Hubungan Vania dan Lev kini memasuki babak baru: mitra kerja. Setelah pengumuman Lev sebagai konsultan sekolah, suasana di ruang guru terasa lebih hidup. Terutama karena Mia dan Sarah tak henti-hentinya memberikan Vania nasihat-nasihat "strategis" untuk menarik perhatian Lev.
"Van, kamu harus sering-sering nanya ke dia soal proyek," bisik Mia saat mereka sedang makan siang di kantin. "Anggap aja ini momen pendekatan."
"Iya, Van. Tapi jangan terlalu sering juga, nanti kelihatan modus," tambah Sarah. "Coba deh, sesekali kamu panggil dia dengan sebutan 'Kak Lev'. Kan lebih akrab."
Vania hanya bisa menghela napas. "Kalian berdua ini kenapa, sih? Dia konsultan sekolah, aku guru. Profesionalisme di atas segalanya."
"Profesionalisme juga butuh pendekatan personal, Vania," jawab Mia, sambil mengunyah bakwannya. "Lagipula, kan dia sudah mengirimimu pesan di biro jodoh. Berarti dia juga tertarik."
Di sisi lain, Lev sedang berdiskusi dengan Kepala Sekolah tentang proyek yang akan mereka jalani. "Jadi, Pak Lev, kita akan mengadakan lomba proyek sains dan teknologi untuk siswa-siswi kita. Bagaimana menurut Anda?"
"Saya setuju, Bu Kepala Sekolah. Ini bisa memicu kreativitas mereka," jawab Lev. "Kebetulan, saya ada ide. Bagaimana kalau kita tambahkan elemen kearifan lokal? Misalnya, proyeknya berhubungan dengan sungai atau hutan di Banjarmasin?"
"Ide yang bagus, Pak Lev! Tapi... siapa yang akan menjadi pendamping proyek ini?" tanya Kepala Sekolah.
Lev tersenyum. "Saya rasa, Ibu Vania adalah orang yang tepat. Beliau guru teladan, dan saya lihat beliau sangat dekat dengan murid-muridnya."
Kepala Sekolah mengangguk. "Kalau begitu, saya setuju. Saya akan sampaikan langsung kepada Ibu Vania."
Vania dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Di sana, sudah ada Lev dan Kepala Sekolah.
"Ibu Vania, saya dan Pak Lev sudah berdiskusi, dan kami putuskan untuk mengadakan lomba proyek sains dan teknologi. Pak Lev memberikan ide untuk menambahkan elemen kearifan lokal. Dan Pak Lev juga mengusulkan Ibu sebagai pendamping proyek ini," ujar Kepala Sekolah.
Vania terkejut. "Saya, Bu?"
"Iya, Ibu Vania. Saya percaya Anda punya potensi besar. Dan saya yakin, dengan bimbingan Pak Lev, proyek ini akan sukses," kata Kepala Sekolah, lalu pergi, meninggalkan Vania dan Lev berdua di ruangan itu.
"Jadi... kita akan bekerja sama," kata Vania, merasa canggung.
"Iya," jawab Lev, matanya menatap mata Vania. "Saya harap Anda tidak keberatan."
"Tidak sama sekali," Vania memaksakan senyum. "Ini kesempatan bagus untuk belajar."
Lev tersenyum. "Kalau begitu, kita mulai dari mana?"
Vania dan Lev mulai berdiskusi. Mereka membicarakan konsep proyek, waktu pelaksanaan, hingga ide-ide kreatif yang bisa diterapkan. Vania merasa kagum dengan cara berpikir Lev yang terstruktur dan inovatif. Lev juga kagum dengan Vania yang memiliki ide-ide segar dan menarik.
"Bagaimana kalau kita adakan lomba perahu-perahuan dari bahan daur ulang?" Vania mengusulkan. "Nanti kita adakan di Sungai Martapura."
"Ide yang bagus!" Lev bersemangat. "Kita juga bisa tambahkan lomba membuat miniatur rumah adat Banjar dari bahan daur ulang."
Diskusi mereka berjalan dengan lancar. Keduanya tenggelam dalam obrolan tentang proyek sekolah, sesekali diselingi tawa saat ide-ide konyol muncul. Vania merasa nyaman di dekat Lev. Ia merasa Lev tidak melihatnya sebagai "Ratu Bebek" yang ceroboh, tapi sebagai rekan kerja yang setara.
Saat diskusi selesai, Lev menatap Vania. "Terima kasih, Vania. Saya senang bisa bekerja sama dengan Anda."
Vania tersenyum. "Sama-sama, Pak Lev."
Lev tersenyum, lesung pipinya terlihat samar. "Mulai sekarang, panggil saya Lev saja."
Vania merasa pipinya memanas. "Lev..."
"Iya, Vania," jawab Lev.
Vania tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa bersikap profesional di depan Lev, dan semoga ia tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu Lev Ryley.
