Bab 3: Jejak Masa Lalu di Gerbang Sekolah

Bab 3: Jejak Masa Lalu di Gerbang Sekolah

Lev
0
Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.


Pagi di Barabai selalu punya aroma yang khas; perpaduan antara tanah basah, asap kayu bakar dari penjual apam, dan kesibukan pegawai negeri yang berpacu dengan waktu. Pagi ini, suasana di rumah Hifni sedikit lebih riuh dari biasanya. Khalisah sudah rapi dengan baju olahraga PAUD-nya, sementara Mochi si kucing oren sibuk mengejar tali sepatu Hifni yang sedang berusaha diikat cepat-cepat.

"Mochi, stop it! That's my Abah's shoe lace!" tegur Khalisah sambil berusaha menggendong Mochi yang beratnya sudah mirip karung beras kecil.

Hifni melirik jam tangannya. "Rin, kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus masuk kantor dinas. Kita mampir sebentar ke TK Islami yang kita bicarakan semalam, ya?"

Rina mengangguk, menyampirkan tas kerjanya. "Iya, Bah. Aku sudah tanya-tanya di grup teman-teman guru. Katanya TK Cahaya Bintang itu kurikulumnya seimbang antara akademik dan tahfidz. Cocok buat Khalisah yang mulai senang menghafal."

Mereka bertiga (plus Mochi yang akhirnya ditinggal dengan tatapan melas di balik jendela) meluncur membelah jalanan Barabai. Tak butuh waktu lama hingga mereka sampai di sebuah bangunan berwarna hijau cerah dengan halaman luas yang dipenuhi mainan edukatif. Spanduk besar bertuliskan "Mencetak Generasi Berakhlak Al-Qur'an dan Global" terpampang di sana.

"Wah, ada tulisan Welcome di sana, Ma!" seru Khalisah menunjuk papan sambutan di depan kelas.

Saat mereka melangkah masuk ke area kantor pendaftaran, seorang guru perempuan berpakaian rapi dengan jilbab lebar sedang membelakangi mereka, sibuk mengatur barisan anak-anak yang baru datang.

"Permisi, selamat pagi," sapa Rina sopan.

Guru tersebut berbalik. Detik itu juga, waktu seolah ditarik mundur ke tahun 2013. Hifni dan Rina terpaku. Guru itu pun menunjukkan ekspresi yang sama; matanya membelalak, lalu sebuah senyum lebar merekah.

"Rina? Hifni?" seru guru itu tak percaya.

"Nurul Inayah?" balas Rina hampir bersamaan.

Mereka bertiga tertawa serempak. Nurul Inayah adalah teman sekelas mereka saat SMA. Dulu, Nurul dikenal sebagai siswi pendiam yang paling rajin ikut ekstrakurikuler kerohanian Islam (Rohis), sementara Hifni adalah anggota OSIS yang lebih sering mengurus acara hiburan.

"Ya Allah, sudah berapa tahun ya? Sejak pengumuman kelulusan 2013 kita nggak pernah ketemu lagi!" Nurul menyalami Rina dengan akrab. "Kalian berdua akhirnya... beneran nikah?"

Hifni tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Iya, Nurul. Takdir orang Barabai memang nggak jauh-jauh, ketemunya teman SMA lagi."

"Dan ini putri kalian?" Nurul berjongkok di depan Khalisah. "Cantik sekali. Siapa namanya, Sayang?"

"Khalisah Salsabilla, Aunty. But you can call me Khalisah," jawab Khalisah dengan gaya percaya diri khasnya.

Nurul tampak terkesan. "Wah, jago sekali Bahasa Inggrisnya! Pintar ya, Rina, kamu benar-benar menurunkan ilmu gurumu ke anak."

"Itu dia masalahnya, Rul," sapa Hifni masuk ke inti pembicaraan. "Bahasa Inggrisnya lancar, tapi kami ingin dia juga kuat hafalannya. Di rumah dia sudah mulai hafal beberapa surah pendek, tapi kami butuh lingkungan yang bisa mendukung itu karena kami berdua sering lembur di kantor."

Nurul mengangguk mengerti. "Kalian datang ke tempat yang tepat. Di sini kami punya program 'Hafalan Ceria'. Oh iya, tunggu sebentar. Husna! Sini, Sayang!"

Seorang anak perempuan seumuran Khalisah, dengan jilbab kecil berwarna senada dengan seragam Nurul, berlari menghampiri. Wajahnya sangat mirip dengan Nurul—teduh dan tenang.

"Ini anakku, Husna. Dia juga sekolah di sini," Nurul memperkenalkan putrinya. "Husna, ini teman baru, namanya Khalisah."

Husna tersenyum malu-malu, sangat kontras dengan Khalisah yang langsung mengulurkan tangan. "Husna, do you want to see my cat? Eh, maksudnya... Husna mau main bareng?"

Situasi menjadi jenaka ketika Husna hanya berkedip bingung mendengar istilah asing tersebut, sementara Nurul tertawa. "Khalisah, Husna ini belum jago Bahasa Inggris, tapi kalau soal hafalan, dia sudah mau selesai Juz 30. Nanti kalian bisa saling mengajari, ya?"

Khalisah tampak terkejut. "Selesai Juz 30? Wow, that's a lot!"

Hifni melihat ada gurat kompetisi di mata kecil putrinya. Namun, itu bukan persaingan yang buruk. Ia melihat semangat baru. Di sinilah "Diplomasi Hadiah" Hifni akan bertemu dengan metode pengajaran Nurul yang sabar.

"Rul, titip Khalisah ya," ucap Rina saat bel masuk berbunyi. "Kami harus segera ke kantor. Nanti sore Hifni yang jemput."

"Tenang saja, serahkan pada teman lama," kedip Nurul menenangkan.

Saat Hifni dan Rina berjalan kembali ke mobil, Hifni berbisik, "Nggak nyangka ya, Rin. Lulusan 2013 sekarang sudah punya 'penerus' yang bakal jadi sahabat. Aku rasa ini rencana Allah yang paling keren buat Khalisah."

Rina mengangguk setuju. Namun, dalam hati ia bertanya-tanya: mampukah Khalisah mengejar hafalan Husna tanpa kehilangan keceriaannya? Dan yang paling penting, mampukah Mochi di rumah bertahan seharian tanpa gangguan "guru kecil" kesayangannya itu?

Perjalanan baru Khalisah di TK Cahaya Bintang resmi dimulai, membawa cerita slice of life keluarga PNS Barabai ini ke babak yang lebih berwarna, penuh tawa, dan tentu saja, aroma persaingan sehat memperebutkan mahkota surga.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default