Bab 12: Bukit Rimpi: Melukis Kenangan Terakhir

Bab 12: Bukit Rimpi: Melukis Kenangan Terakhir

Lev
0

Melukis Kenangan di Bukit Rimpi: Liburan Terakhir Lev dan Vania di Tengah Perjuangan Kanker.

Pengobatan kanker Vania Larasati di Banjarmasin berjalan dengan naik turun. Ada hari-hari yang Vania lewati dengan senyum, ada pula hari-hari yang dipenuhi dengan rasa sakit dan kelelahan. Di tengah semua itu, Lev Ryley, mahasiswa pustakawan ULM, tetap setia menemani. Ia mencuri setiap momen, mengubahnya menjadi kenangan berharga.

Suatu hari, setelah Vania selesai menjalani kemoterapi, ia terlihat sangat lemas. Namun, matanya memancarkan kerinduan.

"Lev... bisakah kita pergi ke tempat yang tenang?" tanya Vania, suaranya parau. "Aku ingin melukis lagi. Tapi bukan di rumah sakit."

Lev mengerti. Vania merindukan keindahan, kebebasan yang dulu mereka miliki. Tempat pertama yang terlintas di benak Lev adalah Bukit Rimpi di Pelaihari. Tempat yang sering dijuluki "Bukit Teletubbies" karena pemandangannya yang indah.

"Kita akan ke sana, Vania. Aku janji," ucap Lev.

Maka, di akhir pekan yang cerah, Lev mengajak Vania ke Bukit Rimpi. Perjalanan dari Banjarmasin terasa panjang, namun semangat Vania membuatnya terasa singkat. Vania, dengan jaket tebal dan syal yang menutupi rambutnya yang rontok akibat kemoterapi, duduk di samping Lev. Tangannya menggenggam buku sketsa dan beberapa pensil warna.
Mereka mendaki bukit yang landai. Vania berjalan perlahan, tapi Lev selalu ada di sisinya, siap menopang. Pemandangan hamparan rumput hijau, dihiasi bebatuan kecil, membuat Vania tersenyum. Angin sejuk mengibaskan ujung syalnya.
Di puncak bukit, mereka duduk di bawah pohon yang teduh. Di depan mereka, pemandangan bukit yang bergelombang membentang luas. Vania mengeluarkan buku sketsanya.

"Aku akan melukisnya, Lev," ucap Vania.

Lev duduk di sampingnya, mengamati setiap goresan pensil Vania. Tidak ada cat, hanya pensil warna. Namun, Vania mampu menangkap keindahan Bukit Rimpi. Tidak hanya keindahan pemandangannya, tapi juga keindahan momen kebersamaan mereka.

"Kamu tahu, Lev? Kamu seperti Bukit Rimpi," ucap Vania tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Lev, heran.

"Kamu terlihat kokoh, seperti bukit ini. Tapi di dalamnya, ada keindahan yang sangat dalam. Dan kamu selalu ada di sini, di sampingku," Vania tersenyum.

Lev tidak bisa menahan perasaannya. Ia memeluk Vania, erat. Ini mungkin liburan terakhir mereka. Di tengah keindahan Bukit Rimpi, mereka berdua sadar, waktu mereka tidak banyak.

"Aku cinta kamu, Vania," bisik Lev.

Vania membalas pelukannya. "Aku juga, Lev. Selamanya."

Lukisan Vania selesai. Bukan lukisan senja seperti di Pantai Takisung, tapi lukisan bukit yang penuh dengan warna-warni harapan. Lukisan itu menjadi kenangan terakhir mereka di tengah alam. Kisah cinta mahasiswa mereka, yang dimulai dengan senja dan berakhir di bukit, kini diabadikan dalam sebuah gambar, menjadi saksi bisu perjuangan dan cinta yang takkan pernah pudar.

Pesan untuk Pembaca (SEO):

Vania Larasati dan Lev Ryley mengukir kenangan terakhir di Bukit Rimpi di tengah perjuangan melawan kanker.

Akankah novel romantis sad ending ini berakhir di sini? Nantikan babak selanjutnya yang lebih mengharukan.

Cinta sejati akan selalu menemukan cara untuk bertahan, bahkan di saat-saat terakhir. #NovelRomantisSadEnding #VaniaKanker #MahasiswaULM #BukitRimpi #KisahCinta
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default