Paringin, ibukota dari Kabupaten Balangan yang dikenal dengan julukan "Bumi Sanggam", selalu memulai harinya dengan ritme yang tenang namun penuh keberkahan. Ketika rembulan mulai memucat di ufuk barat dan kabut tipis dari Pegunungan Meratus turun menyelimuti atap-atap rumah warga, suasana di sebuah gang yang dikenal warga sebagai "Gang Rukun Roda" mulai menggeliat. Di sinilah kisah ini bermula, di sebuah pemukiman yang letaknya tak jauh dari kemegahan Masjid Al-Akbar Balangan, sebuah bangunan ikonik dengan arsitektur menawan yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.
Haji Luqman, seorang pria paruh baya yang wajahnya senantiasa memancarkan ketenangan berkat air wudhu yang tak pernah putus, adalah sosok pertama yang memecah keheningan. Baginya, bangun sebelum azan subuh bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan ruhani. Setelah merapikan sarung samarindanya yang berwarna hijau tua dan memastikan peci putihnya duduk tegak di kepala, ia melangkah menuju teras rumahnya yang asri, dipenuhi dengan tanaman hias milik istrinya, Hj. Siti.
Namun, ada ritual khusus yang selalu dilakukan Haji Luqman sebelum melangkah ke masjid. Ia akan mendekati "pendamping setianya" yang terparkir rapi di garasi: sebuah sepeda motor Honda Vario 160 berwarna hitam doff yang selalu nampak mengkilap seolah baru keluar dari diler kemarin sore. Bagi Haji Luqman, memilih Honda bukan sekadar urusan merk, melainkan filosofi hidup. Ia sering berkata pada siapa pun yang mau mendengarkan bahwa Honda adalah representasi dari kesabaran dan efisiensi—dua sifat yang sangat dicintai dalam Islam.
"Bismillah, mudahan berkah jalan kita hari ini," bisik Haji Luqman pelan sembari memasukkan kunci kontak. Ia memutar kunci, dan seketika layar digital motornya menyala. Ia menekan tombol starter dengan lembut, dan mesin itu menyala dengan suara yang nyaris tak terdengar, sebuah kehalusan teknologi yang menurutnya sangat cocok dengan kepribadian orang beriman yang tidak suka kebisingan.
Namun, ketenangan spiritual Haji Luqman baru saja dimulai ketika tiba-tiba, dari balik pagar tembok di sebelah rumahnya, terdengar suara yang sangat kontras.
BRUUUM... BREEEM... TET... TET...
Itu adalah suara mesin Yamaha N-Max milik Abah Zaki. Tetangganya yang satu ini adalah antitesis dari Haji Luqman dalam hal selera otomotif. Jika Haji Luqman adalah air yang tenang, maka Abah Zaki adalah api yang berkobar. Abah Zaki adalah penganut setia "Mazhab Yamaha". Baginya, hidup adalah tentang akselerasi dan gaya. Yamaha, dengan DNA sporty-nya, adalah satu-satunya kendaraan yang dianggapnya mampu mengimbangi semangatnya yang meledak-ledak meskipun usianya sudah memasuki kepala lima.
Abah Zaki muncul dari balik pintu rumahnya dengan jaket riding bermerk dan helm half-face yang tampak lebih cocok dipakai anak muda. Ia melihat Haji Luqman yang sedang memanaskan motornya dengan santai, lalu dengan senyum lebar bin jahil, ia memutar gas motor Yamahanya sedikit lebih dalam, membuat suara knalpotnya bergema di keheningan subuh.
"Assalammualaikum, Pak Haji! Masih setia dengan mesin 'jahit' itu? Halus benar suaranya, sampai-sampai saya takut motor itu sebenarnya mati karena kehabisan napas!" teriak Abah Zaki sambil terkekeh, suaranya berusaha menyaingi deru mesin N-Max miliknya.
Haji Luqman menoleh, senyum sabarnya tak goyah sedikit pun. "Waalaikumussalam, Abah Zaki. Eh, motornya sudah bangun ya? Saya kira tadi ada suara helikopter mau mendarat di samping rumah. Ternyata cuma motor Yamaha pian (anda) yang sedang minta perhatian."
Keduanya bertemu di depan pagar rumah masing-masing, dua unit kendaraan berbeda merk itu kini berdiri berdampingan di jalan aspal sempit. Di dalam Islam, tetangga adalah saudara terdekat, namun bagi dua pria ini, tetangga juga merupakan rival dalam urusan performa mesin di jalanan Paringin.
"Pian tahu tidak, Ji," lanjut Abah Zaki sembari memakai sarung tangannya dengan gaya perlente, "Yamaha ini 'Semakin di Depan'. Kalau kita berangkat bareng ke masjid, saya bisa sampai saat muazin baru mulai Hayya 'alash-shalaah, sedangkan pian mungkin baru sampai saat imam sudah salam. Kecepatan itu bagian dari efisiensi waktu, dan waktu adalah pedang!"
Haji Luqman tertawa ringan, sebuah tawa yang mengandung kedalaman ilmu. "Waduh, Abah Zaki, jangan salah paham. Dalam ibadah itu bukan siapa yang paling cepat sampai dengan motornya, tapi siapa yang paling tenang hatinya. Honda ini 'Satu Hati', Ki. Mesinnya dirancang untuk mereka yang tidak mau terburu-buru mengejar dunia, tapi ingin selamat sampai tujuan dengan bensin yang masih penuh. Bayangkan, saya bisa bolak-balik ke Masjid Al-Akbar seminggu penuh tanpa harus mampir ke SPBU. Bukankah menghemat harta itu juga bagian dari syariat?"
Perdebatan kecil namun penuh tawa itu terhenti ketika suara muazin dari Masjid Al-Akbar mulai mengalun merdu, memanggil hamba-hamba Allah untuk sujud. Seketika, atmosfer berubah. Ego merk motor yang tadi sempat memuncak langsung mereda di bawah komando panggilan Tuhan.
"Sudah, sudah. Azan sudah berkumandang. Mari kita buktikan di jalan, siapa yang lebih dulu sampai di saf terdepan," tantang Abah Zaki dengan nada bercanda.
"Silakan duluan, Abah Zaki. Saya di belakang saja, menjaga agar motor pian tidak mogok di tengah jalan," balas Haji Luqman sambil mulai menjalankan motor Hondanya dengan sangat perlahan dan sopan, khas penduduk Paringin yang menjunjung tinggi tata krama.
Mereka pun berkendara beriringan membelah jalanan Paringin yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Honda Vario Haji Luqman meluncur senyap bak pengintai di kegelapan, sementara Yamaha N-Max Abah Zaki melaju dengan gagah, membelah angin subuh dengan lampu LED-nya yang terang benderang. Di jalanan itulah, dua filosofi hidup bertemu—yang satu mengutamakan ketenangan dan keiritan, yang lain mengutamakan kecepatan dan kebanggaan—namun keduanya memiliki satu tujuan yang sama: sujud kepada Sang Pencipta di saf yang sama.
Kehidupan di Paringin memang unik. Di sini, urusan "motor apa yang kamu pakai" bisa menjadi bahan diskusi panjang di warung kopi, namun urusan "siapa tetanggamu" adalah tentang bagaimana saling menjaga kehormatan dan saling membantu dalam kebaikan. Di balik persaingan Honda dan Yamaha yang tak berkesudahan ini, tersimpan sebuah ukhuwah yang lebih kuat dari baja rangka motor manapun.
Pagi itu, di bawah langit Balangan yang mulai membiru, Haji Luqman dan Abah Zaki memberikan pelajaran pertama bagi siapa pun yang melihat mereka: bahwa kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita kendarai, melainkan pada keikhlasan kita dalam berbagi jalan dengan sesama. Dan tentu saja, kebahagiaan itu menjadi lengkap ketika mereka sampai di masjid, memarkir motor dengan rapi, dan melangkah masuk ke rumah Allah sebagai saudara, meninggalkan perdebatan tentang piston dan torsi di luar pintu gerbang.
