Fajar di Madinah tidak pernah datang dengan tergesa-gesa. Ia muncul dengan semburat ungu dan jingga yang membelah langit gurun, diiringi suara azan pertama yang menggema dari sepuluh menara Masjid Nabawi. Bagi keluarga Muhammad Hifni, drg. Dina, dan Lev ℛyley, suara itu adalah alarm surgawi yang menghapus rasa kantuk setelah perjalanan panjang dari Banua.
Rayyan Zuhayr adalah yang pertama terbangun di kamar keluarga Lev. Bocah SD itu langsung duduk tegak, matanya yang bulat bersinar meski nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Yah, itu suara azan ya? Berarti kita mulai puasa?" tanya Rayyan.
Lev ℛyley yang sedang mencoba memulihkan tenaganya setelah "perang" koper semalam, mengangguk sambil mencari sandalnya. "Iya, jagoan. Ayo kita ke masjid. Tapi ingat, di sini puasanya lebih lama sedikit daripada di Banjarmasin. Kuatkan hati ya."
Di koridor hotel, mereka berpapasan dengan keluarga Muhammad Hifni. Pak Hifni tampak rapi dengan baju koko putihnya, sementara Khalisah Salsabilla sudah siap dengan tas ransel kecil berisi... biskuit kucing.
"Pak Hifni, sudah siap bertarung dengan suhu Madinah?" sapa Lev humoris.
Hifni tertawa kecil. "InsyaAllah, Pak Lev. Yang penting anak-anak ini. Tadi Khalisah sempat merajuk mau bawa kucing hotel masuk ke masjid."
Sesampainya di pelataran, mereka menyaksikan pemandangan yang tak akan pernah ditemukan di tempat lain: ribuan orang duduk melingkar di atas karpet panjang yang digelar di pelataran masjid, menunggu waktu subuh. Anindya Putri yang biasanya sibuk dengan angle foto, kali ini tampak lebih tenang. Ia menggandeng Aisyah Humaira dan Maryam Safiya masuk ke saf wanita.
"Ma, lihat itu," bisik Ghina Qalbi sambil menunjuk sekelompok jamaah dari Afrika yang sedang membagikan kurma sukari. "Aku mau coba tanya mereka, tapi pakai bahasa apa ya?"
Rina Rufida yang berjalan di samping mereka langsung menimpali dengan semangat gurunya. "Coba pakai Bahasa Inggris sederhana saja, Ghina. Bilang 'May I have some?' atau kalau mau pakai Bahasa Arab, 'Syukran' saja sudah cukup."
Di saf laki-laki, Rayyan Zuhayr memulai "diplomasi" kecilnya sendiri. Di sampingnya duduk seorang kakek tua asal Turki yang terlihat sangat lelah. Rayyan, dengan kepolosan bocah SD Islami, merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan sebutir permen jahe yang ia bawa dari Indonesia.
"Untuk kakek," ujar Rayyan malu-malu sambil menyodorkan permen itu.
Kakek tersebut tertegun, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan kerutan di matanya. Ia membalas dengan memberikan sebotol kecil air Zam-zam dingin kepada Rayyan. Lev ℛyley yang melihat itu dari kejauhan merasa dadanya sesak oleh rasa haru. Ternyata, pelajaran agama yang ia bayar di sekolah, dipraktikkan Rayyan di tempat yang paling mulia.
Namun, nuansa khusyuk itu sedikit pecah saat shalat Subuh usai. Naura Salsabilla (anak drg. Dina) dan Khalisah Salsabilla (anak Pak Hifni) secara tidak sengaja menemukan "harta karun". Di bawah salah satu pilar payung raksasa Nabawi, seekor kucing calico besar sedang asyik menjilati bulunya.
"Itu dia!" teriak kedua Salsabilla hampir bersamaan.
drg. Dina Yulianti langsung panik. "Naura! Jangan dikejar! Itu kucing Arab, nanti dia tidak mengerti Bahasa Banjar!" candanya sambil mencoba mengejar putrinya.
Hifni pun ikut kewalahan. Khalisah sudah mulai membuka tas ranselnya dan mengeluarkan snack kucing. "Pusss... Meong... Ta'al... ta'al (Kemari)," panggil Khalisah, menggunakan satu-satunya kata Bahasa Arab yang ia tahu dari buku ceritanya.
Kucing itu tampak bingung melihat dua bocah kecil dari Kalimantan Selatan yang begitu agresif memberikan perhatian. Lev ℛyley yang lewat hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat dua orang tua hebat—seorang PNS berwibawa dan seorang Dokter Gigi profesional—kalah telak oleh seekor kucing Madinah.
"Beginilah Ramadhan di sini, Pak Hifni. Ujian kesabaran kita bukan cuma lapar, tapi juga menghadapi 'pasukan Salsabilla' ini," ujar Lev sambil merangkul bahu Hifni.
Matahari mulai naik, payung-payung raksasa di Masjid Nabawi mulai terbuka perlahan dengan gerakan mekanis yang anggun. Di bawah naungan payung itu, tiga keluarga tersebut menyadari bahwa meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, di bawah langit Madinah ini, mereka adalah satu keluarga besar yang sedang belajar tentang arti syukur yang sesungguhnya.
Wawasan: Tahukah Anda? Kucing di Madinah sangat dihargai oleh penduduk lokal karena merupakan hewan kesayangan Rasulullah SAW. Jangan ragu untuk berbagi makanan dengan mereka di pelataran.
Link Terkait: Untuk jadwal shalat akurat di Madinah, Anda bisa merujuk pada IslamicFinder.
Akankah Khalisah dan Naura berhasil menjinakkan kucing tersebut? Dan bagaimana strategi Anindya Putri saat suaminya, Lev, mulai protes karena memori ponselnya penuh dengan video kucing dan bukan video ibadah?
Lanjutkan ke Bab 5: Drama Kucing dan Merpati di Arab Saudi!
