Suasana di desa Dayak Muslim itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Malam itu, para warga bersiap untuk sebuah acara pesta adat sederhana. Bukan upacara besar, melainkan sebuah acara syukuran yang diselenggarakan oleh salah satu keluarga. Kepala desa menjelaskan bahwa mereka sering mengadakan acara seperti ini, sebagai bentuk rasa syukur dan untuk mempererat tali silaturahmi.
"Lev, kamu siap?" tanya Faruq, saat mereka berdua berjalan menuju rumah kepala desa.
"Siap! Aku sudah menyiapkan kamera dan mental," jawab Lev, penuh semangat.
Saat mereka tiba di rumah kepala desa, suasana sudah ramai. Banyak warga yang berkumpul, duduk di lantai beralaskan tikar, sambil berbincang-bincang. Aroma masakan khas Dayak Muslim menguar, membuat perut Lev kembali berbunyi.
"Assalamualaikum," sapa Lev dan Faruq.
"Waalaikumsalam, ayo masuk, nak," sapa kepala desa.
Mereka duduk di samping kepala desa. Lev melihat sekeliling, ia melihat banyak makanan yang dihidangkan. Ada nasi kuning, ikan bakar, dan berbagai macam lauk-pauk lainnya.
"Pak, makanan ini semuanya halal, kan?" tanya Lev, dengan nada penuh harap.
"Tentu saja, nak. Di sini, kami semua Muslim. Jadi, jangan khawatir," jawab kepala desa.
Lev merasa lega. Ia mengambil piring, dan mulai mengambil makanan. Ia mengambil nasi kuning, ikan bakar, dan beberapa lauk lainnya. Ia mencicipi makanan itu, dan rasanya... luar biasa.
"Faruq, ini enak sekali!" kata Lev, dengan mulut penuh.
Faruq tersenyum. "Makanya, aku ajak kamu ke sini."
Saat mereka sedang asyik makan, seorang pemuda datang menghampiri mereka. Pemuda itu terlihat tampan, dengan pakaian adat Dayak yang membalut tubuhnya.
"Assalamualaikum," sapa pemuda itu.
"Waalaikumsalam," jawab Lev dan Faruq.
"Nama saya Agus. Saya anak dari kepala desa. Kalian sedang apa?" tanya Agus.
"Kami sedang menikmati makanan, Agus. Rasanya enak sekali," jawab Lev.
"Terima kasih. Kami memang sering membuat acara seperti ini. Ini adalah cara kami untuk bersyukur," kata Agus.
Mereka terlibat dalam perbincangan. Agus bercerita tentang kehidupannya, tentang desanya, dan tentang akulturasi budaya Dayak dan Islam.
"Di sini, kami masih menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Kami masih sering mengadakan upacara adat, tapi kami juga tidak lupa dengan ajaran Islam. Kami percaya, agama itu bisa menyatu dengan budaya," kata Agus.
Lev merasa kagum. Ia melihat, bagaimana akulturasi budaya Islam dan budaya Dayak bisa berjalan dengan begitu harmonis. Ia melihat, bagaimana Islam bisa beradaptasi dengan budaya lokal, tanpa kehilangan esensinya.
"Aku akan memotret upacara adat kalian, Agus," kata Lev.
"Tentu, nak. Besok pagi, kami akan mengadakan upacara adat sederhana," jawab Agus.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba terdengar suara aneh dari dapur.
KRESEK! BRUK!
Lev, yang duduk paling dekat dengan dapur, langsung bangkit. Ia melihat ke arah dapur, dan melihat seekor ayam jantan berlarian, mengepakkan sayapnya.
"ASTAGHFIRULLAH! AYAMNYA LEPAS!" teriak Lev.
Ayam itu berlari ke arah meja makan, menabrak piring-piring, dan akhirnya menabrak kue lapis khas Dayak yang sudah dihidangkan.
"YAAH! KUENYA!" teriak Lev.
Agus dan Faruq segera membantu Lev menangkap ayam itu. Namun, ayam itu sangat lincah. Mereka berkejaran di dalam rumah, menciptakan suasana yang riuh.
Akhirnya, mereka berhasil menangkap ayam itu. Lev merasa malu, ia telah membuat kekacauan lagi.
"Maaf, Agus. Aku tidak sengaja," kata Lev.
Agus tersenyum. "Tidak apa-apa, Lev. Namanya juga kecelakaan. Kita bisa membuat kue yang baru."
Lev merasa lega. Ia melihat Faruq yang menahan tawa. "Tuh kan, Lev. Kamu ini memang tidak bisa diam, ya," bisik Faruq.
Lev meringis. Ia tahu, ia memang ceroboh. Tapi di balik kecerobohannya, ia belajar banyak hal.
Malam itu, setelah kekacauan berhasil dibereskan, mereka kembali menikmati pesta adat. Lev melihat bagaimana warga desa saling membantu, saling berbagi, dan saling tertawa. Ia merasa bahagia, ia merasa menjadi bagian dari keluarga ini.
Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
