Malam itu, setelah berhasil membuat Lev sedikit tersenyum, Cindy tahu bahwa misinya masih jauh dari kata selesai. Ia kembali ke kamarnya, merenungkan langkah selanjutnya. Lev sudah terlanjur mengunci diri dalam kesedihan, dan kacamata hidung palsu saja tidak cukup. Dibutuhkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang bisa mengikis lapisan duka tebal yang melingkupinya.
Keesokan paginya, Cindy bangun dengan ide baru. Ia mengambil serbet makan dan beberapa spidol warna-warni, lalu mulai menggambar. Ia membuat sketsa lucu dengan gambar Lev yang sedang tersenyum. Di setiap gambar, ia menambahkan tulisan-tulisan motivasi yang konyol. Misalnya, "Senyum itu ibadah. Kalau nggak senyum, nanti dapat dosa (kecuali pas lagi sikat gigi)."
Dengan setumpuk serbet di tangan, Cindy kembali ke kamar Lev. Ia mengetuk pintu, tidak menunggu jawaban, langsung masuk. Lev masih duduk di tempat tidur, tampak seperti semalam, rambut acak-acakan dan pandangan kosong.
"Lev, aku bawakan kamu comic strip," kata Cindy, sambil menempelkan satu per satu serbet itu di dinding kamar Lev.
"Aku tahu kamu suka komik, jadi aku bikin khusus buat kamu. Judulnya 'Petualangan Lev si Manusia Gua di Borneo'."
Lev tidak bereaksi, namun matanya mengikuti setiap gerakan Cindy yang gesit. Cindy menempelkan serbet terakhir, lalu berbalik dan menatap Lev. "Bagaimana menurutmu?"
Lev tetap diam.
Cindy tidak menyerah. Ia mengeluarkan ponselnya, mencari musik dangdut yang paling riang dan keras yang ia bisa temukan. Musik itu menggelegar di kamar yang tadinya hening. Cindy mulai bergoyang, meniru gerakan-gerakan lucu ala biduan dangdut, lengkap dengan ekspresi wajah yang konyol. Ia bahkan menggunakan sapu sebagai mikrofon, bernyanyi dengan suara sumbang yang mengundang tawa.
Lev menatapnya, bingung. Pandangan matanya yang kosong perlahan mulai terisi dengan rasa heran. Ia mencoba mengabaikan Cindy, namun suara musik yang terlalu keras dan tingkah Cindy yang terlalu konyol membuatnya tidak bisa.
"Cindy, tolong... hentikan," pinta Lev dengan suara yang terdengar seperti gumaman.
Cindy mengabaikan permintaannya. Ia terus menari, melompat-lompat, dan menyanyi.
"Cindy!" panggil Lev lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Cindy berhenti. Napasnya terengah-engah, dan keringat membasahi dahinya. Ia menatap Lev dengan ekspresi serius. "Apa?"
"Kamu... kamu gila?" tanya Lev, setengah mencela, setengah heran.
Cindy tertawa. "Mungkin. Tapi kadang-kadang, untuk menyembuhkan orang gila, kita harus lebih gila dari mereka."
Lev menatapnya, lalu ia tak bisa menahan tawanya. Tawa itu dimulai dari tawa kecil, lalu berubah menjadi tawa yang lebih lepas. Tawa itu terdengar sedikit canggung, seperti orang yang sudah lama tidak tertawa. Namun, tawa itu tulus.
Cindy tersenyum lega. Ia berhasil.
Lev mengusap air matanya yang keluar karena tertawa. "Kamu serius datang jauh-jauh cuma buat jadi... badut?"
"Iya," kata Cindy. "Dan tampaknya berhasil. Kamu akhirnya tertawa."
Lev terdiam, menatap tumpukan serbet di dinding dan sapu yang dipegang Cindy. Ia merasa malu, namun juga lega. Ada sesuatu yang melegakan dari kekonyolan Cindy yang tidak terduga. Cindy tidak mencoba mengobatinya dengan kata-kata manis, tetapi dengan tindakan yang aneh dan lucu, yang justru menyentuh hatinya.
"Terima kasih," kata Lev, dengan suara yang lebih jelas dari sebelumnya.
"Sama-sama," jawab Cindy. "Tapi jangan harap ini berakhir sampai di sini. Ini baru hari pertama. Kamu harus lebih banyak tertawa lagi. Besok aku akan bawakan kamu... alat sulap gagal."
Cindy keluar dari kamar Lev, meninggalkan sapu dan serbet-serbet di sana. Ia tahu, tugasnya masih panjang. Tapi, untuk pertama kalinya sejak ia sampai di Banjarmasin, ia merasa optimis. Senyum pertama sudah ia dapatkan. Sekarang, ia hanya perlu membuatnya bertahan.
