Pagi pertama Aisha Kim di Banjarmasin dimulai dengan suara azan Subuh yang merdu dari Masjid terdekat, menembus jendela kamar tamu. Suara itu terasa berbeda, lebih hidup dan dekat dibandingkan azan yang sayup-sayup terdengar dari pusat komunitas Islam di Seoul. Aisha terbangun dengan perasaan damai, menjalankan salat Subuh, dan bersiap untuk hari pertamanya di kota Seribu Sungai.
Saat ia keluar kamar, rumah keluarga Ryley sudah ramai. Bau masakan Anindya yang khas sudah menguar. Aisha berjalan ke dapur, di mana Anindya sedang sibuk dengan wajan besarnya.
"Assalamualaikum, Anin," sapa Aisha lembut.
"Waalaikumsalam, Aisha! Morning! Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Anindya ceria.
"Alhamdulillah, nyenyak sekali. Kamarnya nyaman," jawab Aisha tulus, berkat humidifier mahal yang dibeli Anindya.
Di meja makan, Lev dan anak-anak sudah duduk rapi. Maryam sedang menyelesaikan sketsa kecil suasana dapur, sementara Ghina dan Rayyan berebut piring kerupuk.
"Pagi, Tante Aisha!" sapa Ghina dan Rayyan bersamaan.
"Pagi semua," Aisha tersenyum, duduk di samping Maryam.
Sarapan pagi itu adalah Nasi Kuning khas Banjar lengkap dengan lauk ikan haruan (gabus) masak habang (bumbu merah). Aisha, sang chef bintang lima, mencicipi masakan itu dengan penuh apresiasi.
"Masya Allah, Anindya. Ini bumbunya kaya sekali. Rasa manis, pedas, gurihnya seimbang. Sambal habangnya ini otentik sekali," puji Aisha, membuat Anindya tersipu malu.
"Namanya Nasi Kuning, Aisha. Ini sarapan wajib orang Banjar," jelas Lev bangga.
Setelah sarapan, Anindya dan Aisyah Humaira mengajak Aisha untuk berjalan santai di sekitar komplek perumahan, merasakan udara pagi Banjarmasin yang khas. Saat itulah tantangan pertama Aisha muncul: suhu dan kelembapan udara.
"Ya Allah, Anin... panas sekali ya?" ujar Aisha, menyeka sedikit keringat di dahinya meskipun baru berjalan 15 menit. Ia, yang terbiasa dengan empat musim di Korea dan musim dingin yang menusuk tulang, merasa kewalahan dengan kelembapan tropis Banjarmasin.
Anindya tertawa maklum. "Kamu belum terbiasa, Aisha. Nanti juga betah. Ini namanya panas sehat Kalimantan!"
Mereka berjalan menyusuri pinggiran Sungai Martapura kecil yang mengalir di belakang komplek. Aisha terpesona melihat aktivitas pagi di sana. Beberapa perahu kecil (kelotok) hilir mudik, dan warga lokal mencuci di tepian Sungai. Pemandangan itu sangat eksotis di mata Aisha, jauh dari Sungai Han di Seoul yang rapi dan modern.
"Di Seoul, Sungai Han itu lebih ke tempat rekreasi, lari pagi, atau piknik. Di sini, sungai ini denyut nadinya kehidupan," komentar Aisha, mengeluarkan ponselnya untuk memotret.
Aisyah Humaira, yang bertindak sebagai pemandu, menjelaskan tentang pentingnya sungai bagi budaya Banjar. "Banjarmasin ini dijuluki Kota Seribu Sungai, Tante. Air adalah segalanya bagi kami."
Saat kembali ke rumah, Lev sudah menunggu dengan mobil yang siap. Rencana hari ini: kunjungan ke pasar tradisional dan belanja bahan makanan untuk makan siang.
Perjalanan ke pasar tradisional lokal adalah pengalaman budaya yang intens bagi Aisha. Berbeda dengan pasar modern di Seoul, pasar di Banjarmasin penuh warna, bau rempah yang menyengat, dan suara tawar-menawar yang riuh. Aisha, yang biasanya belanja di supermarket premium, terhipnotis oleh kekayaan bahan makanan di sana.
Ia menemukan jahe merah, kunyit segar, lengkuas, dan puluhan jenis cabai yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mata chef-nya langsung bersinar.
"Masya Allah, rempah-rempah di sini luar biasa segar dan murah!" seru Aisha, antusias.
Anindya sibuk menunjuk bahan makanan, sementara Aisha sibuk mencatat nama-nama rempah langka itu di buku catatannya. Lev, yang bertugas membawa belanjaan, mulai kewalahan dengan kantong plastik yang terus bertambah.
"Mi, ini mau masak buat berapa batalion sih?" bisik Lev kepada Anindya, punggungnya mulai pegal.
"Diam, Bi! Aisha lagi berburu harta karun kuliner!" balas Anindya.
Di satu stan, Aisha mencicipi wadai (kue) khas Banjar bernama bingka kentang. Rasanya yang manis legit dan teksturnya yang lembut membuat Aisha ketagihan.
"Ini manisnya pas, dan aroma kentangnya kuat sekali. Teknik mengukusnya juga unik," puji Aisha kepada penjualnya, yang tersenyum bangga.
Kunjungan ke pasar itu diakhiri dengan tawa saat Rayyan menunjuk seekor ikan gabus hidup yang besar, membuat Aisha sedikit terkejut.
Saat kembali ke rumah, Anindya dan Aisha langsung menuju dapur. Rencananya, Aisha akan mengajarkan resep Bibimbap (nasi campur Korea) versi halal dengan modifikasi bahan lokal.
"Kita akan pakai sayur pakis yang kita beli tadi, dan daging sapi cincang berbumbu kecap manis Indonesia. Fusion Banjarmasin-Seoul!" ujar Aisha penuh semangat, mengenakan apron barunya yang dibeli Anindya online.
Dapur keluarga Ryley mendadak berubah menjadi studio masak. Maryam menyiapkan kamera, Aisyah mencatat resep, dan Ghina serta Rayyan menjadi asisten chef cilik yang bertugas mencuci sayuran. Lev Ryley, si pekerja IT, kini didapuk menjadi juru kamera dadakan untuk mendokumentasikan resep bagi pengikut online Anindya.
Aisha dengan sabar mengajari mereka cara memotong sayuran dengan teknik yang benar, cara membuat saus gochujang halal versi rumahan, dan cara menata nasi campur agar terlihat estetik ala bintang lima. Suasana dapur penuh tawa, aroma masakan Korea bercampur rempah Indonesia, dan candaan Lev Ryley yang mencoba menerjemahkan istilah chef ke bahasa Banjar.
Saat makan siang tiba, meja makan dipenuhi Bibimbap yang indah dan lezat. Semua anggota keluarga makan dengan lahap, memuji masakan Aisha yang luar biasa.
"Enak sekali, Tante! Rayyan suka!" seru Rayyan, mulutnya penuh nasi.
Anindya tersenyum bahagia melihat sahabatnya yang menemukan ketenangan di kota kecil mereka, dan keluarganya yang belajar hal baru. Hari pertama Aisha di Banjarmasin memang hangat—baik secara harfiah maupun kiasan.
