Beberapa hari kemudian, demam baru melanda rumah keluarga Rahmat, kali ini dipicu oleh tren kuliner global yang merambah hingga ke Banjarmasin. Aisyah, sang duta media sosial keluarga, datang dengan mata berbinar-binar setelah scroll Instagram Reels.
"Bu, Kak, Yah! Kita harus bikin ini!" serunya, meletakkan ponselnya di meja ruang tengah.
Di layar ponsel itu, terlihat video-video influencer membuka batang cokelat yang tebal. Saat dipotong, cokelat itu lumer, memperlihatkan isian krim pistachio yang crunchy dengan kunafa (pastry tipis khas Timur Tengah). Namanya: Dubai Chocolate, atau yang sering disebut "Fix Chocolate". Harganya selangit, dan sulit didapatkan di Indonesia.
Ayah Rahmat yang sedang santai minum kopi, melirik layar ponsel. "Cokelat apaan tuh, Ais? Cokelat Arab? Kayaknya enak, tapi mahal pasti."
"Makanya, Yah! Karena mahal dan langka, kita bikin sendiri! Mumpung Sarah kan mahasiswa kuliner," Aisyah melirik kakaknya dengan pandangan penuh harap.
Sarah, yang sedang fokus membaca buku resep, menghela napas. "Gampang ngomongnya. Bahan utamanya itu pistachio paste dan kunafa pastry. Di Banjarmasin nyarinya di mana?"
"Cari di toko bahan kue impor atau online, Kak! Ayolah! Seru tahu! Biar kita enggak ketinggalan zaman," desak Aisyah.
Ibu Salma, yang selalu mendukung ide kreatif anak-anaknya, menengahi. "Coba dicek dulu, Sarah. Kalau bahannya ada, kita coba bikin. Seru juga kali-kali bikin makanan viral dunia."
Setelah melakukan riset online, Sarah menemukan bahwa bahan-bahan tersebut bisa didapatkan di toko bahan kue khusus di Banjarmasin, meskipun dengan harga yang lumayan mahal. Ayah Rahmat yang melihat potensi konten viral dan bisnis kecil-kecilan, langsung setuju untuk membiayai bahan baku.
"Anggap saja investasi riset dan pengembangan, Bu," bisiknya ke Ibu Salma.
Proyek Dubai Chocolate pun dimulai di dapur keluarga Rahmat. Suasana dapur berubah menjadi laboratorium cokelat dadakan. Sarah bertindak sebagai kepala proyek, Aisyah sebagai dokumentator (tentu saja), Zaki sebagai pencicip bahan mentah, dan Ayah Rahmat serta Ibu Salma sebagai tim asistensi dan pengawas kualitas.
Sarah mulai melelehkan cokelat compound berkualitas. Tantangannya adalah menjaga suhu cokelat agar proses tempering-nya sempurna dan menghasilkan cokelat yang mengkilap serta renyah saat digigit.
"Temperatur harus pas 31 derajat Celsius," Sarah fokus dengan termometer digitalnya.
Sementara itu, Aisyah sibuk merekam proses pembuatan isian pistachio dan kunafa yang sudah dipanggang hingga renyah. "Aduh, aromanya enak banget, guys! Wangi kacang dan mentega!"
Ayah Rahmat, yang tak bisa diam, mencoba membuat lelucon. "Zaki, ini kunafa rasanya kayak rambut nenek, ya? Krispi-krispi gimana gitu."
Zaki tertawa. "Enggak, Yah. Kayak bihun goreng yang krispi!"
Setelah melalui proses yang cukup rumit, akhirnya beberapa batang cokelat tebal tercipta. Mereka memasukkannya ke dalam kulkas untuk proses pengerasan. Detik-detik penantian itu terasa lama.
Akhirnya, waktunya panen. Sarah mengeluarkan cokelat dari cetakannya. Hasilnya memuaskan, cokelatnya mengkilap sempurna. Momen paling ditunggu-tunggu pun tiba: momen membelah cokelat.
Aisyah memasang kamera terbaiknya. Sarah memegang pisau. Krak! Cokelat terbelah dengan bunyi renyah yang sempurna. Isian pistachio dan kunafa langsung tumpah keluar, persis seperti di video viral Instagram.
"Berhasil! Masya Allah, berhasil!" seru Aisyah histeris.
Mereka semua mencicipinya. Rasanya luar biasa. Cokelatnya kaya, isian pistachio-nya gurih, dan tekstur kunafa yang renyah memberikan sensasi unik di mulut. Rasanya bahkan lebih enak dari yang mereka bayangkan, karena dibuat dengan bahan segar dan tanpa pengawet.
Ayah Rahmat, sambil mengunyah dengan nikmat, berujar, "Tuh kan, kalau kita niat, makanan viral dunia pun bisa kita bikin di Banjarmasin. Nilai Islamnya di mana? Di rasa syukur kita karena Allah kasih kita kemampuan dan rezeki buat beli bahan-bahannya. Dan yang penting, bikinnya di rumah jadi terjamin halalnya!"
Misi Dubai Chocolate sukses besar. Aisyah langsung mengunggah video slow motion saat cokelat itu dibelah, lengkap dengan hashtag SEO yang bagus: #DubaiChocolateViral #FixChocolateIndonesia #ResepDubaiChocolateHalal #KulinerBanjarmasin #HomeMadeChocolate. Video itu langsung meledak di media sosial, dan keluarga Rahmat siap menghadapi babak baru: banjir pesanan.
