Banjarbaru, 20 Maret 2026
Lev Ryley menghentikan kendaraannya di depan gerbang RSUD Idaman Banjarbaru yang kini sudah tampak jauh lebih megah dibanding sebelas tahun lalu. Ia tidak turun dari motornya. Ia hanya menatap gedung itu dari kejauhan, membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
Bagi orang lain, ini adalah tempat penyembuhan. Namun bagi Lev, gedung ini adalah saksi bisu di mana impiannya untuk membangun rumah tangga bersama Vania hancur berkeping-keping. Tanggal 20 Maret, sebelas tahun yang lalu, adalah hari di mana ia belajar bahwa kata "ikhlas" jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani.
Banjarbaru, Maret 2015
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Lev saat ia berlari menyusuri koridor Kelas III RSUD Idaman. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi baju koko yang ia kenakan. Di depan sebuah pintu putih, ia melihat Ibu Vania terduduk bersimpuh di kursi kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar.
"Ibu..." suara Lev parau.
Ibu Vania mendongak, matanya sembab dan merah. "Lev... Dokter bilang darah Vania... darahnya tidak normal. Mereka harus melakukan tes sumsum tulang."
Lev merasa kakinya lemas. Ia terduduk di samping Ibu Vania, mencoba memberikan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun tak memilikinya. Di dalam sana, di balik pintu itu, gadis ceria yang biasanya sibuk merencanakan mahar kini terbaring lemah dengan selang infus yang menusuk kulitnya.
Tiga jam kemudian, seorang dokter spesialis penyakit dalam keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Ia mengajak Lev dan keluarga Vania ke sebuah ruangan kecil. Di sana, di atas meja kerja yang dingin, sebuah map putih terbuka lebar.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan morfologi darah tepi," dokter itu memulai dengan suara datar namun berat, "Vania menderita Leukemia Limfoblastik Akut. Stadiumnya sudah lanjut."
Hening. Ruangan itu seakan kedap suara. Lev merasa seolah-olah ada tangan raksasa yang meremas jantungnya. Leukemia. Kanker darah. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti pusaran badai.
"Apa artinya ini, Dokter?" tanya Lev, suaranya bergetar hebat. "Dia... dia akan sembuh, kan? Vania masih 20 tahun. Dia kuat."
Dokter itu menghela napas panjang, sebuah gestur yang memberikan jawaban lebih jelas daripada kata-kata. "Kita akan memulai kemoterapi secepat mungkin. Namun, saya harus jujur, peluangnya tidak besar karena sel kankernya sangat agresif. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Ibu Vania histeris. Lev terdiam, membatu. Pikirannya melayang pada rencana-rencana yang mereka buat bulan lalu. Tentang rumah kecil dengan taman bunga di depan, tentang anak-anak yang akan mereka ajari mengaji, tentang hari tua yang ingin mereka lalui bersama di Banjarbaru. Semua rencana itu kini terasa seperti lelucon di hadapan takdir.
Malam itu, Lev meminta izin untuk menemani Vania di ruang perawatan. Vania sudah sadar, namun wajahnya sangat pucat, hampir senada dengan warna sprei tempat tidurnya. Bibirnya pecah-pecah, dan matanya sayu.
"Lev," bisik Vania pelan. Ia tersenyum tipis, sangat tipis. "Kenapa menangis? Laki-laki saleh tidak boleh cengeng, kan?"
Lev menghapus air matanya dengan kasar. Ia meraih tangan Vania—tangan yang kini terasa sangat dingin. "Aku tidak menangis, Van. Aku cuma... aku cuma sedang berkomunikasi dengan Allah."
Vania menatap langit-langit kamar rumah sakit. "Dokter sudah bicara padaku tadi. Aku tahu ini kanker, Lev. Aku tahu ini Leukemia."
Lev terkejut. "Van, kamu jangan pikirkan itu. Kamu fokus sembuh saja. Kita akan berobat ke mana pun. Aku akan cari biaya tambahannya."
Vania menggeleng pelan. Ia menoleh ke arah Lev, dan di matanya, Lev melihat sebuah kedamaian yang tidak masuk akal bagi seseorang yang baru saja divonis mati. "Lev, ingat tidak apa yang aku bilang tentang intan? Mungkin ini saatnya aku digosok. Mungkin Allah ingin aku menjadi intan yang paling murni sebelum aku pulang."
"Jangan bicara pulang, Van! Kita baru saja mulai!" Lev tak kuasa menahan emosinya.
"Lev..." Vania menggenggam tangan Lev dengan sisa tenaganya. "Hidup dan mati itu milik Allah. Tugas kita bukan untuk protes, tapi untuk rida. Aku hanya ingin satu hal... jangan lepaskan tanganku, sampai Allah sendiri yang melepaskannya melalui maut."
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, Lev Ryley bersujud di samping tempat tidur Vania. Dalam sujud yang sangat panjang, ia menumpahkan segala sesak dadanya. Ia menyadari bahwa cinta mereka kini bukan lagi tentang mengejar kebahagiaan dunia, melainkan tentang bagaimana memenangkan rida Allah di tengah rasa sakit yang menghancurkan.
Di luar, hujan mengguyur Banjarbaru dengan deras, seolah langit ikut meratapi dua jiwa muda yang sedang dipaksa dewasa oleh rasa sakit. Perjalanan menuju 20 Oktober 2015 kini telah dimulai secara resmi melalui sebuah vonis yang merobek jantung.
