Fajar menyingsing di atas Hutan Evergreen, menampakkan kamp Primaterra Mining Corp (PMC) yang porak-poranda. Manusia-manusia di sana sibuk memperbaiki selang hidrolik yang robek, membersihkan tumpahan bahan bakar, dan mencoba melepaskan rekan mereka yang masih terjerat jaring sutra super kuat Spinner. Kerusakan yang ditimbulkan oleh trio monster sangat signifikan, menyebabkan penundaan kerja setidaknya dua hari penuh dan kerugian finansial yang membuat manajer lapangan mereka, Pak Budi, pusing tujuh keliling.
Kembali di jantung hutan, di kedalaman yang aman, trio pahlawan kita menikmati sarapan kemenangan. Bumble menyajikan madu bunga Nectarina Crystallis terbaiknya, sementara Leo menikmati tangkapan paginya: seekor ikan salmon hutan yang gemuk dari sungai kristal.
"Kerja bagus semalam, tim," puji Spinner, yang sedang menyesap embun segar dari daun pakis. "Kita telah memberikan pesan yang jelas."
"Ya, tapi kurasa pesan itu hanya 'Jangan main-main dengan properti alam'," gerutu Leo, mengunyah ikannya. "Mereka akan kembali. Manusia itu keras kepala. Mereka punya 'misi' yang disebut 'ekonomi' atau apalah itu."
Bumble, yang sedang menjilat madu dari antena kecilnya, setuju. "Leo benar. Manajer mereka, si botak dengan topi kuning, terlihat sangat marah pagi ini. Aku melihatnya dari jauh. Dia menendang drum yang bocor dan berteriak-teriak."
Spinner merenung. "Jika ini adalah game RPG, kita baru saja menyelesaikan 'Quest Sampingan: Sabotase Kamp Awal'. Sekarang saatnya mempersiapkan 'Quest Utama: Menghentikan Infiltrasi Permanen'."
Saat itulah, Bumble teringat sesuatu. "Oh iya, Spinner, aku menemukan 'item langka' saat menyengat generator listrik tadi malam. Benda kecil ini terselip di balik panel kontrol."
Bumble mengeluarkan sebuah USB flash drive kecil berwarna perak dari kantong nektar di perutnya. Benda itu berkilau aneh di bawah cahaya hutan.
Spinner mengambil flash drive itu dengan dua kaki depannya yang ramping, memeriksanya dengan teliti. "Ini adalah artefak teknologi tinggi. Mungkin berisi rencana mereka. Kita perlu 'menggunakan' item ini untuk mendapatkan informasi."
"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Leo. "Kita tidak punya komputer. Kita punya cakar dan sengat, bukan mouse dan keyboard."
"Aku punya ide," kata Spinner, matanya yang majemuk bersinar cerah. "Ikut aku ke Pohon Pengetahuan."
Trio itu bergerak ke bagian hutan yang paling tua, di mana Pohon Sequoia Raksasa—sebuah monumen alam purba—berdiri. Di pangkal pohon itu terdapat sebuah lubang yang menjadi rumah bagi Profesor Owa, seekor burung hantu tua yang bijaksana dengan kacamata bertengger di hidungnya. Profesor Owa adalah satu-satunya makhluk di Evergreen yang tahu cara kerja teknologi manusia.
"Ah, Spinner, Leo, Bumble," sambut Profesor Owa dengan suara serak. "Ada masalah teknologi di surga hijau kita?"
"Kami menemukan 'item langka' ini," kata Spinner, menyerahkan flash drive. "Bisakah Anda mengakses datanya? Kami perlu tahu rencana manusia."
Profesor Owa mendengus, mengambil flash drive itu dengan paruhnya. Dia memasangnya ke dalam sebuah perangkat aneh yang terbuat dari kristal hutan, lumut berpendar, dan kabel-kabel tembaga primitif—sejenis komputer biologis yang unik.
Cahaya hijau menyebar dari kristal saat data diakses. Peta tiga dimensi dari Hutan Evergreen muncul di layar lumut. Garis merah terang menunjukkan area yang ditargetkan untuk ditebang, tanda silang menunjukkan lokasi tambang potensial, dan sebuah bangunan besar di perbatasan ditandai sebagai "Markas Besar Fase 2".
Leo, Bumble, dan Spinner mengamati peta itu dengan ngeri.
"Mereka berencana menghancurkan separuh hutan!" geram Leo. "Mereka bahkan menandai area di mana bunga Nectarina Crystallis tumbuh!"
"Mereka menyebutnya 'Pengembangan Lahan' dan 'Optimalisasi Sumber Daya'," baca Profesor Owa dari data di layar. "Dalangnya adalah seorang pria bernama Tuan Arsitek—CEO PMC. Dia akan datang sendiri ke markas besar baru dalam dua hari untuk mengawasi fase berikutnya."
Wajah trio monster itu mengeras. Situasinya jauh lebih serius dari sekadar kamp penebang pohon. Ini adalah invasi terencana skala besar.
"Kita perlu upgrade kemampuan kita," kata Spinner serius. "Misi sabotase tidak akan cukup lagi. Kita harus menghentikan Tuan Arsitek itu secara langsung dan permanen."
"Tapi bagaimana?" tanya Bumble, kepanikan mulai kembali merayap. "Dia pasti punya banyak penjaga. Dia bos besar. Bos RPG selalu sulit dikalahkan!"
Leo melangkah maju, bayangan Pohon Pengetahuan menyelimutinya. "Kita harus menggunakan keunggulan kita: Pengetahuan alam. Kita tahu setiap akar, setiap sungai, setiap jalan setapak di sini. Mereka tidak."
"Profesor Owa, apakah ada cara untuk meningkatkan kekuatan bertarung kami? Ramuan ajaib? Mantra kuno?" tanya Spinner.
Profesor Owa mengangguk, matanya berbinar di balik kacamata. "Ada. Tapi itu memerlukan 'quest' lain. 'Quest #2: Misi Air Jernih'. Sungai di selatan tercemar limbah mereka. Jika kalian membersihkannya, Pohon Kehidupan di hulu akan memberikan kalian esensi alam yang akan meningkatkan kemampuan kalian."
Trio monster saling pandang. Rencana manusia terungkap, "item langka" memberikan wawasan, dan kini "quest" baru menanti. Dunia fantasi RPG mereka semakin nyata, dan mereka siap menghadapinya.
