Pike Place Market di Seattle adalah sebuah labirin yang penuh warna, suara, dan aroma. Bagi Lev, ini adalah versi lain dari pasar apung di Banjarmasin, hanya saja ini di darat dan tanpa perahu. Sindy, yang sudah sering ke sana, menjadi pemandu yang handal, menunjukkan segala hal menarik, mulai dari ikan-ikan segar yang dilempar oleh para penjual, hingga toko bunga yang warna-warni.
Mereka menyusuri setiap lorong, mata Lev terbelalak kagum. Sindy sesekali membelikan Lev seafood yang baru saja ditangkap, memastikan Lev memakan makanan halal. Mereka juga mencoba kopi dari gerai Starbucks pertama, yang membuat Sindy tak henti-hentinya berswafoto.
Saat mereka sedang asyik berkeliling, Sindy melihat sebuah toko antik. Mata Sindy berbinar-binar. “Ayo kita masuk, Lev! Siapa tahu ada barang antik yang lucu!”
Lev, yang tidak terlalu tertarik dengan barang antik, hanya mengikuti. Toko itu penuh dengan barang-barang tua, dari piringan hitam hingga furnitur kuno. Sindy sibuk melihat-lihat, sementara Lev hanya berdiri di dekat pintu, mengamati sekeliling.
Tiba-tiba, Sindy berteriak. “Lev! Aku menemukan ini!”
Sindy memegang sebuah kotak musik kecil yang terlihat sangat tua. Kotak itu diukir dengan detail yang indah.
“Ini lucu banget! Aku harus beli ini,” kata Sindy.
“Berapa harganya?” tanya Lev.
Sindy melihat label harga di bawah kotak musik itu. “$50. Lumayan mahal, ya.”
“Kenapa tidak kamu tawar?” tanya Lev. “Di pasar Banjar, kita bisa menawar harga.”
Sindy tertawa. “Di sini tidak bisa, Lev. Harganya sudah paten.”
Namun, mereka tidak tahu bahwa ada seorang pria paruh baya yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Pria itu, yang berpakaian rapi dan terlihat ramah, mendekati mereka.
“Kalian tertarik dengan kotak musik ini?” tanyanya.
Sindy mengangguk. “Iya, Pak. Ini lucu sekali.”
“Ini kotak musik dari era Victoria. Koleksi pribadi saya,” kata pria itu. “Saya jual karena saya butuh uang untuk biaya rumah sakit istri saya.”
Sindy merasa iba. “Oh… maaf, Pak. Kami tidak tahu.”
“Tidak apa-apa, Nak. Rezeki dari Tuhan tidak akan kemana,” kata pria itu, dengan senyum tulus.
Lev merasa tergerak. Ia melihat mata pria itu yang penuh dengan kesedihan, tetapi juga penuh dengan ketulusan. Ia teringat akan pesan ayahnya. Menebar rahmat.
“Pak, kami tidak bisa menawar harga. Tapi kami ingin membeli ini dengan harga yang pantas,” kata Lev.
Pria itu tersenyum. “Harga $50 sudah pantas, Nak. Saya tidak mau memberatkan.”
“Bagaimana kalau $100?” tawar Lev.
Pria itu terkejut. “Nak… jangan. Itu terlalu banyak.”
“Anggap saja ini sebagai bentuk sedekah kami, Pak. Semoga istri Bapak lekas sembuh,” kata Lev.
Sindy, yang mengerti maksud Lev, mengeluarkan uangnya dan memberikannya kepada pria itu. Pria itu menerima uang itu dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian,” katanya.
Setelah pria itu pergi, Sindy menatap Lev. “Lev, kamu ini… kadang konyol, kadang… touching.”
Lev tersenyum. “Ini bukan tentang konyol atau tidak, Sindy. Ini tentang kebaikan. Dan kebaikan itu universal. Tidak peduli agamanya apa, bangsanya apa, warna kulitnya apa.”
Sindy mengangguk. Ia memeluk kotak musik itu dengan erat. Kotak musik itu bukan lagi sekadar barang antik, tetapi menjadi simbol kebaikan yang ia dan Lev tebarkan di Seattle.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka di pasar. Mereka membeli beberapa barang-barang kecil, berinteraksi dengan orang-orang yang beragam, dan menikmati suasana yang penuh warna. Lev tidak lagi merasa asing. Ia merasa seperti berada di rumah, dengan teman barunya yang selalu siap membuat hidupnya lebih berwarna.
Di Seattle, di pasar yang ramai, Lev dan Sindy belajar bahwa kebaikan tidak mengenal batas. Kebaikan itu bisa datang dari siapa saja, dan bisa diberikan kepada siapa saja. Dan yang paling penting, kebaikan itu bisa membuat dunia menjadi lebih indah. Perjalanan mereka masih jauh, tetapi mereka tahu, mereka sudah memiliki bekal yang cukup: hati yang tulus dan keinginan untuk selalu berbuat baik.
