Bab 26: Kembali ke Rumah yang Penuh Keraguan

Bab 26: Kembali ke Rumah yang Penuh Keraguan

Lev
0

Dengan sebuah janji yang menggantung di udara, Lyra kembali ke hutan Fae dan Brokk kembali ke pegunungan Neander. Sementara itu, Kael dan Elara memulai perjalanan pulang ke wilayah Human. Perjalanan mereka terasa berbeda; tidak ada lagi beban ketegangan antar fraksi, namun kini digantikan oleh beban misi yang terasa mustahil: menyebarkan pesan pemaafan ke fraksi yang penuh intrik dan curiga.

Kael merasa gema jiwanya beresonansi dengan Elara, seolah-olah gema itu memanggilnya pulang. Perjalanan mereka tidak terlalu cepat, karena Elara masih dalam tahap pemulihan dari pengalaman traumatisnya. Mereka berjalan santai, melewati padang rumput yang luas dan hutan-hutan yang akrab. Namun, kali ini, Kael melihat segala sesuatu dengan pandangan berbeda. Gema dari setiap pohon, setiap bunga, setiap batu, terasa lebih jelas. Ia bisa merasakan kehidupan yang mengalir di setiap hal.

Setelah beberapa hari, mereka tiba di perbatasan wilayah Human. Di sana, mereka bertemu dengan sekelompok patroli Human. Kael mengenali salah satu dari mereka, seorang prajurit tua bernama Markus.

"Kael!" seru Markus, terkejut. "Kau masih hidup! Kami pikir kau sudah tiada. Dan ini... bukankah ini Elara?"

Kael mengangguk. "Ya, Markus. Aku kembali. Dan Elara bersamaku."

Markus memeluk Kael, tetapi ia juga memandang Elara dengan curiga. "Kami mendengar kabar tentang serangan Mortii. Kami juga mendengar tentang seorang pembuat kartu yang pergi bersama peri hutan dan Neander. Apakah itu kau?"

Kael mengangguk. "Itu aku. Aku bisa menjelaskan semuanya, Markus."

Markus mengantar Kael dan Elara kembali ke kota mereka, Havenwood, yang sedang dalam tahap pembangunan kembali. Kota itu masih dipenuhi puing-puing, tetapi semangat penduduknya masih kuat. Kael disambut seperti pahlawan, tetapi Kael tahu ia bukan pahlawan. Ia hanyalah seorang pembuat kartu yang ingin mengembalikan adiknya.

Kael dan Elara dipanggil menghadap Dewan Kota, yang dipimpin oleh seorang bangsawan tua yang bijaksana, Lord Valerius. Kael menceritakan semua yang ia alami: serangan Mortii, perjalanannya dengan Lyra dan Brokk, pertemuan dengan Malakor, jebakan, dan penemuan Heart of the Sanctuary dan bijak Kili Suci.

"Kekuatan kuno?" tanya Lord Valerius, suaranya dipenuhi keraguan. "Pemaafan? Kau mengharapkan kami untuk memaafkan Mortii, setelah semua yang mereka lakukan? Setelah mereka menyerang kami?"

"Ya," jawab Kael. "Karena kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Kekuatan kuno itu memanipulasi kita semua. Kita tidak bisa membalasnya dengan kebencian. Kita harus membalasnya dengan pemaafan."

Dewan Kota terdiam. Mereka melihat ke arah Elara, yang mengangguk. Mereka melihat kejujuran di mata Kael, tetapi mereka juga melihat keanehan. Kael, yang dulunya hanya seorang pembuat kartu, kini berbicara tentang pemaafan dan kekuatan kuno.

"Kami butuh waktu untuk memikirkannya, Kael," kata Lord Valerius. "Kau sudah melalui banyak hal. Beristirahatlah. Kami akan memanggilmu lagi ketika kami sudah mengambil keputusan."

Kael dan Elara meninggalkan ruang dewan, dan Kael merasa lega. Ia telah menyampaikan pesannya. Sekarang ia hanya perlu menunggu. Namun, ia tahu menunggu tidak akan mudah. Ia bisa merasakan gema keraguan dan kebencian dari gema jiwanya. Ia tahu bahwa ia harus berjuang lebih keras untuk meyakinkan mereka. Ia harus menunjukkan kepada mereka bahwa ada jalan lain selain perang.

Malam itu, Kael dan Elara duduk di balkon rumah mereka yang baru, memandangi bintang-bintang. Kael menggenggam kartu Elara, dan gema dari kartu itu memberinya kekuatan. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Elara, dan ia memiliki kekuatan harapan yang ia temukan. Ia akan berjuang, untuk kedamaian, untuk pemaafan, dan untuk mengembalikan Terravia ke masa lalu yang harmonis.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default