Musim dingin di Alaska adalah sebuah entitas yang hidup. Ia bisa saja tenang dan damai, seperti selimut putih yang menutupi bumi. Namun, ia juga bisa menjadi monster yang buas, dengan angin yang menderu dan badai salju yang mengamuk. Malam itu, badai salju datang, lebih ganas dari biasanya. Jalanan kota Talkeetna tertutup salju tebal, dan listrik padam.
Eva duduk di depan perapian di pondoknya, diterangi oleh cahaya lilin yang berkelap-kelip. Ia merasa nyaman, tetapi juga sedikit khawatir. Alex seharusnya sudah pulang ke apartemennya di seberang kota, tetapi dalam badai seperti ini, sulit untuk bepergian. Ia mencoba menelepon Alex, tetapi teleponnya mati. Ia merasa cemas.
Beberapa saat kemudian, ada ketukan di pintu. Saat Eva membukanya, Alex berdiri di sana, diselimuti salju dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya pucat karena kedinginan.
"Maaf," kata Alex, suaranya sedikit gemetar. "Aku tidak bisa pulang. Mobilku terjebak di salju."
Eva tidak menunggu lama, ia segera menarik Alex masuk. "Kau gila! Kenapa kau tidak menunggu saja di dalam mobil?"
"Aku takut kau khawatir," kata Alex, senyum kecil terukir di bibirnya.
Eva merasa hatinya menghangat. Ia membantunya melepaskan jaket tebalnya dan memberinya selimut. "Kau hampir membeku," kata Eva, memberinya secangkir teh panas.
Alex duduk di depan perapian, menyesap tehnya, sementara Lief mengusap-usapkan kepalanya di kakinya. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka.
"Aku tidak pernah melihat badai salju separah ini," kata Alex, melihat ke luar jendela.
"Ada banyak hal yang tidak pernah kau lihat, Alex," kata Eva, suaranya lembut.
Alex menatapnya. "Seperti kau, misalnya?"
Eva tersenyum pahit. "Mungkin. Dulu, di masa lalu yang sangat jauh, aku pernah terjebak dalam badai salju seperti ini. Tapi badai itu tidak hanya tentang cuaca. Itu tentang hatiku."
Alex mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tahu, Eva akan menceritakan sebuah kisah yang hanya ia yang tahu.
Eva menatap api yang menari-nari di perapian. "Aku pernah hidup di sebuah desa kecil di pegunungan, ratusan tahun yang lalu. Aku tinggal dengan keluarga manusia, yang telah merawatku sejak aku masih kecil. Aku mencintai mereka, mereka mencintaiku. Mereka tahu aku berbeda, tapi mereka tidak pernah bertanya. Mereka hanya menerimaku apa adanya."
"Ada seorang gadis kecil di desa itu. Namanya Clara," lanjut Eva, suaranya sedikit bergetar. "Dia adalah putri dari sahabatku. Aku mengajarinya menyulam, memasak, dan membaca. Dia adalah cahaya dalam hidupku. Tapi... waktu tidak berlaku sama untuk kami."
Alex mendengarkan, matanya terpaku pada Eva.
"Pada suatu malam, badai salju datang. Badai itu begitu hebat, sehingga semua orang terkurung di dalam rumah. Clara dan aku berada di dalam, dengan perapian yang hangat. Tapi aku tahu, aku tidak bisa tinggal selamanya. Aku tahu, ia akan menua, ia akan punya anak, dan ia akan pergi. Sementara aku, akan tetap sama."
"Aku memutuskan untuk pergi. Aku memutuskan untuk menghilang. Aku tidak ingin melihatnya menua, aku tidak ingin melihat matanya dipenuhi pertanyaan saat ia menyadari bahwa aku tidak berubah."
Air mata Eva menetes. "Malam itu, aku meninggalkan desa. Aku meninggalkan Clara, meninggalkan keluargaku, meninggalkan semua yang kucintai. Aku berjalan di tengah badai salju, dan aku tidak pernah menoleh ke belakang. Itu adalah badai paling menyakitkan yang pernah kualami. Badai di dalam hatiku."
Alex tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil tangan Eva dan menggenggamnya. Genggaman yang kuat, namun lembut.
"Kau... Ethan yang datang ke toko, kan?" tanya Alex, suaranya pelan. "Cicit dari Clara?"
Eva mengangguk. "Ya."
"Oh, Eva," gumam Alex. "Aku tidak tahu."
"Kau tahu sekarang," kata Eva, tersenyum kecil. "Dan kau... tidak lari."
"Tentu saja tidak," kata Alex, memegang tangan Eva lebih erat. "Kita terjebak dalam badai salju, kan? Kita tidak punya pilihan lain."
Eva menatap Alex, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, ia telah menemukan sesuatu yang istimewa dalam diri Alex. Ia telah menemukan seseorang yang tidak hanya mendengarkan ceritanya, tetapi juga memegangi tangannya saat ia menceritakannya. Ia telah menemukan persahabatan sejati, persahabatan yang tidak peduli pada waktu.
Di luar, badai salju masih mengamuk, tetapi di dalam pondok Eva, ada kehangatan. Kehangatan perapian, kehangatan teh, dan kehangatan persahabatan yang baru. Untuk saat ini, badai tidak lagi menakutkan. Ia tahu, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi.
