Bayangan Kekhawatiran: Vania Merasakan Gejala Aneh di Tengah Kisah Cinta Mahasiswa ULM.
Kesibukan sebagai mahasiswa ULM kembali menguji hubungan Lev Ryley dan Vania Larasati. Mereka harus pintar-pintar mencuri waktu untuk bertemu. Kopi sore di taman menjadi ritual, momen berharga di tengah padatnya jadwal kuliah dan praktik mengajar. Namun, belakangan ini, ada yang berbeda dari Vania. Senyumnya, meski tetap ada, terasa sedikit hambar. Matanya yang biasanya penuh cahaya, kini terkadang terlihat lelah.
Suatu hari, setelah Vania selesai mengajar anak-anak, mereka duduk di bangku taman seperti biasa. Lev membawakan dua gelas es teh. Vania, yang biasanya langsung meminumnya, kali ini hanya memegang gelasnya.
"Kamu kenapa, Vania? Kamu terlihat pucat," tanya Lev, khawatir.
Vania tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Lev. Aku hanya sedikit pusing. Mungkin kecapekan."
"Sudah berapa lama?"
"Beberapa minggu ini. Tapi tidak terlalu sering kok," jawab Vania, berusaha meyakinkan. "Mungkin karena aku kurang tidur."
Lev menatap mata Vania lekat-lekat. Ia melihat ada keraguan di sana. Perasaan aneh muncul di benaknya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan saat membaca novel romantis mana pun. Ini adalah perasaan khawatir yang nyata, jauh lebih berat daripada konflik-konflik kecil yang biasa mereka hadapi.
Malam harinya, setelah kembali ke kosnya di Banjarmasin, Vania merasakan nyeri di perutnya. Nyeri itu datang dan pergi, semakin sering muncul belakangan ini. Ia mencoba mengabaikannya, berpikir mungkin hanya karena masalah pencernaan biasa. Namun, ada satu hal lagi yang mengganggunya. Nyeri di perut itu semakin terasa saat ia mencoba melukis, saat ia mencoba menuangkan emosinya di atas kanvas.
Vania mulai merasa takut. Ia teringat cerita salah satu keluarganya yang meninggal karena penyakit mematikan. Pikiran-pikiran negatif mulai menggerogoti pikirannya. Ia tidak ingin mengatakannya pada Lev. Ia tidak ingin Lev khawatir, apalagi di tengah kesibukan kuliahnya.
Esok harinya, Lev mengiriminya pesan, bertanya tentang kondisinya. Vania berbohong, mengatakan ia sudah lebih baik. Ia kembali mengajar, kembali melukis, mencoba melupakan rasa sakit dan kekhawatiran yang menghantuinya. Namun, bayangan gelap itu tetap ada, menari-nari di balik senyum cerianya.
Di tengah kisah cinta mahasiswa yang seharusnya penuh kebahagiaan, sebuah bayangan kelam mulai muncul. Lev dan Vania, yang baru saja belajar mengelola perbedaan, kini harus bersiap menghadapi ujian baru yang jauh lebih besar. Ujian yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kompromi, melainkan dengan kekuatan hati dan ketabahan yang luar biasa.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Apa yang sebenarnya terjadi pada Vania Larasati?
Apakah Lev Ryley akan menyadari ada yang salah dengan kekasihnya?
Novel romantis ini akan memasuki babak yang lebih menyentuh hati. Siapkan tisu, karena kisah ini akan menguras emosi! #NovelRomantis #SadEnding #Banjarmasin #MahasiswaULM #KisahCinta #PenyakitMematikan
