Hutan Rimba kembali damai dan hijau. Berita tentang keberhasilan Kiko dan teman-teman membersihkan sungai telah menyebar ke seluruh penjuru, menjadikan mereka pahlawan sejati. Namun, jauh di lubuk hati mereka, kenangan tentang cermin yang mereka temukan di dasar danau masih membekas. Mereka tahu, cermin itu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah misi abadi untuk menjaga kejujuran di dalam diri.
Suatu pagi yang cerah, saat mereka sedang merawat pohon-pohon kecil mereka, Kiko menemukan sebuah benda kecil yang tersembunyi di bawah akar. Benda itu berbentuk seperti perak kecil, memantulkan cahaya matahari dengan indah. Kiko segera mengambilnya dan memperlihatkannya kepada teman-temannya.
"Ini seperti pecahan cermin kita yang dulu," kata Momo.
"Tapi ini lebih kecil," kata Pipi.
"Kita harus menemui Pak Beruang," kata Lala. "Dia pasti tahu apa artinya."
Mereka bergegas menemui Pak Beruang dan menceritakan penemuan mereka. Pak Beruang tersenyum, matanya berbinar. "Itu adalah Cermin Kejujuran Kedua," katanya. "Cermin itu akan memantulkan kejujuran kalian, bukan hanya pada diri kalian sendiri, tetapi juga pada orang lain."
"Bagaimana caranya?" tanya Kiko.
"Kalian harus mencari seseorang yang berbohong," jawab Pak Beruang. "Ketika kalian mendekati orang itu, cermin itu akan bersinar. Dan saat kalian memberikan cermin itu kepada orang itu, dia akan melihat kebenaran."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala merasa bersemangat. Mereka tahu, tugas mereka sekarang adalah mencari orang yang berbohong dan membantunya untuk menjadi jujur.
Mereka mulai mencari. Mereka mendatangi setiap sudut Hutan Rimba, tetapi tidak menemukan siapa pun yang berbohong. Mereka mulai merasa putus asa.
"Mungkin tidak ada lagi yang berbohong di hutan ini," kata Momo.
"Mungkin kita harus lebih sabar," kata Pipi.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangisan dari balik semak. Mereka mendekat dan menemukan seekor anak babi yang sedang menangis. "Kenapa kamu menangis?" tanya Kiko.
"Aku... aku berbohong kepada ibuku," kata anak babi itu. "Aku bilang aku tidak melihat kue ibuku, padahal aku yang memakannya."
Cermin Kejujuran Kedua yang dipegang Kiko mulai bersinar. Kiko tahu, inilah saatnya. Ia mendekati anak babi itu dan memberikan cermin itu. Anak babi itu melihat pantulan dirinya di cermin, dan ia melihat dirinya yang berbohong. Ia merasa sangat malu.
"Aku minta maaf," kata anak babi itu. "Aku tidak akan berbohong lagi."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala tersenyum. Mereka tahu, mereka telah berhasil menjalankan misi mereka. Mereka telah membantu anak babi itu untuk menjadi jujur. Mereka menyadari, tugas mereka sebagai pelindung Hutan Rimba tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga menjaga hati. Menjaga hati dari kebohongan, keserakahan, dan ketidakpedulian.
Beruang Bijak tersenyum melihat mereka. Ia tahu, Hutan Rimba berada di tangan yang tepat. Tangan-tangan yang dipenuhi dengan kebaikan, keberanian, ketulusan, dan kejujuran. Tangan-tangan yang akan selalu menjaga Hutan Rimba, selamanya.
