saling pandang. Mereka tahu betapa pentingnya sepak bola bagi putra mereka, tapi mereka juga tegas soal pendidikan dan kewajiban agama.
"Ada dua syarat," kata Imran akhirnya. "Pertama, kamu shalat Isya tepat waktu sebelum kick-off tanpa tunda-tunda. Kedua, kamu benar-benar bangun untuk shalat Subuh besok pagi tanpa dibangunkan dua kali. Janji?"
Tariq bersinar. "Janji Ayah! Deal! Agen Tariq menerima proposal ini!"
Waktu Isya tiba. Tariq, dengan jersey PSG kebanggaannya, buru-buru mengambil wudu dan shalat Isya di kamarnya. Dia menyelesaikan shalatnya dalam rekor waktu tercepat yang pernah ia lakukan, tentu saja dengan thuma'ninah (ketenangan) yang masih terjaga. Segera setelah salam, ia melesat ke sofa ruang tamu, menyalakan TV, tepat saat komentator mulai berbicara.
Pertandingan berjalan intens. Imran diam-diam ikut menonton dari dapur, pura-pura membaca koran tapi matanya tertuju ke layar TV. Aisha menjahit di ruang kerja tapi telinganya fokus pada sorakan Tariq. Mereka sekeluarga tegang melihat aksi Messi.
Pukul 23.15, PSG menang. Tariq bersorak heboh. Dia kemudian menghabiskan 15 menit berikutnya menganalisis strategi pelatih dengan Imran, yang sekarang sudah duduk di sofa sebelahnya.
"Formasi 4-3-3 itu brilian, Ayah! Sama efisiennya dengan struktur bangunan beton bertulang," kata Tariq penuh semangat.
"Ya, ya, sangat efisien," jawab Imran sambil menguap lebar.
Akhirnya, Imran menyuruh Tariq tidur. "Ingat janjimu, agen muda. Subuh besok."
"Siap, Bos!"
Alarm Subuh berbunyi nyaring pada pukul 05.30 pagi.
Di kamar Tariq, satu alarm berbunyi. Sunyi.
Alarm kedua berbunyi lima menit kemudian. Masih sunyi.
Di kamar utama, Aisha mendengar alarm Tariq yang berulang. Imran sudah bangun dan bersiap ke masjid.
"Imran, Tariq belum bangun," bisik Aisha khawatir.
Imran, yang menghargai janjinya, tersenyum. "Dia sudah berjanji. Dia akan bangun."
Imran dan Aisha menunggu di ruang tamu. Pukul 05.45, masih belum ada tanda-tanda kehidupan dari Tariq.
"Aku akan membangunkannya," kata Aisha, mulai panik.
"Tunggu, Bu," Imran menghentikannya. "Dia agen yang baik. Agen menepati janji."
Tepat pukul 05.50, ketika Aisha hampir menyerah, pintu kamar Tariq terbuka. Tariq muncul, matanya merah dan bengkak karena kurang tidur, rambutnya acak-acakan, tapi dia sudah memakai sarung dan kaus.
Wajahnya tampak seperti orang yang baru saja selamat dari badai gurun.
"Pagi, Ayah, Ibu," gumamnya, suaranya serak.
"Masya Allah! Kamu bangun juga, Nak!" seru Aisha lega.
Imran tersenyum bangga. "Aku tahu kamu bisa, Tariq. Disiplin. Alhamdulillah."
Tariq berhasil menunaikan shalat Subuh tepat waktu di rumah sebelum pergi ke sekolah. Dia memang terlihat seperti zombie sepanjang hari, tapi dia telah belajar pelajaran penting tentang manajemen waktu dan integritas janji.
Di Paris, di antara para penggemar sepak bola yang begadang tanpa tujuan spiritual, Tariq Al-Fikri menemukan cara menyeimbangkan hasratnya pada Messi dengan kewajibannya sebagai Muslim. Dia mungkin lelah, tapi hatinya damai. Dan dia sudah punya ide untuk proposal negosiasi pertandingan Liga Champions minggu depan.
